Entah mengapa, sudah beberapa waktu ini Mas Karyo tak banyak bicara. Tiap kali ditanya, suamiku itu jarang mau menjawab. Kalau tak membalas dengan senyum, paling juga dengkus napasnya itu yang akan bersuara. Kesal, sedih, kecewa, marah, atau apa pun itu, tak pernah dia bersedia membuka suara. Jadi bertanya-tanya, 'kan? Pusing, apalagi.
"Mas, kamu ini kenapa, sih?" tanyaku kesal sudah dua hari tidak diindahkan. "Tiap kali kutanya, kamu diam. Paling cuma senyam-senyum tak puguh. Ada apa, sih?"
Seperti biasa, dia cuma melirik sejenak. Senyum kecut, lalu kembali menatap layar komputer yang sedang menayangkan acara live Youtuber Iqbal, Sableng TV.
"Mas marah sama aku?" tanyaku kembali menahan rasa kesal. Karakter alamiku mulai kambuh. "Apa karena sikapku? Masakanku? Cucian? Pelayanan, perawatan, pengobatan, atau mungkin ... kurang goyangan? Jawab dong, Mas! Aku nanya!"
Mas Karyo menggeleng. Dia menatapku, kemudian meraih jemari ini dan meremasnya. "Kamu cantik," katanya lembut seraya mendaratkan kecup.
"Apa susahnya, sih, menjawab? Mas tak bisu, 'kan?" Suaraku merendah begitu kecup itu mampu menurunkan tensi dalam kepala. "Apa karena efek lockdown ini? Mas tak bisa ke mana-mana maupun kerja? Mas pusing? Depresi?"
Ah, tak mungkin Mas Karyo tertekan seperti itu. Sudah dua malam ini dia membantaiku habis-habisan di tempat tidur. Kalau psikisnya sakit, tak mungkin bisa sinkron dengan kekuatan fisik. Yang ada malah jauh lebih brutal dari waktu-waktu sebelum kemarin itu. Sampai-sampai, aku tak mampu bangun pagi dan jalan kaki. Lutut ini serasa tanggal dari engselnya.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Tenanglah," ujar Mas Karyo kembali menatap layar komputer.
"Kalau memang tak ada apa-apa, kenapa sikap Mas jadi lain begini? Kelakuan Mas jadi aneh," rajukku hampir menangis.
Laki-laki itu bangkit, menarik dan menjatuhkanku dalam dekapan hangatnya. "Aku sedang tak ingin banyak bicara saja, Sayang."
Aku tersedu sedan. Bingung menghadapi laki-laki yang belum setahun ini menjadi pendamping hidup. Haruskah memekik kuat agar semuanya terkuak? Tidak. Tak ada bakat menjadi lady rocker maupun darah komandan upacara dalam tubuh ini. Kalaupun menjerit lirih, paling saat kubangan sel-sel tertentu berdesir kuat menuju gerbang pembukaan alam.
"Mas .... "
"Sssttt," desis Mas Karyo seraya menempelkan telunjuknya di bibir ini. "Ikut aku, yuk."
Selalu itu yang dia lakukan. Saat amarahku mulai memuncak, Mas Karyo segera menyeret diri ini memasuki dimensi alam lain. Penuh jalanan terjal dan berbukit-bukit.
"Apalagi? Itu lagi, Mas?" Seketika aku melemas. Ngilu di dengkul ini baru saja berkurang, kini terancam kambuh kembali menyerang persendian.
Mas Karyo tersenyum, seraya mengulang kalimat sebelumnya, "Kamu cantik sekali, Sayang."
"Ih, Mas ini .... "
Kalau sudah begini, aku tak kuasa menampik. Apa sebab? Lho ... enak kok, ditolak? Bisa-bisa berusak!
Usai semuanya berakhir mencair, kami pun tenggelam dalam diam. Tergolek di tengah lautan seprai yang bercerai-berai. Tak kuasa bangkit, di antara belenggu linu yang melekap sakit.
TOK! TOK! TOK!
Terdengar suara ketukan di pintu depan. Entah siapa. Kumerabai samping kasur dengan mata masih terpejam, mencari sosok Mas Karyo. Tak ada siapa-siapa di sana.
"Mas," panggilku dengan penat menggayuti seisi sendi. "Mas, tolong bukain pintu, dong!"
Laki-laki pendiam itu tak menyahut. Seperti biasa, hanya keheningan yang membekap. Terpaksa aku bangun, menuruni jurang ranjang yang mendadak terasa curam. Kemudian tertatih letih menuju pintu depan dengan balutan busana seadanya.
"Siapa, ya?" tanyaku sebelum memutar kancing kunci di liang induknya.
"Aku, Dik. Buka pintu," jawab satu suara yang sangat kukenal.
Mas Karyo?
Mengapa laki-laki itu ada di luar? Bukankah barusan ....
"Mas?" Kutatap heran wajahnya yang kusam mengilap, lengkap dengan aroma tubuh khas seorang pejantan pulang dari medan penafkahan.
"Lama amat, sih, Dik? Kamu abis tidur?" Mas Karyo memandangku sejenak, lalu segera masuk ke rumah. "Ini baru jam tujuh petang, lho, Dik."
Mulutku menganga. "Abang dari mana?"
Dia tersenyum geli. "Ya, abis kerjalah, Dik. Memangnya dari manalagi?"
"Tapi .... "
"Ada apa, sih?" Mas Karyo duduk terkapar di atas kursi. "Dua hari ini aku kerja serabutan, Dik. Maklumlah. Lagi pandemik begini, susah nyari kerjaan. Kalau diam terus di rumah, bagaimana kita bisa makan? Iya, 'kan?"
"Mas .... " Kusapu pandangan ke semua penjuru rumah. Ruangan lain. Tak ada yang aneh. Kecuali hanya aku dan suamiku. Kini, dia sudah tak pendiam lagi.
Sekarang justru akulah yang berubah tak bisa berkata. Limbung menjejak kaki. Kemudian perlahan semua memudar. Berubah menjadi satu warna. Hitam pekat.
TAMAT