Bab4

1177 Words
Seorang gadis tertidur begitu nyenyak padahal jam pelajaran belum usai. Seorang wanita bertubuh tinggi yang berperan sebagai guru bahasa Indonesia itu berkacak pinggang. Tuk tuk tuk Beliau mengetukkan spidol ke meja sebagai peringatan kepada semua murid untuk diam. Mata tidak lepas memandang satu murid di meja paling ujung dekat jendela sedang tertidur pulas. Seisi kelas diam seketika, mengikuti kearah guru memandang. Tidak ada guru yang senang saat mengajar diacuhkan seperti itu. Bu Ira namanya, melangkah mendekati meja dengan gadis yang tertidur tersebut. Murid lain mulai berbisik, menebak apa yang akan dilakukan Bu Ira kepada satu teman mereka. BRAK Meja di gebrak begitu keras hingga membuat semua murid kaget, terutama si gadis dibangku terakhir. Dia bangun dengan mata melotot, tubuhnya menegak. Tidak ada yang berani tertawa, semua orang berubah tegang. "Nayra Rahma. Kamu berangkat ke sekolah dengan memegang tanggung jawab sebagai pelajar. Kewajiban seorang pelajar adalah menuntut ilmu. Belajar, memperhatikan saat sedang jam belajar, mengerjakan tugas dan lain sebagainya. Dan kamu, tertidur di jam pelajaran saya." Tidak bernada tinggi, tapi cukup menakutkan karena ucapan yang dikeluarkan penuh penekanan dan nada sinis. Bu Ira menepuk bahu Nayra "Tidur itu tidak salah, tapi waktu yang kamu gunakan untuk tidur tidak tepat. Kamu tahu saya, bukan?" Nayra menunduk dalam. Gadis yang kemungkinan masih setengah sadar itu hanya diam. "SAYA TIDAK SUKA ADA MURID YANG TIDUR DI MATA PELAJARAN SAYA." Teriaknya sambil menekan kuat bahu gadis itu. "Maaf bu, saya tidak sengaja. Saya kelelahan karena semalam_" Bu Ira mengangkat tangannya tepat di depan wajah Nayra, menolak alasan yang belum Nayra selesaikan. "Saya tidak ingin mendengar alasan apapun. Kamu memiliki urusan diluar sekolah, itu urusan kamu. Sekolah dan belajar juga keharusan untuk kamu. Seharusnya kamu bisa profesional." Nayra menggigit bibirnya kuat. Mulai merasa malu karena sebagian teman sekelasnya memperhatikannya. Ini konsekuensi yang harus ia terima. Nayra sadar atas kesalahannya. Bu Ira kembali berbalik, berjalan ke depan kelas "Saya tidak mempermasalahkan tidur kalian. Belajar juga tidak akan menjamin kalian sukses. Tapi saya ingin kalian menjadi sosok yang profesional. Menempatkan segala sesuatu tanpa terpengaruh dari hal lain." Semua orang mengangguk mengerti. "Nayra, ini untuk pertama kalinya kamu melakukan kesalahan di jam pelajaran saya. Saya beri keringanan, tapi tugas akan tetap saya beri sebagai sangsi. Tulis kalimat anonim dan antonim sebanyak yang kamu tahu, besok lusa, berikan pada saya di jam istirahat pertama. Jangan sampai terlambat. Yang lain, catat dan rangkum bab tiga, minggu depan saya akan pilih beberapa dari kalian untuk presentasi bab yang sudah kalian tulis tersebut. Setelahnya akan saya jelaskan satu persatu." Jelas beliau, semuanya kembali mengangguk paham. Menit berikutnya bel istirahat berbunyi, Bu Ira berpamitan dan pergi. Vivia, duduk di bangku depan sebagai salah satu murid yang antusias dalam belajar. Sahabat Nayra itu dengan cepat berjalan menghampiri bangkunya. Nayra hanya duduk sendiri tanpa teman, di bagian belakang pula. "Lo kenapa bisa sampai ketiduran gitu?" Tanyanya sambil duduk di bangku samping Nayra. Nayra termenung kemudian melirik Vivia dengan mata sedikit bengkak itu "Semalaman gue nangis, nahan sakit gigi njir." Jawabnya dengan wajah cemberut. Vivia menutup mulutnya, menahan tawa, matanya ia alihkan menatap langit-langit sebagai pengalihan. Vivia berusaha menormalkan kembali mimik mukanya "Terus sekarang gimana?" "Udah mendingan." "Syukurlah." "VI, NAY, AYOK KE KANTIN?" Seseorang berteriak di ambang pintu kelas, dia tersenyum tanpa mempermasalahkan keadaan kelas saat ini. Sisa murid yang masih belum keluar itu memandangi gadis yang berteriak, merasa risih. Gadis itu melambai ke arah Nayra dan Vivia. "Kantin?" Tawar Vivia pada sahabatnya. Nayra diam sejenak meyakinkan, haruskah dia ikut ke kantin juga? "Lo duluan deh, gue mau ke toilet dulu, cuci muka." Jawabnya. Vivia mengangguk "Jajan?" "Mie goreng sama teh manis." "Oke. Gue duluan. Jangan lupa nyusul ya?" Nayra mengangguk. *** Nayra menatap pantulan dirinya di cermin, memperlihatkan wajahnya yang basah sehabis mencuci muka. Ada sebuah ketakutan yang terlihat jelas dari mimik wajahnya. Nayra terlihat resah "Kenapa mimpi itu harus datang lagi sih? Gue udah berusaha ngelupain semuanya." Ucapnya menatap dirinya sendiri dengan tajam melalui cermin. Nayra menunduk, hingga sisa air diwajahnya menetes ke wastafel Hembusan nafas kasar pun terdengar jelas. Tangannya terkepal kuat "Gue gak mau kejadian itu malah bikin hidup gue berantakan." Katanya dengan jantung berdebar. Tubuhnya mulai bergetar. Sekelebat mimpi di kelas tadi kembali mengingatkan nya akan kejadian menjijikan itu. Ada trauma tersendiri yang tidak bisa Nayra hilangkan. Susah dilupakan. Memori buruk itu membelenggu pikirannya. Tidak bisa bebas. Merasa jijik pada tubuhnya karena sentuhan yang tidak senonoh dulu. "Gimana cara gue ngilangin tubuh yang Tremor kayak gini setiap kali gue mimpi dan inget kejadian itu. Sampai sekarang gue gak bisa ngendaliin." Gerutunya seraya menatap cermin. Nayra membuka kepalan tangannya, tersenyum sinis kala melihat tangan yang kini terbuka itu gemetaran, tidak bisa dihentikan. "Padahal ada orang yang diperlakukan lebih buruk dari gue, tapi mereka bisa ngendaliin diri mereka. Tapi kenapa gue gak bisa?" "Nay?" Panggil seorang gadis berkerudung, baru masuk ke toilet. Dia menatap Nayra keheranan. Nayra menegakkan badannya, berusaha bersikap sesantai mungkin. Menghembuskan nafasnya secara perlahan untuk mengontrol emosinya. Nayra berbalik dengan menunjukan tatapan sinis. "Kamu ngapain disini?" Tanya gadis berhijab itu seraya melangkah mendekati Nayra. "Lo pikir, ngapain gue di toilet? Dagang pecel?" Sewot Nayra sambil merapikan rambut yang sedikit berantakan di dekat telinga. "Aku kan cuma nanya." Katanya setengah tidak suka dengan jawaban Nayra. Nayra menggerlingkan matanya malas "Itu basa basi busuk. Lo pikir aja, orang kalau ke toilet mau ngapain? Hal gitu aja masih di tanya." Terlihat gadis berkerudung itu mulai kesal "Ya udah sih, biasa aja." Katanya. Nayra yang berniat untuk segera keluar dari toilet pun terhenti tiba-tiba "Bisa gak, kalau lain kali kita ketemu kamu ngomongnya yang sopan?" Nayra berbalik badan, menatap gadis didepannya tajam "Waaah, seorang Naura meminta sesuatu kepada gadis yang dianggapnya benalu ini?" Ujar Nayra setengah menyindir. "Sorry sorry to say ni ya, gue gak biasa ngomong lembut kayak lo. Lagian, lo siapa sih ngatur-ngatur gue? Mau banget gue ngomong sopan ke Lo!" Katanya membuat Naura melirik Nayra. "Aku, kakak kamu." Balasnya dengan tegas. Mengingatkan kembali bahwa Nayra adalah seorang adik bungsu yang bahkan kehadirannya saja diacuhkan. Rahang Nayra mengeras "Terus hak lo supaya gue ngomong sopan itu apa? Lo cuma kakak, bukan umi." Katanya dengan nada sedikit meninggi. "Lo, kata-katanya aja yang sopan, prilaku lo ke gue ada yang sopan gak?" Naura terdiam, Nayra mendelik. "Gara-gara mulut sopan lo itu yang buat Abi makin benci sama gue sampai sekarang. Gak sadar diri banget. Merasa paling baik tu mulut, tapi sukanya fitnah orang. Iri banget banget sama kehidupan gue yang gak seberapa juga." Naura mendekati Nayra, tangan itu dengan santai menggenggam Nayra kuat "Jaga bicara kamu." Ucap Naura memperingati. Nayra tersenyum penuh arti, membalikan tangan dan membuat tangan Naura yang kini berada dalam genggaman. "Jaga sikap lo, Naura. Sekalipun lo kakak gue, gue gak akan memaklumi apapun dari lo yang udah buat gue menderita. Lo mungkin kakak gue di rumah, tapi di sekolah, lo cuma orang asing buat gue. Jangan sok kenal dan jangan sok peduli. Ngerti?" Nayra mulai emosi. Mata itu tidak lepas memandang mata saudarinya dengan penuh kebencian. Naura yang tidak suka diperlakukan kasar seperti itu langsung menepis genggaman Nayra hingga terlepas. "Udah nasib kamu aja menderita, gausah nyalahin orang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD