Bab 6

1253 Words
"Maaf sebelumnya bu, kesalahan apa yang telah Puteri saya perbuat?" Seorang wanita duduk berhadapan dengan seorang guru, bertanya dengan serius. Guru tersebut bersidekap, melirik sekilas murid bermasalah yang kini duduk di kursi sebelah wali murid sambil tertunduk dalam. "Puteri ibu berkelahi." Ujar Bu Berta pada wanita berhijab di depannya. Seketika beliau melirik puteri nya tidak percaya. "Perihal apa Bu?" Tanyanya ingin penjelasan lebih detail. "Mungkin ke salah pahaman kecil. Nayra ini salah satu murid yang sering kali khilaf, dan Naura selaku osis yang baik, menegur. Kurang lebih seperti itu. Ibu pasti tahu apa yang terjadi berikutnya dari perkataan saya barusan." Jelas Bu Berta. Wanita berhijab itu mengangguk "Naura?" Ujarnya pelan. Naura melirik takut "Maafkan Nau, umi. Tapi ini bukan salah Nau." Ungkapnya tiba-tiba sampai membuat Nayra disampingnya melirik Naura seketika. Delikan tajam itu terlihat jelas sambil menggerutu di dalam hati "Terus gue yang salah gitu? Pernyataan lo aja udah fiks nuduh gue. Kelihatan banget lo berusaha bikin umi gak percaya sama gue. Kurang ajar emang." Nayra mendengus sebal sambil memalingkan wajah. "Seharusnya kamu tidak melakukan itu, Nayra kan_" belum selesai perkataannya tersebut, umi Aminah terdiam seketika mengingat sebuah percakapan nya dengan sang suami. "Sesayang nya kamu sama Nayra, jangan sampai kamu mengungkapkan pada orang lain kalau Nayra adalah salah satu anggota keluarga kita. Apalagi di sekolah, jangan sampai ada yang tahu Naura bersaudara dengan Nayra." Ungkap Abi Karim memberi peringatan. "Kenapa?" Tanya umi keheranan. "Karena kebaikan Naura akan disangkut pautkan dengan Nayra yang prilakunya jauh dikatakan baik. Apakah kamu tidak kasihan pada Naura?" "Kenapa bu?" Tanya bu Berta menyadarkan kembali umi. Umi menggeleng dengan cepat "Enggak, Bu. Seharusnya Naura tidak melakukan perkelahian, apalagi Nayra kan teman sekolahnya." Ucap Umi yang diangguki Bu Berta. Nayra yang tertunduk pun merasakan hati yang tiba-tiba sakit. "Umi bilang teman?" Nayra melirik umi dengan mata sendu. Tersenyum pasrah. "Padahal gue gak sudi sekali pun jadi teman." Omelnya seraya memendam perih yang mulai terasa. Ingin meluruskan perkataan tersebut, yang ada orang lain menganggap nya halusinasi karena memiliki keluarga yang agamis, sedangkan dirinya urakan. "Saya kenal Nayra, pasti ini hanya ke salah pahaman. Maafkan mereka ya, bu!" Ujar umi lagi. "Ibu kenal dengan Nayra?" Tanya bu Berta dengan alis mengkerut. Umi diam sejenak kemudian menjawab "Dia Puteri dari teman saya, tentu saya kenal." Lagi-lagi Nayra dibuat tidak percaya dengan perkataan umi. Tangannya kini terkepal. "Gue gak dianggap anak, anjir!" Ucap Nayra di dalam hati kesal. "Oooh, pantas. Lalu, kenapa ya orang tua Nayra tidak ada yang datang. Nomer yang selalu saya hubungi selalu tidak aktif. Nayra sering berbuat kesalahan, tapi saya tidak bisa memberitahukannya kepada mereka." Jelas Bu Berta. Umi menggigit kulit pipi dalamnya kuat. "Mereka sepertinya sedang sibuk. Lain kali saya akan beritahu mereka tentang Nayra." Obrolan semakin berlanjut. Telinga Nayra sudah panas mendengarnya. Nayra melirik umi marah "Umi kenapa gak sekalian aja kasih tahu kalau aku gak punya orang tua?" Ujar Nayra menahan nada suaranya agar tidak meninggi. Umi dan Bu Berta melotot bersamaan. "Nayra?" Naura menyikut lengan Naura sebagai isyarat untuk diam. "Bukan seperti itu Nay_" Umi berusaha membujuk Nayra, mencoba menjelaskan perkataannya barusan. Nayra berusaha menutup telinganya "Maaf bu, saya keluar. Beritahu saya nanti apa hukuman yang saya dapatkan." Kata Nayra tanpa mendapat jawaban lebih dulu. Umi mulai tidak enak hati. Dia menyakiti hati Nayra secara tidak langsung. "Maafin umi, Nay." *** Nayra keluar dari ruang BK dengan kesal. Air matanya memanas ingin menangis, berusaha ia tahan untuk menghindari pertanyaan. Kakinya melangkah dengan perlahan, perkataan umi yang menganggapnya teman dari Naura, juga anak dari temannya begitu terngiang-ngiang di telinganya. "Tega banget sih umi bilang gitu. Emang segitu malu-maluin nya punya anak kayak gue?" Gerutu Nayra. Tangannya tidak lepas mengusap telinga yang berubah merah. "Sakit hati gue." Di tengah perjalanan, Nayra jelas melihat sosok pemuda dengan hoodie hitam, menunduk sambil berjalan santai dengan tas di punggungnya. Memakai pakaian bebas. Berjalan berlawanan arah, sampai mereka berpapasan, pemuda itu melirik sekilas Nayra yang berjala lurus tanpa menoleh. Waktu terasa melambat. Hingga pemuda itu mulai menjauh, Nayra menghentikan langkahnya dan berbalik. Pemuda itu sudah masuk ke kantor. Sebuah aroma parfum tercium kuat di hidungnya "Hemm, parfum mahal." Ucapnya enteng. "Kayaknya murid pindahan deh!" Katanya sambil melanjutkan perjalanan menuju kelas. *** Di pintu masuk kelas, ada Vivia yang celingak-celinguk menunggu kedatangan sahabatnya. Mondar mandir menghalangi jalan membuat yang lain risih. "Lo ngapain sih halangi jalan, mondar mandir pula. Keluar sana, jangan di jalan masuk." Gadis berambut sebahu dengan t**i lalat di dagu sebelah kiri itu mengomel. Vivia memberengut kemudian memilih keluar. Baru saja keluar dari kelas, Nayra berjalan dari koridor kelas sebelah menuju kearahnya. Melihat Nayra, senangnya bukan main. Vivia tersenyum sumringah. "Nay?" Panggilnya sambil melambaikan tangan, Nayra yang melihatnya terheran-heran. "Kenapa Lo cengar cengir begitu?" Tanya Nayra yang langsung di gelendoti Via. "Gue seneng karena bisa lihat lo." Katanya sambil menempel di lengan Nayra. "Apasih, tiap hari juga liat gue." Vivia menepuk pelan lengan yang dipeluknya "Gue khawatir. Tadi di kantin rame karena katanya lo berantem sama kakak kelas, kak Naura." Ucap Via memberitahu. "Viral dong gue!" "Pasti lah." Mereka memilih duduk di kursi depan kelas, bekas anak laki-laki nongkrong dan belum disimpan kembali ke kelas. "Lo kenapa bisa berantem sama kak Naura?" Tanya Via penasaran. "Gak ada alasan pasti. Kayaknya emang gue gak suka aja ama itu orang, jadi bawaannya ngegas mulu kalau sama dia, dianya gak suka. Jadilah berantem." Jelas Nayra memberi cerita singkat. "Gitu?" Nayra mengangguk. Via menatap Nayra dengan seksama "Terus Bu Berta ngasih hukuman apa?" Nayra menggedigkan bahu "Belum tahu." Via mengernyit "Kenapa belum tahu? Bukannya lo diruang BK buat nyelesaiin masalahnya? Udah pasti kalian dapat hukuman dong? Masalah sepele aja ada sangsinya." Cerocos Via membuat Nayra kesal dan menutup mulut sahabatnya saat itu juga. "Gue pergi. Gue bosen ada diruangan itu setiap hari. Lagian wali gue gak datang." Katanya. Tangan yang membekap mulut Vivia pun terlepas, berganti bersidekap d**a. Via menyioitkan matanya kearah Nayra, seperti tidak percaya "Bohong. Udah jelas tadi umi nya Naura datang. Umi, wali lo juga kan?" Gadis dengan rambut digelung setengah acak-acakan itu mendengus "Yang tahu gue saudaraan sama si Naura cuman lo, yang lain enggak, termasuk guru-guru. Otomatis umi ngaku gue anak temennya doang." Jelas Nayra. Via menutup mulutnya yang terbuka. "Masa sih, umi lo sejahat itu?" "Bokap gue yang jahat. Gue tahu umi merasa bersalah waktu ngomong itu ke Bu Berta." "Wah, parah." "Naura itu anak baik, dia takut nama baik Naura tercemar karena gue." "Gak adil itu." "Jahat kan?" "Iya!" *** "Gimana, mi?" Tanya seorang pemuda di bangku kemudi. Umi duduk di kursi sebelah pemuda itu, wajahnya terlihat lesu. Umi menghembuskan nafasnya secara perlahan untuk menenangkan diri. "Naura sama Nayra berantem." Ungkap umi pada Rafka. "Pasti ulah Naura. Yang bandel kan, dia. Naura gak pernah bikin masalah kalau bukan Nayra yang mancing." Rafka langsung menyalahkan Nayra tanpa tahu yang sebenarnya. "Umi gak tahu alasan mereka sampai berantem di sekolah. Kata Bu Berta, hanya kesalah pahaman kecil. Naura dan Nayra pun gak jawab jujur." Umi mengurut keningnya karena pening. "Terus?" "Naura hanya di beri tugas ikut serta membantu kebersihan osis dua kali lipat selama satu bulan sebagai sangsi, karena itu untuk pertama kalinya Naura bermasalah." Jelas umi. "Nayra?" Tanya Rafka menanti-nanti jawaban umi dengan hati berdebar. "Bu Berta tidak memberi tahu. Beliau bilang akan memberitahunya pada Nayra secara langsung. Bu Berta hanya berpesan, kalau sekali lagi Nayra berbuat masalah, dia akan dikeluarkan dari sekolah." Tambah umi membuat Rafka terdiam seraya menatap lurus ke depan. "Kenapa bu Berta gak kasih tahu apa hukuman Nayra ke umi?" Umi menunduk sedih "Karena umi bilang kalau Nayra itu anak teman umi!" "APA?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD