TANGISAN DI PENGUJUNG MALAM

894 Words
Malam itu aku duduk termenung seorang diri di ruang tengah, bertemankan segelas kopi hitam kental dan sebungkus rokok kretek kegemaranku. Hembusan nafas berat bercampur asap nikotin sesekali menghentak kesunyian di antara remang cahaya lilin kecil yang mulai redup. Sebentar lagi pasti akan segera padam, saat batang habis terbakar. Entah kapan listrik ini akan menyala, sejak hujan deras mengguyur sore tadi, tiba-tiba PLN memutus aliran. Aku segera bergegas mengambil potongan lilin baru untuk mengganti yang telah mulai habis meleleh, agar nyala api tetap terjaga. Sambil sesekali melihat-lihat kondisi anakku, Reyhan, yang masih terlelap di atas peraduan, di bilik kamar tidur sebelah. Kasihan sekali anak itu. Diusia masih menyusui, dia baru saja kehilangan sosok ibu kandungnya tadi siang. Ya, istriku baru saja meninggal dunia. Pagi hari tadi saat hendak berangkat kerja, masih terlihat senyuman manis di bibirnya. Mengiringi langkahku untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang suami sekaligus ayah dari anakku yang baru berusia satu setengah tahun, mencari nafkah dan bekal penghidupan. "Hati-hati di jalan, ya, Bang. Jangan terlalu sore pulangnya," ujar istriku dengan suara lirih dan wajah yang tampak pucat. "Kamu sakit, Neng?" kuraba dahinya sebentar. Terasa sedikit panas, "kamu demam?" Dia tersenyum, "Mungkin efek dari batuk, Bang. Aku sudah minum obat, kok." "Ya, sudah. Kamu istirahat saja dulu. Biar tugas rumah aku yang kerjakan nanti, sepulang dari sawah." "Iya, Bang," jawab istriku sambil menyerahkan tempat makanan untuk bekal aku makan siang nanti di sawah, "Abang tidak usah risau memikirkanku. Mungkin setelah tiduran, demam ini akan segera reda." Setelah mengecup keningnya yang panas, aku segera melangkah pergi meninggalkan istriku serta Reyhan. "Hati-hati di jalan, Bang!" Kalimat itu yang terakhir kali terucap dari bibirnya pagi tadi dan sekaligus kudengar, untuk selamanya. Karena sepulang dari sawah dan tiba di rumah, hanya suara tangisan Reyhan yang nyaring terdengar. Anak itu nampak tergolek di samping tubuh ibunya yang sudah terbujur kaku dan dingin. Istriku meninggal dunia. Aku terperanjat dari lamunan seketika saat suara tangis Reyhan membuncah keheningan malam dari bilik kamar tidur. Segera kuburu tubuhnya dan mendekap erat anak itu di balik cengkeraman lengan ini untuk memberinya sedikit kehangatan. Lalu kubawa ke tengah ruangan yang lebih terang dengan nyala lilin yang baru saja diganti. Tangis Reyhan semakin menjadi. Anak itu tidak juga mau diam dalam dekapan, walaupun sudah kusumpalkan dot botol berisi s**u Kambing yang masih hangat. "Kamu pasti lapar, kan, Nak?" bisikku lirih sambil mengayun-ayun tubuh Reyhan agar segera tenang. "Minumlah s**u ini, ya?" Hanya sesaat Reyhan mau mereguk s**u yang kuberikan, sebentar kemudian kembali dia menangis. Menangis, menangis dan menangis. Bahkan sampai berapa lama anak itu meronta dalam tangisnya, aku tak tahu. Pekiknya semakin keras. Sampai kemudian .... Aku mendengar suara-suara gemeretak dari arah luar rumah. Kupasang lebih kuat telingaku di antara suara-suara rincik hujan yang masih turun. Ya, suara itu sesekali terdengar sangat jelas. "Pencurikah?" tanyaku dalam hati. Perlahan aku kembali ke bilik kamar tidur dan menaruh tubuh Reyhan yang masih menangis, di atas kasur. "Sebentar, ya, Nak. Bapak mau memeriksa kandang kambing dulu. Siapa tahu ada pencuri di sana." Setelah mengambil parang yang terselip di dinding kayu, aku segera bergegas menuju kandang kambing yang berada persis di belakang rumah. Sambil mengendap-endap di tengah kegelapan, perlahan aku berjalan selangkah demi selangkah dengan bilah parang yang siap terhujam. Bersamaan dengan itu tiba-tiba tangis Reyhan mendadak berhenti. "Mungkin anak itu tertidur kelelahan ... " gumamku dalam hati. Tidak! Reyhan tidak tidur. Samar-samar kudengar suara-suara gemericik seperti suara anak kecil yang sedang lahap meminum s**u. "Mungkin Reyhan sedang mengisap ibu jari tangannya sendiri .... " Sekali lagi aku berusaha memusatkan pikiran di antara intaian kandang kambing dengan suara Reyhan. Tapi kondisi anakku rasanya tak boleh kulalaikan. Apalagi suara decak mulut anak itu semakin jelas terdengar di balik dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Penasaran, aku mencari-cari lobang kecil dinding bilik bambu untuk melihat kondisi Reyhan. Sisa penerangan lilin yang ada di ruang tengah sedikit membantu penglihatanku menerobos keremangan suasana kamar tidur. "Ya, Tuhan!" Hampir saja aku terpekik kaget di balik lubang bilik yang digunakan untuk mengintip. Di dalam kamar tidur itu samar-samar kulihat ada sesosok putih tengah memangku dan menyusui anakku, Reyhan. Kuusap mata berulang seakan tak percaya dengan apa yang terlihat barusan. Tapi mata ini tetap menangkap sosok yang sama itu di antara keremangan sisa cahaya lilin. Dan yang lebih mengejutkan lagi, tiba-tiba sosok itu berkata pelan dan nyaris tak terdengar di antara riuh rintik hujan yang menghantam bumi. "Ikutlah denganku ya, Nak." Seketika aku segera menghambur memasuki rumah memburu kamar tidur, di mana Rayhan tadi kutinggalkan. "Reyhan!" Tidak ada siapa-siapa di sana, kecuali anakku sendiri. Lalu sosok putih tadi? "Neng, kaukah itu?" Tiba-tiba aku teringat pada sosok istriku yang telah meninggal tadi siang. Tidak ada jawaban selain keheningan malam. Aku segera memeriksa kondisi Reyhan. Anak itu sedang terlelap tidur. Nafasnya masih ada. Tubuhnya juga hangat seperti biasa. Syukurlah! Tidak terjadi apa-apa pada anakku. Mungkin saja sosok yang kusaksikan tadi hanya sekedar tipuan penglihatanku saja. Hasil dari bias cahaya lilin yang memantul dari ruang tengah. Bisa jadi. Saat itu yang diinginkan hanyalah memeluk anakku. Memberinya kehangatan dari desiran angin malam yang menerobos dari celah dinding bilik bambu. Kehangatan. Ya, kehangatan. Kehangatan? Tiba-tiba aku terbangun dari lelap yang sesaat tak terasa menyergap. Reyhan, anak itu .... Tidak ada lagi kehangatan di tubuh anak itu. Kecuali rasa dingin dan kaku. "Reyhan .... " setengah berteriak aku berusaha mengguncang-guncang tubuh anak itu yang tetap terpejam dalam diam. T A M A T
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD