Nayra masuk kedalam kamar dengan kesal, tidak lupa pintu ditutup keras seraya dikunci dari dalam.
Gadis itu duduk di ujung ranjang seraya menangis terisak, melampiaskan rasa sakit yang sedari tadi di tahannya.
"Abi kenapa selalu gak percaya sih? Aku kerja juga buat memenuhi kebutuhan sendiri, gak minta secara terang-terangan kayak Naura. Padahal aku juga anaknya, kalau peduli gak perlu harus diminta kan?" Gerutunya, menyalahkan abi yang selalu pilih kasih.
"Umi juga, padahal umi juga perempuan, harusnya tahu kebutuhan anak perempuan nya apa aja, ini yang didahulukan selalu aja Naura. Apa-apa Naura. Naura belum punya ini, barang punya Naura udah habis, udah jelek, udah harus diganti. Terus gue? Sepatu rusak gue kasih lem, mukena robek gue jahit sendiri." Tambahnya lagi. Tangannya tidak henti menghapus air mata yang turun tanpa henti. Sesak di d**a semakin menjadi.
"Terus kalau gue kerja, kenapa dipermasalahin?" Nayra menangis sesegukan. Seragam yang belum sempat dilepas itu pun ikut basah dari tetesan air matanya.
Satu tetes cairan mengotori rok seragam Nayra, bukan air mata, melainkan darah segar yang mulai mengucur dari hidungnya. Terjadi secara tiba-tiba, membuat Nayra panik setengah mati. Hidungnya ia tutup menggunakan tangan, seluruh tubuhnya bergetar saking paniknya, kakinya lemas tidak kuat berdiri.
Sesekali darah itu muncul saat Nayra banyak pikiran atau kelelahan, tapi masih belum membuat Nayra terbiasa. Dulu hanya pusing, mati rasa tiba-tiba, tapi sekarang disertai mimisan yang cukup sering.
Nayra memaksakan diri bangkit, berjalan secara perlahan juga hati-hati menuju kamar mandi. Saat sampai ditempat dingin itu, dia menunduk di wastafel sampai menunggu cairan berwarna merah itu berhenti, tangannya tidak lupa ia basuh. Bau darah menyeruak memenuhi ruangan kamar mandi, membuat Nayra tidak nyaman. Sekarang Nayra tidak berani menghentikan darah yang keluar menggunakan tisu atau menyumpal nya. Takut terjadi sesuatu yang lebih parah.
"Gue sakit apa sih sebenarnya?" Ucap Nayra sambil membasuh hidungnya. Darah yang keluar mulai mereda, hanya tersisa sedikit di bagian dalam hidung.
Nayra menatap pantulan wajahnya di cermin wastafel, nafasnya menghembus dengan kasar "Gue harus diperiksa secepatnya. Semakin lama, gue semakin sering mimisan." Gadis masih dengan seragam itu terdiam "Kalau gue di diagnosa penyakit berat gimana? Terus nyawa gue, mau gue kemanain? Kalau dokter bilang bentar lagi gue mati?" Nayra membayangkan bagaimana dokter berkata pada dirinya tentang sisa waktu hidupnya. Nayra bergidik seketika. Tangannya bergerak menepis bayangan konyolnya.
"Amit-amit. Jangan dulu mati, gue mau nikah sama orang yang sayang banget sama gue, punya bayi, terus hidup bahagia." Katanya penuh harap. Mimpi tidak perlu menunggu lulus SMA kan? Itu sebuah harapan yang diwajarkan, selama tidak berharap untuk berumah tangga dengan anggota boyband Korea. Itu mustahil.
Nayra mengangkat kedua telapak tangannya seraya berdo'a di dalam hati " Yaa Allah, jangan engkau cabut nyawaku diwaktu sekarang-sekarang ini, aku masih harus bekerja, sekolah, dan ujian, tugas sekolahku juga belum selesai, aku gak mau kalau nanti dapat hukuman lagi dari Bu Berta. Kalau boleh, biarkan Rafka yang lebih dulu menghadapmu." Katanya seraya mendelik tidak suka saat mengucapkan nama abangnya.
Nayra tersenyum mengejek "Naura juga boleh." Ucapnya lagi dalam hati seraya terkikik geli.
"Bercanda yaa Allah." Nayra menggelengkan kepala seraya menutup matanya dalam. Detik berikutnya, mata itu kembali terbuka seraya menatap dirinya sendiri di cermin dengan sendu.
Nayra menyentuk kedua pipinya "Aku mau sehat dan bahagia aja. Do'a yang tadi aku urungkan."
***
Abi Karim duduk di meja ruang kerjanya sambil terdiam. Melamun, memikirkan perkataan puteri bungsunya yang ternyata bekerja demi memenuhi kebutuhan pribadinya. Beliau seorang ayah, tapi hanya untuk Rafka dan Naura.
Ruang kerja Abi diliputi keheningan, malam semakin larut, Nayra yang baru pulang kemungkinan sudah terlelap.
Krieeett
Pintu terbuka dengan pelan, umi masuk seraya membawa secangkir kopi, berjalan mendekat dan meletakkan kopi tersebut di atas meja. Umi mengambil kursi yang lain dan mendekatkannya dengan posisi Abi, kemudian duduk bersisian.
"Apa yang kamu pikirin, bi?" Tanya Umi, tangannya menyentuh lembut bahu suaminya.
"Nayra." Jawabnya langsung.
"Kenapa?"
"Apa uang yang aku kasih kurang? Sampai-sampai dia kerja?" Pandangan Abi tidak berubah, beliau masih tetap menatap lurus ke depan, entah apa yang ia lihat.
Umi diam sejenak "Abi hanya memberi saat dia pergi sekolah, bukan untuk kebutuhan pribadi Nayra. Umi yang salah karena tidak mementingkan. Umi malah fokus pada Naura." Umi menunduk menyesali perbuatannya.
***
Naura mengetuk pintu kamar Nayra, ditengah malam yang sunyi. Gadis itu tidak bisa tidur karena memikirkan perkataan Nayra yang selalu membawa namanya disetiap alasan. Rasa tidak terima selalu datang dan menghantuinya.
Tok tok tok
Tidak keras, tapi cukup nyaring.
Pintu terbuka secara perlahan, Nayra lebih dulu memastikan siapa yang mengetuk pintu sebelum benar-benar membukanya. Nayra hanya memberi celah untuk dirinya mengintip. Dia takut hal yang sering terjadi kembali terulang.
Saat tahu siapa pelaku pengetuk pintu, Nayra membuka pintu kamarnya lebar kemudian celingak celinguk memastikan, takut ada orang lain yang tiba-tiba datang.
Nayra berdiri dengan angkuh seraya melipat tangan, menatap saudarinya jutek "Mau ngapain?" Tanyanya.
"Ada yang perlu aku omongin. Aku mau masuk." Jawabnya dengan suara menahan marah.
"Ngomong aja disini, gak perlu masuk." Ucap Nayra sambil menutup pintu kamarnya secepat kilat.
"Aku gak mau sampai Abi dan umi denger." Nayra mendelik "Penting banget emang?"
"Kenapa sih? Tinggal izinin masuk aja susah banget. Pelit lo. Apa jangan-jangan ada bang Rafka lagi di dalam!" Ujar Naura seraya mengungkapkan kecurigaannya. Nayra terlihat jelas sedang menutupi sesuatu.
Nayra yang tidak suka dituduh pun membuka pintu kamarnya kasar "Lo liat aja, ada gak si Rafka di kamar gue?" Sewotnya. Naura dengan cepat masuk kedalam seraya menarik Nayra dan menutup pintu tanpa lupa menguncinya.
Nayra membelalak tidak percaya dengan kelakuan saudarinya.
"Lo apaan sih? Gue gak ada izinin lo masuk ke kamar gue, ya." Nayra menepis tangan Naura kasar seraya memelotot.
Naura berdecih. Seraya memandangi kamar Nayra dari sudut ke sudut.
"Kamar lo gak ada bagus-bagusnya juga, pelit amat jadi orang." Katanya mengejek. Naura, mengibaskan rambutnya yang tergerai, rambut yang bergelombang di ujung serta sedikit pirang.
"Gue kan cuman anak biasa, bukan anak kesayangan kayak lo." Ucapnya membuat Naura diam seketika.
"Gak ada ya gue anak kesayangan. Lo juga, kalau punya salah itu jangan apa-apa bawa-bawa nama gue." Naura mulai membicarakan apa yang sedari awal menjadi keganjalan dihatinya.
Nayra menatap tajam saudarinya "Maksud lo?"
"Ya lo, keliatan banget lo iri sama kehidupan gue."