"Lo bisa pecat dia gak?" Ulang Rafka saat tidak mendapat jawaban dari Arya, sedang pemuda itu terdiam cukup lama memikirkan permintaan sahabatnya yang menurutnya tiba-tiba.
"Gue bisa pecat dia. Tapi gue harus punya alasan untuk itu." Kata Arya ragu tanpa menoleh ke arah Rafka.
"Dia gak baik." Kata Rafka.
Arya mulai risih mendengar perkataan itu "Mungkin menurut lo gak baik, tapi dimata gue dia karyawan yang baik." Katanya mengoreksi.
Rafka mencoba mencari hal lain untuk menyakinkan Arya supaya mau memecat Nayra. Rafka tidak suka melihat Nayra susah bekerja, dia juga cemburu karena kini ia tahu sahabatnya bisa melihat orang yang ia cinta setiap hari. Andai Rafka tahu lebih dulu, mungkin ia sudah berusaha menghasut Arya untuk tidak mempekerjakan Nayra. Lagi pula, Abi tidak akan senang mendengar Nayra yang bekerja, itu sama saja mempermalukan Abi, seolah Abi tidak bisa mencukupi kebutuhan puterinya.
"Dia udah gak perawan!" Rafka dengan ragu mengatakan itu, mata Arya membulat hebat tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulut sahabatnya. Arya memicingkan matanya kearah Rafka.
"Gue gak butuh keperawanan seseorang cuman untuk ngecek barang, beres-beres atau jadi kasir. Itu bukan urusan gue. Gue butuh orang buat kerja, mereka yang kerja di gue, butuh gajih. Gak ada syarat khusus. Mereka kerja halal, bukan buat jadi p*****r, pakai harus perawan segala." Jelas Arya begitu panjang, tidak tahu saja dadanya mulai memanas. Ada amarah tertahan di dalam dirinya.
"Lo gak lagi berusaha hasut gue buat keluarin Nayra dengan cara tidak terhormat, kan?" Rafka terdiam.
Pemuda itu mendelik tajam "Lo cuma harus pecat dia, itu aja."
"Gue gak bisa pecat orang gitu aja, apalagi Nayra gak ada rekam jejak jelek selama kerja di minimarket gue." Emosi terlihat dari nada bicara yang mulai meninggi.
Rafka mengusap wajahnya prustasi "Gue gak suka dia kerja."
"Lo biayain hidup dia?" Rafka diam.
"Kalau enggak, ga usah ikut campur sama kehidupan dia. Mau dia kerja dimana pun, harusnya terserah dia, bukan terserah lo!" Rafka menggeram.
"Dia adek gue." Arya yang kini tidak bisa berkata-kata. Arya menatap Rafka tidak percaya kemudian tersenyum sinis.
"Lo suka sama adek sendiri?" Skak mat.
"Dia cuman anak pungut." Tambahnya. Rafka masih bersikeras supaya Nayra dikeluarkan dari pekerjaannya.
Arya menggelengkan kepalanya pelan "Gue gak nyangka lo bisa sekotor itu." Tatapan Arya berubah meremehkan.
"Lo kenapa sih, bersikeras banget mau Nayra di pecat. Bukan karena lo cemburu sama gue kan?" Mulut Rafka merapat.
"Lo juga kenapa kekeh gak mau pecat dia? Toh banyak orang yang mau kerja di tempat lo. Bukan karena lo juga suka sama Nayra, kan?"Arya terkekeh, mentertawakan sifat kekanak-kanakan Rafka.
"Mau gue ada hati sama siapapun, gue gak akan campuri hal itu sama pekerjaan, kalaupun itu sama Nayra." Arya menghembuskan nafasnya kasar, dia mulai jengkel membalas perkataan Rafka yang tidak ada arahnya.
"Sorry Raf, gue gak suka sama sikap lo. Karyawan gue, tanggung jawab gue. Hak gue mau pecat atau enggak. Gue masih bisa menilai, gue gak perlu penilaian orang lain. Dan lo_" Arya menatap kawan disampingnya dengan tajam.
"Apapun hubungan lo sama Nayra, kalau lo terlalu ambisi sampai nyakitin dia, gue yakin, sampai kapanpun lo gak bakal dapetin hati dia." Ungkap Arya tanpa memikirkan Rafka. Begitu susah payah Rafka membuat Nayra tidak memiliki siapapun disisinya, kini Arya malah mengatakan hal tidak mengenakkan untuk nya.
Arya bangkit dari duduknya "Gue tinggal, gue harus kerja dan lihat gimana karyawan gue kerja. Biar gue gak kehasut sama omongan orang yang gak tahu apa-apa." Rafka tertohok dengan ucapan Arya. Pemuda itu masuk kembali kedalam minimarket dengan berusaha menormalkan wajahnya yang kesal.
***
Abi duduk di kursi ruang keluarga bersama dengan umi dan Naura. Tv dinyalakan tapi tidak diberi suara. Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, mereka menunggu kedatangan anggota keluarga yang lain. Nayra dan Rafka belum pulang. Abi di landa emosi yang tertahan. Naura menunduk karena sempat dimarahi perihal pertengkarannya dengan Nayra di sekolah. Mereka berharap Nayra pulang lebih cepat untuk membahas masalah di sekolah.
Naura duduk dengan kepala tertunduk dalam. Hatinya tidak henti-hentinya mengoceh menyalahkan Nayra.
"Gara-gara Nayra, sekarang Abi marah sama gue. Gue harap Nayra pulang larut malam aja biar kemarahan Abi teralihkan. Kalau Nayra pulang larut, otomatis Abi akan marah karena Nayra pulang terlambat." Terlihat tangan Naura tidak bisa diam saling bertautan.
Umi berkali-kali melirik jam di dinding, berharap Nayra segera pulang agar tidak menambah amarah abinya "Nay, pulang Nay. Umi gak mau sampai kamu makin dimarahi Abi." Batin umi khawatir.
"Kenapa jam segini Nayra belum juga pulang? Dari pulang sekolah, gadis itu belum sampai kerumah. Ini sudah hampir malam." Marah Abi, melirik umi sekilas dengan mata tajam.
"Nayra kan emang sudah biasa tidak pulang dulu kerumah, bi!" Seru Naura malah memancing.
"Diam sayang." Bisik umi pada Naura untuk tidak menjawab.
"Benar-benar tidak jera, sudah berkali-kali dihukum, tetap saja tidak berubah. Haruskah aku hukum lebih berat?" Rahang Abi mengeras, geram dengan satu puterinya yang tidak bisa merubah diri.
"Sabar bi, mungkin Nayra ada kerja kelompok!" Kata umi berusaha menenangkan.
"Gak ada kerja kelompok sampai malam seperti ini. Apa yang di kerjakan?" Kata Abi dengan mata melotot. Umi terdiam. Suasana mulai memanas saat pintu depan terbuka kuat. Semua orang memandang kedatangan dua orang yang baru pulang itu.
Rafka pulang sambil menarik tangan Nayra yang terlihat berontak. Abi berdiri dengan wajah penuh emosi.
"Aku pulang." Ucap Rafka tanpa melepas cekalan tangannya pada Nayra.
"Kemana saja kalian?" Tanya Abi menatap keduanya tajam.
"Menjemput manusia yang tidak tahu diri." Kata Rafka sinis, Nayra yang mendengarnya melirik Rafka tajam.
Umi dan Naura ikut berdiri menyaksikan keadaan yang semakin buruk.
Rafka mendorong Nayra ke hadapan Abi, membuat Nayra berdiri di depan Abi tanpa menatap wajahnya. Nayra tertunduk dalam, siap menerima kemarahan. Tidak ada rasa takut, yang ada hanya rasa kecewa yang semakin dalam. Tidak akan ada pertanyaan nyata. Abi hanya meminta penjelasan nya tapi tidak akan di dengar. Baginya, itu hanya kebohongan. Sakit menembus jantung pun tidak akan ada artinya.
"Dari mana kamu, Nayra?" Tanya Abi penuh penekanan.
"Dia kerja, bi!" Rafka membuka suara, menjawab pertanyaan Abi.
"Kerja?"
"Dia kerja disebuah mini market punya teman Rafka, cukup jauh dari rumah dan sekolah. Dia kerja sudah hampir enam bulan." Abi, umi juga Naura saling pandang. Tidak menyangka Nayra sudah bekerja cukup lama tanpa ada yang tahu.
"Kerja? Untuk apa?" Tanya Abi. Nayra yang tertunduk mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap abinya. Mencari celah kasih sayang melalui mata. Tapi sepertinya Nayra tidak mendapatkan itu.
"Uang. Aku kerja supaya punya uang." Jawab Nayra, tangannya mengepal, mencoba menghilangkan rasa takut. Takut akan kemarahan Abi juga kata-kata yang akan keluar dari mulut beliau.
Walau pun orang memandang abinya paham akan agama, tapi emosi, amarah masih bentuk manusiawi. Nayra mewajarkan hal tersebut, walau semua itu hanya berlaku untuknya.
Abi berdecih "Uang? Saya selalu memberikan uang setiap kali kamu sekolah? Apa itu tidak cukup."
Sakit yang berusaha ia tutup, malah semakin dalam. Setiap denyutan jantung, semakin terasa pula sakitnya.
"Apa aku harus menjelaskan nya Abi? Uang yang Abi beri terkadang tidak cukup. Banyak iuran yang harus aku bayar, entah itu di kelas, uang kas, kerja kelompok. Aku tidak pernah memakai uang tersebut hanya untuk jajan Abi." Mata Nayra mulai memanas.
"Banyak keperluan pribadi aku juga yang harus aku beli sendiri. Setiap kali aku minta sama Abi, layaknya Naura, tapi Abi selalu bilang, untuk apa? Pakai saja uang yang selalu Abi kasih." Air mata meluncur membasahi pipi. Yang lain terdiam.
"Keperluan apa? Kamu tinggal bilang!" Ucap Abi, nada suara mulai turun.
"Apa aku juga harus bilang kalau aku harus beli dan ganti pakaian dalam? Umi saja tidak peduli akan hal itu? Terus aku harus mengemis?" Nayra terisak. Dadanya terasa lebih sakit dari sebelumnya.
Umi menunduk, merasa bersalah.
"Aku minta sekian rupiah saja Abi bahas, sampai bandingkan aku dengan Naura. Naura tanpa meminta aja selalu Abi kasih, bagian aku yang minta Abi hina-hina aku. Terus kenapa sekarang kalau aku kerja dan punya uang sendiri di permasalahkan?"