
Fella tidak percaya pada cinta—atau mungkin, ia hanya terlalu takut untuk percaya.
Baginya, cinta adalah gangguan. Ia lebih nyaman dengan kesibukan, jadwal yang padat, dan hati yang tenang tanpa gejolak. Tapi sejak satu pertemuan yang tak disangka, sesuatu mulai berubah. Bukan hal besar. Hanya tatapan mata yang tertinggal lebih lama, tawa yang menggema lebih dalam, dan kenangan yang bertahan terlalu kuat di kepala.
Fella mencoba melawan berkali-kali, tapi setiap kali ia diam, bayangan itu kembali. Setiap interaksi kecil tumbuh menjadi sesuatu yang tak bisa ia pahami, tak bisa ia singkirkan.
"Aku nggak suka dia," katanya. Berkali-kali. Pada dirinya sendiri. Pada temannya. Tapi apakah itu benar?
Dalam kisah tentang penyangkalan yang pelan-pelan luruh, dan perasaan yang tumbuh diam-diam seperti musim semi yang tak disadari—Fella akan belajar bahwa beberapa rasa tak bisa dihindari selamanya.
Dan terkadang, cinta bukan datang seperti badai… tapi seperti senyuman kecil yang muncul setiap hari, dan perlahan mengubah segalanya.

