Bab 14

1360 Words
Vivia duduk dikursi yang tersedia di lorong sekolah, menunggu kedatangan sahabatnya yang tidak kunjung datang. Via sengaja berangkat lebih pagi untuk menanyakan apa hukuman yang ditentukan oleh Bu Berta pada Nayra. Beberapa kali dihubungi pun ponsel Nayra tidak aktif, gadis itu hanya membalas nya dengan mengirim pesan "aku sibuk". Terlihat dari depan sana, Raya dan Nia yang baru sampai berjalan bersamaan. Mereka tampak tertawa riang. Vivia berdiri seketika, menyambut keduanya sambil tersenyum senang. "Hai guys?" Sapa Vivia sambil berjalan mendekati mereka. Raya dan Nia saling lirik, memberi isyarat lewat mata dengan dahi mengkerut. Keduanya membalas senyuman Vivia saat gadis itu sudah bergabung dengan mereka. "Kalian kenapa gak ajak gue?" Tanya Vivia, membuat Raya dan Nia saling lirik tidak mengerti. "Ajak apa?" Nia balik bertanya. Vivia menunjukan story Raya di aplikasi hijau, mereka sedang mengunjungi cafe baru tanpa mengajak Via maupun Nayra. Raya mendelik "Diajak juga paling nolak. Lo kalau kita ajak nongkrong pasti harus ada Nayra, satu temen lo itu kan sibuk terus. Makanya, dari pada ribet, kita pergi berdua aja." Jawab Raya tanpa peduli perasaan Vivia kali ini. "Kita kan bisa atur waktu, biar bisa nongkrong bareng." Kata Vivia menahan rasa kecewa. Nia dan Raya adalah teman seperjuangannya, dari Sekolah Menengah Pertama sampai sekarang, sedangkan Nayra itu teman yang ia kenal saat awal penerimaan siswa baru. "Lo kalau mau nongkrong gak sama kita juga kayaknya gak jadi masalah deh! Lagian, kalau nongkrong sama-sama juga suka asik masing-masing." Balas Nia. Via menatap keduanya "kok gitu. Kalian kan sahabat gue!" "Sahabat lo cuma Nayra." Ucap Raya membuat Via terdiam. "Semenjak lo temenan sama Nayra, lo sering susah diajak, gak bisa bantuin kita kalau kita sibuk, gak bisa traktir kita lagi, dan gak bisa antar jemput kita kalau kita lagi males pergi." Ucap Nia dengan muka berubah sinis. "Gue kan cape kalau bolak-balik antar jemput kalian." Kata Vivia setengah bingung. Mereka ini sahabat atau hanya sebatas memanfaatkan. Via ini memang termasuk golongan keluarga berada, jadi tidak heran apa-apa harus dari Vivia. "Ya gimana ya? Kalau mau gabung sama kita dari dulu juga gitu kan? Kenapa sekarang ngeluh cape?" Kata Raya seraya menatap Via tajam. Sebenarnya Raya dan Nia memang tidak terlalu suka dengan Via yang kadang seperti anak kecil, sok polos, dan lugu. Penampilan yang tidak bisa modis. Raya dan Nia lebih suka jalan-jalan, shopping atau melakukan hal yang sedang viral di media sosial. Mereka selalu anggap Via norak, apalagi semenjak Via dekat dengan Nayra. Tidak suka diajak jalan terlalu lama apalagi sampai malam, disekolah kebanyakan nongkrong di perpus, gaya pakaian yang kebanyakan tertutup, dianggap tidak gaul. Via hanya diam tidak mampu menjawab. "Sebenarnya kita ini gak sefrekuensi Vi, lo gak gaul kayak kita, waktu lo terbatas kalau kita ajak main, lo antusias sama buku dan pelajaran, gaya lo kalau keluar aja norak, bahkan kesukaan kita banyak yang beda, entah film, musik, tempat nongkrong atau apapun, kalau kita bahas salah satunya, lo pasti gak nyambung." Raya mulai mengatakan satu persatu yang yang membedakan mereka. Persahabatan yang cukup lama itu sudah renggang dari dulu. Via tidak menyangkal semua hal itu. Memaksakan bergabung dengan mereka yang sama sekali tidak memiliki kesamaan dengannya. Dulu, bagi Via yang terpenting memiliki teman dari pada luntang lantung sendirian, ternyata pilihannya salah besar. Via tersenyum miris memandangi keduanya, berteman dengan mereka pun terpaksa, demi melindungi diri dari para perundung, ternyata sama saja, tidak ada bedanya. Via mengangguk "Sorry kalau gue gak bisa setara sama kalian. Dari dulu sampai sekarang pun gue gak bisa menyesuaikan diri sama kehidupan dan gaya hidup kalian." Ucap Via penuh penyesalan. Raya dan Nia tersenyum puas, mengangguk anggukan kepala, berpikir Via akan kembali menurut dan bisa seperti dulu yang bisa mereka jadikan b***k demi kembali berteman baik dengan mereka. "Gue gak terbiasa pura-pura sok kaya, bergaya dengan memaksakan keadaan padahal bukan orang mampu, gue gak terbiasa punya nilai jelek dan leha-leha kayak kalian, gue juga gak terbiasa pulang malam, nongkrong sana sini gak jelas, kehidupan gue teratur. Dari dulu kita memang gak setara, kalian bela-belain ngancam orang tua demi bisa jalan bareng temen di cafe terkenal, sedangkan gue, mau apa aja gak perlu ngerengek atau nangis-nangis dulu. Gue orang berada, seharusnya gue sadar dari dulu kalau kalian itu gak selevel sama gue. Makasih karena udah ingetin itu." Ujar Via panjang lebar dengan hati begitu ringan. Tidak ada beban, tidak ada penyesalan, dan tidak ada rasa tidak enak hati karena perkataan nya yang mungkin sedikit berlebihan. Raya dan Nia malah terdiam seraya menahan marah. Mendengar kenyataan yang mereka lupakan. Kini Via mengingatkan perbedaan yang bahkan sangat jauh diantara mereka. Bukan Via yang tidak bisa menyetarakan diri dengan mereka, tapi memang Via tidak bisa hidup sebebas mereka, dia lebih suka hidup dengan aturan yang benar. Via memilih berteman dengan mereka saja demi menyamarkan kehidupannya, takut dibilang sombong atau tidak bisa menyesuaikan diri dengan kalangan menengah. Jangan salahkan Via kini dirinya blak-blakan mengatakan kesetaraan, atau perbedaan kalangan. Dari dulu pun Via tidak pernah mau membahas hal sensitif itu. Mereka nya saja yang u. "Anggap saja kita gak pernah berteman. Apa yang kalian bilang juga bener, sahabat gue cuman Nayra. Hidup sama orang yang sok kaya itu susah ternyata ya? Maunya cuman manfaatin orang aja, sendirinya padahal gak ada manfaatnya." Sindir Via seraya membenarkan letak kacamatanya. Kini Via berani mengangkat kepala melawan sahabat nya, ralat mantan sahabat. Raya tidak terima "Jaga ucapan lo ya!" Gadis itu mendekat kearah Via dengan mata marah. Via dengan berani mengikis jarak di antara mereka "Kenapa? Lo gak bisa Nerima kenyataan? Selama ini gue baik ke kalian juga gak dihargain kan? Kalian malah jadiin gue sapi perah." Ucapnya dengan lantang. Nia celingukan memastikan keadaan, belum terlalu banyak orang, Nia sampai panik takut ada orang lain yang dengar dan mengejek mereka. "Ya terus kenapa lo mau?" Balas Raya semakin tersulut. "Karena gue bodoh. Gue anggap kalian sahabat." Raya berdecih seperti meremehkan "Lo emang bodoh karena anggap kita sahabat, kita mah gak pernah anggap lo sahabat." Nia mendelik "Gak usah di bales terus deh, Ray." Ucap Nia memperingati. Via mengangguk paham "Kalau gitu, balikin semua uang yang kalian berdua pinjam, barang yang udah gue kasih secara cuma-cuma. Kita udah bukan sahabat lagi kan. UPS, ralat. Memang bukan sahabat." Via melipat tangannya, menatap keduanya puas. Nia panik, Raya diam. "Barang yang udah dikasih gak bisa dikembalikan." Kata Raya begitu enteng. "Oh, gitu ya? Ya udah, uangnya aja. Kalian pinjem uang ke gue udah hampir lima juta per orang, belum lagi tas branded yang gue kasih waktu kalian ulang tahun, itu juga masih terbilang murah, Lima juta." Via berubah menjadi orang yang perhitungan. Andai Raya dan Nia tidak menyepelekan nya, tidak memanfaatkan nya, dan tidak berkata buruk dan jahat padanya, dia tidak akan meminta uang atau benda yang sudah ia beri dan pinjamkan. Ia akan mengikhlaskannya. Nia menarik tangan Raya kuat"Gue gak punya uang segitu." Bisiknya dengan nada panik. Raya menatap Via tajam. "Perhitungan banget jadi orang." "Katanya lo kaya. Gak masalah dong kalau gue ambil hak gue, uang yang lo pinjam. Kalau masalah tas, okelah, gue relain. Tas doang kan? Siapa tahu setelah ini lo gak kebeli barang yang lebih mahal dari tas yang gue beli itu." Sombong Via. Dalam hati gadis berkacamata itu merutuki dirinya sendiri, dia bukan orang yang sombong sebenarnya, bukan orang yang suka mengagungkan harta atau jabatan. Ia hanya mengeluarkan rasa kesal dan kecewa atas perlakuan kedua gadis di depannya. Dia tidak mau terus-terusan di manfaatkan hanya karena dirinya terlalu baik dan selalu manut saat diperintah. "Sombong lo jadi orang. Harta itu titipan, bukan selamanya bisa lo miliki." Raya lagi-lagi berucap, tidak mau kalah. Matanya sudah terlihat cukup ketakutan. Via tahu keduanya tidak akan sanggup mengembalikan uang tersebut. "Yang sombong kan gue, repot banget sih. Lagian mengembalikan uang yang dipinjam itu KEWAJIBAN. Itu terhitung HUTANG. Oh iya, karena harta itu titipan, makanya gue mau lo berdua balikin uangnya, karena mau gue balikin ke nyokap gue." Ingin rasanya Vivia mentertawakan wajah mereka, tapi urung saat matanya melihat Nayra yang baru datang. "Batas waktunya sampai lusa, kalau sampai uang itu gak balik, gue umum in ke satu sekolah kalau lo itu punya hutang sama gue, biar sekalian satu sekolah ingetin lo buat bayar hutang. Inget!" Via mengancam mereka, kemudian berlalu menghampiri Nayra dengan wajah sumringah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD