Bab 15

1248 Words
Nayra mengernyitkan dahi saat Vivia menghampirinya dengan senyum lebar "Pagi sahabat?" Sapa nya seraya merangkul bahu Nayra. "Lo habis dapet door prize ya? Lebar banget senyumnya!" Ujar Nayra pada Vivia. Mereka berjalan bersama, melewati Nia dan Raya yang terlihat kesal. Nayra bingung seketika, menoleh kepada dua orang yang mereka lewati. "Nia sama Raya_" belum selesai kata yang diucapkan Nayra, Vivia terus menarik Nayra untuk tetap berjalan dan tidak menghiraukan mereka. "Udah, biarin aja." Dahi Nayra mengkerut "Lo lagi ada masalah sama mereka? Bukan karena gue kan?" Nayra menghentikan langkahnya tiba-tiba dan menatap Vivia. Via menggelengkan kepalanya "Bukan." "Terus?" Tangan Vivia terangkat menyentuh bahu Nayra dengan mata menatap dalam ke mata Nayra "Nay, lo sahabat gue kan?" Nayra mengangguk. "Lo gak akan ninggalin gue dan berkhianat sama gue kan?" Nayra menggeleng "Khianat dalam bentuk apa?" "Entah itu gak terbuka, ngomongin gue dibelakang, manfaatin gue dan jenis-jenis khianat lain nya." Tambah Vivia. "Gue bukan orang kayak gitu." "Gue tahu, makanya gue percaya sama lo." *** Waktu masih menunjukan pagi hari, jam masuk belum pada waktunya membuat Nayra dan Vivia memilih duduk dikantin untuk melanjutkan pembicaraan mereka yang tidak jelas saat bertemu di lorong kelas tadi. "Lo tahu belum kalau Raya dan Nia itu bukan benar-benar orang berada?" Ucap Via sambil berbisik. Tidak banyak orang dikantin, hanya sebagian yang sedang sarapan. Takut perkataannya didengar orang lain membuatnya duduk merapat dengan Nayra. Nayra diam. Teringat sebuah pertemuan yang sudah cukup lama terjadi, membuat Nayra harus pura-pura tidak tahu sampai saat ini. * Nayra berjalan memasuki g**g kecil dengan membawa kantong kresek ditangannya berisi kebutuhan dapur. Itu bukan barang miliknya, melainkan barang milik temannya yang dititipkan padanya dan memintanya untuk diberikan kepada orang tuanya. Temannya belum bisa pulang karena sesuatu hal hingga meminta pertolongan nya. Nayra yang sedang tidak cukup sehat pun memaksakan diri untuk meringankan beban temannya tersebut walau harus pergi dengan memakai masker. Kala itu Nayra baru masuk di supermarket tempat nya bekerja sekarang, hanya dengan cara manut pada yang lebih senior supaya dia tidak dimutasi sebelum ia bekerja. Sip kerja nya tetap sama, di jam kedua. Tidak disangka, alamat yang ia tuju bertetanggaan dengan rumah yang ditinggali Raya. Rumah kecil nan sederhana. Nayra cukup lama berada dirumah orang tua rekan kerjanya, karena memberi kesempatan kepada orang tua temannya itu untuk menelepon, karena ponsel mereka sedang bermasalah. Seorang ibu yang tidak lain ibu temannya itu mengembalikan ponselnya. "Aku minta uang pak, aku mau jalan sama temen. Mereka ajak aku nongkrong!" Seorang gadis keluar dari rumah tetangga dengan penuh gaya. Bapak tua yang sedang duduk sambil membuat sapu lidi itu menoleh. "Bapak gak punya uang. Besok kalau bapak ada uang bapak kasih!" Katanya samar. Gadis itu menoleh kerumah yang sedang ia singgahi. Nayra dengan cepat menunduk sambil membenarkan masker yang ia kenakan. "Namanya Raya. Dia masih SMA, tapi suka kasar sama orang tuanya. Banyak menuntut, mementingkan gaya dan gengsi. Suka minta uang banyak, padahal bapak nya cuman tukang sapu lidi, cukup untuk makan saja sudah Alhamdulillah." Kata ibu disampingnya. Seorang ibu-ibu muncul sambil membawa gendongan, mendekat kearah Raya sambil memberikan uang seratus ribu beberapa lembar "Ambil ini dan bayar hutang pada teman yang kamu pinjami uang nya." Kata beliau dengan suara meninggi. Raya mengambil uangnya "Gak mau. Dia nya aja ngasih secara cuma-cuma kok, lagian dia itu orang kaya, uangnya pasti banyak. Uang yang aku pinjem pasti gak seberapa buat dia." Ucap Raya enteng. "Enteng banget kamu ngomong. Ibu sama bapak capek harus memenuhi gaya sama gengsi kamu." Ibunya marah. Dan anehnya, Nayra masih anteng menyaksikan. "Salah siapa gak bisa memenuhi semua apa yang aku mau?" Raya mengangkat dagunya. "Kalau mau semua keinginan kamu terpenuhi, kamu saja yang kerja, jangan mengandalkan usaha kami yang hanya cukup untuk kamu makan." Ujar bapaknya tanpa menoleh pada gadis yang merupakan puterinya itu. * Nayra menatap Vivia, kilasan itu sudah jelas bahwa selama ini Raya berbohong. Nayra tidak ingin menjelaskan apapun, karena itu bukan hak dia. "Memangnya kenapa?" Tanya Nayra sedikit curiga. "Kali aja kamu belum tahu." Nayra hanya tersenyum tipis tanpa berkomentar. Vivia menopang dagunya "Gak nyangka aja mereka bisa santai kayak gitu, pura-pura kaya." "Itu urusan mereka." Ucap Nayra. Vivia menatap Nayra sekilas. "Kemarin mereka jalan tanpa ajak gue. Terus bilang gue gak sefrekuensi sama mereka. Padahal harusnya mereka nanya dulu, menawarkan gue mau ikut atau enggak, mau jawabannya iya atau enggak." Curhat Vivia pada Nayra. Kini Nayra mengerti kenapa Vivia terlihat acuh saat bertemu dengan kedua sahabatnya. Ada sedikit kesalahan pahaman. "Yang gue gak terima, mereka selalu nolak kalau gue ajak lo gabung. Karena menurut mereka gue sama lo gak bisa bebas nongkrong atau main sepuasnya. Mereka canggung kalau ada lo, karena lo kalau jalan atau makan selalu pake uang lo sendiri, sedangkan mereka selalu mau gue yang bayarin." Jelasnya lagi mengutarakan ke kesalan yang ia miliki terhadap Raya dan Nia. Nayra mulai merasa tidak enak, karena kehadiran nya, pertemanan Vivia yang sudah cukup lama harus renggang karena nya. Dia tidak tahu akan sejauh itu. Nayra hanya teman yang baru kenal saat penerimaan siswa baru di SMA, sedangkan Raya dan Nia lebih dulu mengenal Vivia dibanding dirinya. "Kalau gitu, lain kali lo gak usah ajak gue." Ucap Nayra tiba-tiba membuat Vivia menatap sahabatnya itu seketika. Tatapan tajam terarah pada Nayra. "Gak bisa dong. Lo mau gue terus-terusan dimanfaatin mereka? Kalau pun gue ikut, gue selalu dicuekin. Mereka baik cuman waktu ada butuhnya aja. Pas ada yang mereka mau atau pas mereka ada yang harus dibayar." Balas Vivia setengah marah. Dahi Nayra mengernyit "Terus kenapa lo tahan sahabatan sama mereka, cukup lama bahkan." Vivia memanyunkan bibirnya "Karena gue pikir, kalau mau punya temen itu ya harus ngorbanin apapun buat mereka, royal sama mereka, ngabulin apapun yang mereka mau, supaya mereka mau bertahan sama gue. Sampai gue ketemu lo, ternyata hal semacam itu gak perlu kalau orangnya tulus." Tambah Vivia seraya menatap gadis di depannya dengan sendu. "Gue bingung mau ngomong apa." *** Via dan Nayra berjalan beriringan menuju kelas, wajah Vivia masih terlihat sedih karena persahabatan yang cukup lama harus hancur. "Dari pada lo sedih terus, gimana kalau istirahat nanti gue traktir makan sama minum?" Tawar Nayra membuat Vivia menoleh dengan wajah sumringah. "Lo habis gajian ya?" Vivia menarik turunkan alisnya menggoda. Nayra merangkul bahu Vivia "Anggap aja gitu." Vivia tersenyum bahagia "makasih," katanya. "Terus gimana sama hukuman lo?" Nayra terdiam merasakan ketidak sanggupannya dengan hukuman yang diberikan Bu Berta kali ini. "Gue disuruh bantuin bawa peralatan olahraga setiap ada kelas yang ada jadwal olahraga. Malu tahu harus ketemu Kakak kelas atau kelas lain yang gue gak kenal." Vivia mengangguk setuju "Iya sih." *** "Gue gak punya uang, Ray!" Ucap Nia kepada Raya. Mereka berbicara setengah berbisik, Raya diam. Wajah panik Nia begitu kentara, apalagi saat Vivia menagih uang yang pernah mereka pinjam sebelumnya. "Mama pasti marah kalau tahu gue pinjem uang segitu banyak." Lanjut Nia mengoceh. Gadis itu tengah kebingungan bagaimana cara dia mendapatkan uang dengan jumlah banyak. Raya mendelik tajam kearah Nia "Lo bisa diem gak?" Bentak gadis itu. Nia terhenyak kemudian menutup mulutnya dengan hati berubah kesal. "Lo pikir, lo aja yang pusing?" Nia membalas tatapan Raya "Andai lo gak ajak-ajak gue buat pinjem uang, pasti gak akan kayak sekarang. Gue harus cari uang kemana buat bayar?" "Gak usah nyalahin gue. Ngapain lo setuju waktu itu, uangnya juga lo pakek juga kan?" Ujar Raya tidak terima. Mereka meminjam uang pada Vivia memang sudah saling sepakat, lalu kenapa Nia malah menyalahkan nya saja. Nia mengusap wajahnya kasar. "Gue gak nyangka kalau Vivia bisa berani buat nagih uang yang udah dia kasih." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD