"Nayra kemana sih?" Tanya Raya kepada Via. Ketiga nya sudah menunggu cukup lama, bahkan makanan yang mereka pesan sudah dingin. Kantin mulai penuh oleh kelas lain yang baru keluar. Via mendengus menatap Raya dan Nia bergantian.
"Makanan nya malah udah dingin. Gue udah bilang, makan nya duluan aja, biar nanti Nayra makan sendiri." Gerutu Nia karena kesal. Mereka rela menahan lapar demi menunggu Nayra untuk makan bersama. Vivia tetap kekeuh.
Via menunduk menyesal "Sorry. Gue pikir Nayra gak bakalan lama. Katanya dia cuman ke toilet." Ujar Via.
"Sudahlah. Kita makan aja, takutnya Nayra malah gak datang lagi." Ucap Raya mulai menyuapkan nasi goreng kedalam mulut. Pesanan yang sudah tersedia di atas meja beberapa menit yang lalu. Nia pun melakukan hal sama seperti yang dilakukan Raya. Dia tidak ingin menahan lapar.
"Gue juga makan deh, takut keburu masuk!" Tambahnya.
Vivia ragu "Apa sakit giginya kumat lagi?" Bisik Via pelan. Riuh kantin membuat Raya dan Nia tidak mendengar perkataan Via.
Grasak-grusuk kericuhan di kantin mulai terjadi. Seorang siswi masuk ke kantin dengan tergesa, semua pandangan tertuju kearahnya "Guys, ada berita." Teriaknya membuat penghuni kantin yang sedang sibuk makan, sibuk mengantri dan sibuk menggosip pun beralih fokus pada gadis yang datang sambil ngos-ngosan itu.
"Ada yang berantem!" Ucapnya mengumumkan. Semua orang saling menebak siapa yang berkelahi.
"Siapa?" Celetuk seseorang.
"Nayra sama kakak kelas, kak Naura. Mereka berantem di toilet." Jelasnya lagi membuat yang lain ikut menduga apa yang menjadi penyebabnya.
"Masa sih? Kak Naura kan anak alim, masa iya berantem?" Seseorang mulai berkomentar.
"Iya. Kalau Nayra, udah gak aneh sih kalau dia buat masalah. Tapi ini kak Naura. Dia anggota Osis senior. Masih gak nyangka!" Sahut yang lain membenarkan.
Vivia yang juga mendengar kabar itu mulai khawatir. Raya dan Nia masih santai dengan acara makan mereka, tidak mau ikut campur.
"Nayra lagi ada masalah." Kalimat itu seperti ajakan untuk kedua sahabat di depannya, tapi mereka malah acuh.
"Guys?" Seru Vivia.
Nia menatap Vivia "Lo aja Vi. Gue gak mau kebawa masalah sama perkelahian Nayra kali ini. Gue udah bosen. Kita gak mau ikut kena hukuman, padahal gak lakuin apa-apa." Vivia terdiam.
"Maaf ya, kita mau cari aman aja." Timpal Raya.
Mendengar keduanya sudah menolak, Vivia bangkit dari duduknya meninggalkan makanan yang belum dicicipinya sedikit pun. Raya dan Nia mendelik tidak suka.
"Vivia terlalu polos, mau aja dimanfaatin."
***
Nayra dan Naura, mereka sedang berada di ruang guru, dengan bu Berta sebagai guru keamanan duduk dengan mata tajam menatap mereka.
Nayra dengan penampilan yang acak-acakan, Naura dengan goresan cukup dalam di punggung tangan karena cakaran. Andai saja Bu Berta tidak pergi ke toilet, perkelahian antara Nayra dan Naura akan terus berlanjut sampai ada yang menjadi korban.
Naura menunduk dalam karena merasa malu. Ini yang pertama bagi Naura di hadapkan dengan guru keamanan. Sebelumnya, dia tidak pernah melakukan kesalahan atau masalah apapun. Dia salah satu contoh baik untuk murid yang lain, murid teladan yang diandalkan. Bagaimana jadinya kalau masalah perkelahian ini menjadi pandangan buruk dan menghapus gelar teladan padanya.
Sedangkan Nayra masih bersikap santai karena sudah terbiasa. Bukan perihal perkelahian, Nayra lebih sering karena terlambat, saling adu mulut dengan murid lain karena tidak memiliki pendapat yang sama.
"Kenapa kalian sampai berkelahi seperti tadi?" Tanya bu Berta to the point. Tatapan tajamnya cukup membuat takut Naura. Nayra lebih memilih memalingkan wajah menghindari tatapan tersebut.
Keduanya tidak bisa menjawab. Mereka berkelahi karena hal pribadi di rumah, bukan masalah sekolah.
"JAWAB?" Teriak beliau, keduanya terhenyak.
"Kita cuma bercanda, bu. Iyakan?" Ucap Nayra sambil memberi isyarat agar Naura mengangguk mengiyakan.
Terlihat Naura bingung. Gadis baik seperti dia tidak akan mau untuk berbohong.
BRAK
Bu Berta menggebrak meja cukup keras, suaranya sampai terdengar sampai keluar ruangan.
"Tidak ada bercanda sampai tangan luka cukup dalam seperti itu Nayra." Ujar Bu Berta sambil menunjuk punggung tangan Naura yang terluka.
"Gak sengaja Bu." Jawab Nayra lagi.
Bu Berta sampai tidak percaya, dia hanya ingin ke toilet untuk mencuci muka, menyegarkan diri karena selesai menghukum murid yang terlambat datang ke sekolah dibawah terik matahari. Tapi yang dia lihat, pertengkaran kedua muridnya yang lain. Nayra yang mencengkram tangan Naura sampai terluka, rambut Nayra yang acak-acakan karena jambakan Naura. Sungguh di luar dugaan.
"Saya sampai gak habis pikir dengan kelakuan kalian berdua. Terutama kamu, Naura. Kamu anggota Osis, termasuk murid teladan juga, bisa-bisanya kamu berkelahi." Ujarnya mengomentari Naura yang jauh dikatakan baik.
"Dan kamu_" Bu Berta menunjuk Nayra " Saya bosan lihat kamu masuk keruangan saya hampir setiap hari. Tidak bisakah kamu diam dan tidak melakukan masalah sehari saja, Nayra?" Beliau sendiri sudah jengah karena pertemuan yang terlalu sering. Walau pun masalah ringan, tapi Nayra tidak bisa melakukan hal buruk terlalu sering.
Nayra menunduk seperti orang benar, tangannya memilin rok yang dikenakannya "Gak bisa, Bu. Sudah bawaan lahir. Saya dari lahir udah jadi masalah dan beban untuk keluarga saya. Masa saya gak bisa jadi beban buat ibu juga!" Jawabnya dibarengi dengan candaan, padahal dibalik perkataan tersebut ada sebuah kenyataan pahit. Bu Berta memelotot seketika.
"Kamu gak bisa ya, bicara sopan sama guru?" Ucap Naura menyela.
Nayra menoleh dengan tersenyum sinis "Ini Bu, yang jadi masalah pertengkaran kami. Dia, terlalu ikut campur tentang apa yang saya lakukan. Terlalu mengomentari sesuatu yang tidak ada hak dan bagian dia. Saya tidak senang perihal tersebut. Tanpa dia memberitahu pun, saya bisa menyesuaikan diri." Jelasnya kepada Bu Berta. Naura menatap Nayra tidak suka.
"Bukan begitu, Bu!" Sangkal Naura. Bu Berta beralih kepada Naura "Lalu seperti apa?"
Nayra hanya tersenyum, dia yakin Naura tidak akan berani memberitahu apa masalah diantara mereka secara terang-terangan.
Naura menunduk "Saya hanya berkomentar kecil tentang cara bicara dia yang tidak sopan. Tidak enak kalau di dengar guru dan yang lain, apalagi saya anggota Osis, saya berusaha mengingatkan." Jelasnya dengan kata-kata meyakinkan.
Nayra menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Kamu mungkin kurang mengenal Nayra, Naura. Di depan guru, dia bisa menyesuaikan diri dan berkata sopan." Ungkap Bu Berta. Naura terpaku diam.
"Tapi, barusan_"
"Dia memang sering berkata seperti itu kepada saya, karena dia sudah menjadi penghuni ruang keamanan ini. Tapi kepada guru yang lain, tidak."
"Tapi saya tidak akan membenarkan perkelahian kalian berdua tadi. Kalian akan tetap mendapatkan hukuman." Ujar Bu Berta.
"Dan peringatan untuk kamu Nayra, ini untuk yang kesekian kalinya masalah yang kamu perbuat. Satu kali lagi kamu melakukan kesalahan, saya tidak akan memberikan toleransi lagi. Dengan terpaksa kamu haru di Drop out." Bu Berta berusaha mengingatkan Nayra untuk tidak melakukan hal apapun yang membuatnya mendapat nilai minus.
Nayra hanya diam tanpa jawaban.
"Saya akan memberitahu kedua orang tua kalian untuk menyelesaikan masalah ini!" Ujar nya membuat Naura panik.
"Jangan orang tua bu, saya tidak mau mereka kecewa karena masalah saya. Tolong beri saya hukuman apa saja, asal jangan orang tua. Lagi pula ini kesalahan pertama saya, saya mohon keringanan, Bu!" Naura membuka suara, meminta keringanan dan hukuman lain. Dia tentu takut Abi dan umi kecewa padanya.
"Maaf Naura. Kesalahanmu bukan hal ringan. Kalian berkelahi sampai terluka. Andai kesalahanmu hanya terlambat, saya tidak akan memanggil orang tuamu. Kalau saya tidak melakukan ini, bagaimana pandangan murid yang lain? Mereka akan mewajarkan hal tersebut dan merasa tidak akan mendapat sangsi setimpal." Jelas Bu Berta dengan tegas.
"Saya akan berdiskusi dengan orang tua kalian tentang hukuman yang pantas kalian dapatkan nanti."
"Bagaimana dengan mu Nayra? Kamu setuju?" Tanya bu Berta. Nayra terdiam sejenak.
"Terserah ibu saja."
"Lagian, gak akan ada yang mau jadi wali gue. Mereka akan datang cuma jadi wali Naura. Selalu."ucapnya dalam hati.