Bab 8

1030 Words
"Mau kemana bang?" Tanya Naura, gadis itu baru sampai dan berpapasan dengan Rafka yang hendak pergi. Rafka membenarkan jaket yang dikenakannya seraya menggenggam kunci motor. "Mau keluar." Jawabnya singkat. Naura hanya mengangguk, berjalan melalui abangnya. "Kamu gak ngomong apa-apa ke Nayra kan?" Tangan yang siap untuk membuka pintu pun turun kembali. Naura berbalik menatap abangnya yang sudah berdiri menghadap kearahnya. "Maksud abang?" Tatapan Naura justru membuat Rafka yakin. "Kalian gak akan mungkin berkelahi tiba-tiba kalau tidak ada perkataan kamu yang nyakitin dia. Kamu ngomong apa ke Nayra?" Ucapan Rafka menyudutkan Naura tanpa mendengar penjelasan adiknya tersebut. "Abang kok nuduh aku?" "Terus harus nuduh siapa?" Terlihat Naura mendelik tidak suka "Abang kan tahu Nayra itu bandel, suka bikin masalah. Dari perkataan aku aja udah jelas dong siapa yang salah!" Naura berusaha membela diri. "Sama orang lain, mungkin. Tapi sama kamu, Abang tahu sifat kamu, ya! Nayra gak akan mau berurusan sama kamu karena dia tahu Abi akan marah sama dia. Kecuali kalau kamu sendiri yang mancing Nayra." Rafka tidak henti-hentinya menyudutkan Naura demi mendapatkan kejelasan dari permasalahan kedua adiknya sampai bisa berkelahi disekolah. Naura marah karena merasa disalahkan "Aku gak suka ya, Abang terus-terusan bela Nayra. Aku juga adik kamu, bang. Gak adil banget buat aku kalau aku doang yang disudutkan. Dari dulu abang selalu nyalahin aku. Abang benci sama aku karena buat Nayra di benci abi? Itu juga karena aku belain kamu dan nutupin kelakuan bejad kamu sama adik sendiri. Bukannya berterima kasih." Cerocos Naura mengungkapkan semua ketidaksukaannya terhadap perlakuan Rafka padanya. Rafka mengepalkan tangannya, menarik dagu Naura sampai membuat gadis itu terdiam. Rafka menekan rahang Naura kuat. "Apa yang harus diterima kasihi? Bukannya bagus kalau Abi tahu kelakuan bejad gue?" Mata Naura berkaca-kaca. Mulut Rafka terbuka untuk kembali berucap, tapi umi tiba-tiba membuka pintu dan melihat perlakuan kasar Rafka "Eh, kamu ngapain?" Rafka dengan cepat melepaskan tangan itu dari dagu Naura. Naura menunduk dan langsung mendekati umi untuk bersembunyi. "Kamu mau kemana?" Tanya umi pada Rafka yang pergi tanpa pamit. "Pergi." *** "Gak mau pulang dulu?" Tanya Via dari atas motor melihat Nayra yang tersenyum kepadanya. Mereka berhenti tepat di depan sebuah mini market. Nayra menggeleng "Gak perlu lah, udah biasa juga. Kalau balik dulu, entar gue telat masuk lagi!" Vivia yang mengantar Nayra hanya bisa mengangguk. "Semangat kerja nya ya?" Gadis dengan kacamata itu memberi semangat kepada Nayra. Nayra bekerja sebagai pegawai mini market sudah cukup lama dan Vivia tahu itu. Hanya saja jarak dari sekolah cukup jauh, membuat Nayra terkadang mengeluh. Nayra sengaja mencari tempat kerja yang jauh dari sekolah juga rumahnya, demi menghindari cibiran juga kemarahan orang rumah dan teman-teman di sekolahnya. "Kalau pulang, lo boleh kabarin gue, nanti gue jemput." Kata Vivia menawarkan diri. Nayra malah terkekeh "Gak usah. Gue pulang pasti malem, sekitaran jam sepuluh." Jelas Nayra, wajah Vivia memberengut. "Emang lo selalu pulang malem, kan? Lo gak bisa kebagian sip pagi karena lo sekolah." Nayra diam karena itu kenyataan nya. "Bokap lo gak marah? Lo kerja udah setengah semester disekolah, lho!" Tanya Vivia penasaran. Panas matahari tidak menghalangi mereka untuk sekadar mengobrol didepan minimarket. "Marah sesekali, kalau gue ketahuan. Kalau enggak, ya aman-aman aja." Katanya santai. "Udah, gih pulang. Besok ketemu gue lagi." Vivia memberengut "Oke. Hati-hati ya?" Via melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Motor yang dikendarai Via pun melaju pergi dan menjauh. "Nay? Ada barang masuk." Teriak gadis sebayanya dari arah pintu mini market. Nayra berbalik dan berlari menghampiri gadis tersebut. "Banyak?" Tanya Nayra memastikan. "Lumayan." Jawab gadis tersebut. Nayra melirik mobil yang membawa barang baru, terlihat pekerja laki-laki sedang menurunkan barang dan menyimpan nya ke gudang. "Oke deh. Aku ganti baju dulu." Nayra baru saja ingin pergi, rekan kerjanya berkata "Malam ini kita bisa pulang lebih awal. Bos yang bilang!" Nayra tersenyum senang sambil mengangguk kemudian pergi untuk berganti pakaian melalui pintu belakang. *** Nayra sudah berganti baju seragam mini market dengan ciri khas warna kemeja biru, kuning, merah. Gadis itu sedang menghitung jumlah barang yang masuk. Bekerja di bagian gudang dan pengecekan membuatnya harus bekerja ekstra, fokus yang tidak boleh dibagi. "Ada yang kurang?" Seseorang datang, berdiri tegap disamping Nayra sambil memperhatikan tukang yang sedang memasukan barang baru. "Hanya beberapa. Pempers ukuran L dan XL barangnya belum datang, yang lain sepertinya cukup. Kalau ada yang kurang nanti saya chek lagi." Ujar Nayra menjelaskan sambil menceklis barang yang dikiranya sudah masuk. Pria di samping Nayra adalah seorang manager. Pria dewasa yang cukup disegani karena ketelitian dan kedisiplinan nya dalam bekerja. Nayra cukup canggung setiap kali diperhatikan saat bertugas. "Baiklah. Kerjakan apa yang sebaiknya kamu kerjakan." Katanya kemudian pergi. Nayra seketika menghembuskan nafasnya lega. "Pak Arya vibes nya nakutin gak sih?" Sosok lain datang menggantikan pak Arya yang pergi. Perempuan dengan rambut di cepol rapih itu menghampiri Nayra seraya berbisik. Perempuan sama yang memanggil Nayra saat di depan minimarket tadi. "Hantu kali ah!" "Ngomong-ngomong, mbak Nana ngapain disini?" Nayra bertanya pada perempuan disampingnya dengan santai. Tangannya tidak berhenti bergerak di atas kertas yang penuh dengan tulisan. "Mau minta list barang yang kurang, di depan udah banyak yang belum diisi." Nana mengulurkan tangan meminta apa yang ia sebutkan barusan. Nayra memberikan selembar kertas "Isi bagian persabunan dulu, barangnya minta sama bang Ridho, sekalian tolong dibantu bawa ke depan, biar mbak Nana gampang ngatur dan beresinnya." Ujar Nayra terlihat begitu profesional, walaupun Nana lebih tua dua tahun darinya, tapi dia baru bekerja dua bulan. Bisa dibilang Nayra adalah senior. Nayra menutup buku yang ia pegang, berniat untuk pergi "Mau kemana?" Tanya Nana. "Mau check expired Snack sama minuman, terus apa aja yang kurang supaya bisa langsung dimasukan barang yang baru." Jelasnya kemudian berlalu. *** "Mbak?" Seorang pemuda berjaket berdiri di depan lemari pendingin sambil memanggil seorang pegawai minimarket. Seorang gadis datang, tanpa menoleh, pemuda itu bertanya "s**u kotak rasa coklat ukuran besar, ada? Di lemari pendingin tidak ada." Katanya seraya meneliti barang yang ia mau, tapi tetap tidak bisa ia temukan. Gadis itu belum sadar, dia ikut mencari, membuka pintu lemari pendingin lebih lebar "Barang nya ada, tapi sepertinya belum dimasukan. Kalau mas nya mau, saya bisa ambilkan, hanya saja barangnya tidak dingin." Ujar pegawai tersebut sambil berdiri. Saat mendongak dan tersenyum sopan pada pembeli di depannya, senyum itu tiba-tiba luntur "Kamu ngapain disini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD