Lelap ini mulai terusik, saat mendengar suara-suara entakan keras menghujam langit-langit. Berangsur tirai dimensi alam tergerai memilah. Kemudian, perlahan kucoba membuka pandang di antara dua dekapan pekat pada sepanjang tatap. Hampa, dingin, dan kaku tergolek pasrah menghadap dinding kecoklatan nan lembab.
Ingin rasanya mengatup, kembali ke dalam lena sediakala. Namun suara-suara tadi semakin gencar dan mendekat. Kini malah bertambah, seperti disertai gerakan mencakar-cakar kepingan penyekat gembur. Berhampiran searah baring di belakangku. Sampai kemudian, remang cahaya membuyarkan buta, seiring dengan terenggutnya satu per satu bilah penahan timbunan tanah di atas.
Tak berapa lama, terdengar dengkus napas memburu, antara balutan dera letih dan mungkin menekan rasa lain, berada dalam keremangan ceruk serta aroma khas menggidikkan.
"Maaf, ya. Ini terpaksa kulakukan, mengganggu tidur panjangmu, Kawan," ujar satu suara milik sesosok lelaki usai menyingkirkan seluruh bilah penyangga dinding tanah. Setelah itu, bergetar jemarinya meraih pundak ini. Menarik serta mengubah arah golekku menatap langit. "Ya, Tuhan!" pekiknya kemudian, begitu tatap mata itu menguliti sekujur tubuh ini. Berbalut kain putih memanjang dari kepala hingga ujung kaki.
"Hooeeekk!" Tiba-tiba lelaki itu memuntahkan seisi lambung di sisi tempatnya berjongkok. Busuk menyebar memenuhi ruang gelap di sekeliling, berbaur dengan sekumpulan cacing tanah yang mengerubungi sisa badanku. Lanjut merutuk disertai sumpah serapah memuakkan, "Sialan! Kalau saja bukan untuk memenuhi syarat dari dukun bangkeh itu, aku tidak akan sudi berurusan dengan hal seperti ini!"
Jujur, ingin rasanya memaki balik sosok itu. Bangkit, berontak, serta menyerang membabi buta hingga dia lari menjauh ketakutan. Namun apa daya, kujur ini telah lama membelenggu sampai waktu tertentu. Hanya mampu berharap dalam bisu, agar lelaki itu urung mengusik ketenangan rehat panjangku.
'Pergilah kau, manusia tengik! Biarkan aku kembali terbaring sendirian di sini!' jeritku sekuat upaya. 'Tak bisakah aku terlelap dalam kedamaian, tanpa harus kembali berbaur dengan urusan duniamu?!'
Lelaki itu hanya diam belaka. Kembali menatap tajam sambil menjepit lubang hidung, serta perlahan melucuti temali yang mengikat lekat kain lusuh pembungkus ragaku. 'Jangan! Tolong jangan lakukan itu! Aku mohon!' jeritku memelas pilu. 'Itu adalah satu-satunya perekat gaunku! Jangan biarkan aku lebih kedinginan di sini!'
Tak berguna. Suara ini hanya bisa didengar oleh sosok lain yang berdiri menancap di atas permukaan tanah sana, dengan cengkeram jemari meraup seisi lapisan bumi. Sementara lelaki itu hanya berucap bisik, melafalkan sejumlah kalimat aneh tak kupahami.
"Maaf, aku harus mengambil sebagian yang kaumiliki, Kawan," katanya dengan getar hebat melanda jemari. "Lagipula, kupikir kausudah tak membutuhkannya lagi, 'kan?" Seringai bergidik, menyeruak dari kedua garis pipi lelaki itu. Keji, begitu kira-kira tersirat pada bias merah bola matanya.
Usai melucuti separuh dari yang diinginkan, lalu sosok itu mengubah posisi jongkoknya. Melangkahkan tungkai di atas tubuhku, menyibak lapisan kain di area bagian tertentu, serta berbaring menyesaki begitu saja. Menyesuaikan sisa ruang sempit dan sepanjang kujur ini.
Kembali, aku hanya bisa diam dan terdiam. Tak ada rasa apa pun yang timbul dari pergerakan pinggul lelaki itu. Terkecuali ikut tergerak sesuai ritme tekanan maju-mundur pada bagian panggul. Terpaan napasnya menyapu ganas seisi wajah. Menusuk busuk hingga menembus kelopak mata ini yang telah lama tak berisi. Kosong melompong tanpa jangat, seperti kondisi penggalan ragaku lainnya.
'j*****m!' geramku tanpa daya. Pasrah menatap pekat wajahnya yang bersimbah peluh. Beberapa tetes malah menerpa dan jatuh, tepat memasuki rongga hampa hidung ini. Serasa ingin menangis, tapi tak lagi memiliki stok air mata. Terkecuali lirih menggumamkan sebait doa, semoga manusia terkutuk itu lekas menyusul ke dalam kehidupan serupa sepertiku.
"Aaahhhh ... !!!" Dia mendesah disertai tubuh mengejang sesaat. Berbarengan dengan lelehan hangat yang menjalari belulang panggulku. Di saat itu pula, seringai menjijikkan itu menyeruak mengejek. "Akhirnya, tuntas sudah ritualku malam ini juga. Cuih!" Air ludahnya memuncrat busuk. "Terima kasih atas pesta kita kali ini, Kawan. Kuharap kautenang kembali di alam sana. Hehehe."
Laki-laki itu berdiri mengangkangiku, seraya menarik tinggi celana dan membetulkan letak ikat pinggang yang sempat dikendurkan. "Kini, aku bisa menjadi manusia sakti mandraguna, hidup kaya raya bergelimang harta, serta kekal abadi dalam kemudaan. Hahaha."
'b*****h laknat!' Dia mencampakkanku begitu saja. Kembali naik ke atas permukaan, tanpa mempedulikan kondisi tubuh ini yang tersingkap dan ceruk porak poranda.
Tak berapa lama, lambat laun terdengar gaung lirih tangis sealam. Berasal dari rimbun dedaunan, batang pepohonan, akar tetumbuhan, juga lolongan makhluk najis bertaring menyenandungkan irama memilukan. Seakan mereka turut bersedih atas peristiwa nahas yang baru saja kualami. Mungkin pula ikut mengadu pada Tuhan tentang kebejatan dari makhluk bernama manusia, yang memilih mengabdi pada kemilau nafsu dan bersekutu dengan kaum terkutuk.
Tak ada yang mampu kuperbuat, terkecuali diam membisu dan kaku sepanjang waktu tertentu. Hingga bias hangat penerang alam mulai menampakkan diri di ufuk timur. Disusul suara-suara gaduh datang menghampiri dari atas sana.
"Ya, Allah! Perbuatan terkutuk siapa ini?!"
"Ada apa, Pak?"
"Makam Neng Lastri ada yang membongkar!"
"Lastri?"
"Iya! Kembang Desa yang meninggal beberapa bulan yang lalu!"
"Astaghfirullahal'adziim!"
"Cepat panggil kepala kampung! Kita urus kembali kuburan ini!"
"Baik, Pak!"
Kemudian langkah-langkah kaki itu mulai bertambah dan memenuhi area pemakaman. Riuh bercampur dengan suara perbincangan saling bersahutan.
"Ada apa ini?" Satu suara baru tiba sambil melongok ke arahku di bawah. "Ya, Tuhan! Lastri .... "
"Bagaimana sekarang, Pak?" tanya seorang warga.
"Cepat, uruk kembali makam ini! Rapikan seperti semula!"
"Baik, Pak."
'Tunggu!' seruku sambil mengingat. 'Sepertinya aku mengenali salah satu dari suara kalian! Dia yang semalam menggali dan menggauliku!'
Sayang sekali, tak ada yang mendengar. Kecuali sebuah seringai kecil di antara mereka, begitu penutup bilah terakhir itu terpasang dengan rapi. Menghadirkan kembali gelap di sepanjang pandang.
'Tolong! Jangan dulu tutup kuburanku! Dia yang melakukannya semalam! Dia ada di antara kalian!' jeritku dalam pekat dan dingin. 'Keluarkan aku dari sini! Hidupkan kembali aku, dan akan kubalas perbuatan keji laki-laki itu nanti malam!'
Tangis kering kembali menghiasi masa istirahat panjangku. Lirih sendirian bertemankan cacing-cacing tanah kelaparan. Melahap habis sisa raga ini hingga berubah ke bentuk semula, gumpalan tanah.
TAMAT