Umi Aminah masuk kedalam kamar sepulang dari sekolah dengan raut wajah sedih. Abi Karim yang sedang beristirahat di atas tempat tidur pun tidak luput melihat ekspresi istrinya yang tidak enak dilihat itu.
"Kenapa?" Tanya Abi seraya merubah posisi menjadi duduk. Umi memilih duduk di ujung ranjang dengan tangan saling bertaut, gelisah.
"Ada apa disekolah? Naura nya ada?" Tanya beliau lagi saat tidak mendapat jawaban dari sang istri. Umi menunduk dalam. Beliau seperti ragu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Abi, karena umi sebelumnya mengatakan pergi ke sekolah ada urusan dengan Naura, bukan karena panggilan dari guru BK.
"Umi?"
"Kenapa abi gak boleh orang lain tahu kalau Nayra anak kita juga?" Ucap umi tiba-tiba sambil membalikan badan, memperlihatkan linangan air mata kepada suaminya. Abi dengan cepat mendekati istrinya, duduk disamping wanita yang ia cintai itu.
"Kenapa menangis? Ada masalah apa? Naura sakit? Atau kenapa?" Umi diserbu dengan banyak nya pertanyaan tanpa menghilangkan perhatian. Usapan di pipi dari tangan kokoh suaminya itu terasa hangat.
"Jawab pertanyaan ku. Kenapa kita tidak boleh mengakui Nayra sebagai anak kita?" Tangan yang awalnya mengusap air mata di pipi istrinya itu turun secara perlahan.
"Kenapa menanyakan itu tiba-tiba? Kamu kan tahu alasannya. Aku gak mau Naura terbawa buruknya sifat Nayra."
"Tapi Nayra butuh kita. Kalau suatu saat nanti seseorang menanyakan kedua orang tuanya, bagaimana Nayra menjawab?" Abi diam seketika, tidak tahu harus menjawab apa.
Umi memalingkan wajahnya"Aku dipanggil ke sekolah karena Naura dan Nayra ketahuan berkelahi." Ungkap umi dengan jujur. Mata Abi sampai membola saking terkejutnya. Pria baya itu tidak percaya.
"Perbaiki kata-kata mu, mungkin mereka sebatas bertengkar, bukan berkelahi. Berkelahi itu pasti ada tindakan saling serang sampai terluka. Naura tidak mungkin melakukan itu." Ucapnya menepis perkataan umi.
"Kenyataannya mereka berkelahi."
"Ini pasti ulah Nayra!" Tuduhnya tanpa alasan, terlihat umi tidak terima.
"Kenapa harus menyalahkan Nayra?" Suara perempuan lembut itu meninggi.
"Terus aku harus salahin siapa, Naura?"
Umi menggeleng "Bukan seperti itu."
"Semua hal buruk, pasti Nayra penyebabnya. Dia itu udah bandel dari dulu. Emang seharusnya Nayra kita pisahkan sekolahnya, jangan satu sekolah dengan Naura." Ujar Abi setengah marah. Umi melirik suaminya sinis.
"Udah cukup ya kamu memperlakukan Nayra berbeda. Dia itu anak kamu. Aku bahkan bela-belain bilang Nayra itu anak temen aku di depan guru dan buat Nayra sakit hati demi menuruti perkataan kamu." Umi marah dengan air mata berderai. Dia berdiri menantang suaminya.
"Karena dia anak aku, aku gak mau buat anakku yang lain kesusahan dan kesulitan karena dia. Anak pembawa sial." Ucap Abi membalas perkataan umi tidak kalah keras.
"Nyalahin anak pembawa s**l. Yang s**l itu kelakuan kamu. Kalau aja dulu kamu enggak_"
"DIAM." Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Abi lebih dulu berteriak membuat umi diam seketika.
Pertengkaran yang cukup nyaring itu bisa terdengar sampai luar, begitu jelas. Rafka yang bersandar di dinding sebelah kamar orang tuanya pun menunduk dalam.
"Selalu gara-gara Nayra. Kenapa sih harus lo terus Nay?"
***
Nayra menghembuskan nafasnya kasar, tangannya menopang dagu, terlihat sekali tidak ada semangat di dalam dirinya.
"Hukuman kamu sedikit berbeda kali ini." Ujar Bu Berta pada Nayra. Gadis yang tadinya ingin langsung pulang selepas bel berbunyi itu malah di hadang oleh bu Berta dan berakhir dirinya berada di ruang BK.
"Beda bagaimana, bu?" Tanya Nayra malas.
"Pak Bandi beberapa saat lalu menemui saya, kalau ada murid yang melanggar aturan, beliau meminta satu diantaranya untuk membantunya." Jelas Bu Berta menatap Nayra serius. Gadis itu menegakkan badannya.
"Pak Bandi kan guru olah raga, bu!"
Bu Berta mengangguk "Iya, dia butuh satu orang untuk membantunya setiap jam olahraga untuk mengangkat barang-barang yang akan digunakan ketika praktek."
"Lalu hubungannya dengan saya?" Nayra menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tidak enak. Nayra mulai curiga dengan obrolan bu Berta sebelum nya.
"Ya itu hukuman kamu, jadi asisten pak Bandi. Angkat-angkat alat-alat olahraga." Ujar Bu Berta seraya tersenyum.
Nayra menunduk sambil menepuk jidatnya kuat "Udah gue duga." Batinnya setengah kesal.
Nayra tersenyum penuh paksaan "Tapi tidak bisa seperti itu, bu. Pak Bandi kan ngajarnya bisa ke kakak kelas, saya malu kalau harus ketemu Kakak kelas begitu."
"Terus?"
"Tidak bisakah di rubah hukuman nya, bu?" Bu Berta tersenyum manis ke arah Nayra "Tidak. Itu sudah keputusan yang tepat." Nayra memberengut seketika.
"Kamu bisa keluar dan pulang!" Ucap Bu Berta seraya membuka laptop di depannya. Mulai mengerjakan sesuatu.
"Ibu mengusir saya?"
Bu Berta mendelik tajam "Masa iya kamu mau nginep disini? Pulang sana, saya risih liat kamu di dekat saya." Katanya begitu jahat. Nayra menutup mulutnya seketika.
"Jahat banget." Bukannya pergi, Nayra malah diam sambil melamun.
Bu Berta kembali menatap Nayra "Malah ngelamun. Sana pulang!" Titahnya membuat Nayra terkaget.
"Bawa saya pulang sekalian ke rumah ibu." Katanya tiba-tiba seraya memberikan tatapan memohon. Puppy eyes.
Wanita yang sibuk mengetik di laptop itu menghembuskan nafasnya kasar "Beban saya sudah cukup berat, saya tidak butuh tambahan beban hidup." Katanya.
Nayra berdiri kemudian "Baiklah kalau ibu tidak mau berbelas kasihan." Katanya pura-pura merajuk.
"Tapi satu hal yang perlu ibu tahu tips mengurangi beban!" Ujar nya membuat Bu Berta penasaran dan menunggu.
"Apa?" Tanya nya.
"Diet." Jawab Nayra yang langsung melarikan diri keluar dari ruangan tersebut.
Bu Berta yang ingin marah pun tidak jadi saat Nayra memunculkan kepalanya di balik pintu "Saya lupa kasih salam. Assalamualaikum?" Beliau pun tersenyum seketika.
"Waalaikumussalam."
"Kamu itu baik, tapi gak tahu kenapa kamu bisa kayak gitu. Bandel gak ketulungan."
***
Setelah keluar dari ruangan tersebut, Nayra terpaku diam saat berbalik seseorang berdiri di hadapannya dengan jarak yang cukup dekat. Orang yang sama yang ia temui tadi.
Nayra mulai memberanikan diri mendongak menatap siapa orang yang berdiri di hadapannya tanpa ada niatan untuk bergeser itu.
Pemuda itu menatap lurus ke pintu, tidak menunduk dan tidak membalas tatapan Nayra.
"Permisi, kamu menghalangi jalan, boleh geser sedikit?" Ucapnya dengan baik-baik. Merasa kesal karena tidak ada respon, nada bicara Nayra mulai sewot.
"Boleh minggir ga?" Ujar Nayra lagi tanpa ada reaksi dari lawan bicara di depannya. Kesal karena permintaan nya tidak digubris
Nayra mulai memberanikan diri dan mengambil ancang-ancang,
Bugh
"AW!" Pemuda di depannya mundur seketika seraya menyentuh perut yang di tonjok Nayra tanpa alasan.
Nayra tersenyum puas. Dia tidak suka jalannya dihalangi, walaupun dia masih bisa bergeser dan pergi. Baginya jalan lurus ke depan itu hal yang mesti. Salahnya sendiri tidak mau minggir, padahal sudah ada kata permisi yang keluar dari mulutnya, dengan perkataan yang baik juga.
"Apaan sih, asal tonjok aja!" Gerutu pemuda berhoodie hitam tersebut sambil meringis menahan sakit. Nayra yang sudah berjalan melewatinya berbalik seketika "ITU TANDA KASIH SAYANG." Teriak Nayra sambil cengengesan lalu pergi tidak peduli.
"Sayang apaan, nonjok itu k*******n, bukan kasih sayang."