Waktu makin mendekati pagi. Sisa seduhan air kopi beberapa jam lalu, masih tersisa di dalam gelas. Dingin terkena hembusan angin dini hari. Ada beberapa sosok yang bertahan duduk di bawah saung pos ronda. Aku dan seorang teman, serta dua anak muda pegiat begadang selama bulan Ramadan. Ditemani kepulan asap nikotin dari berbagai merek rokok dan rasa, juga penganan singkong bakar, kami bercakap-cakap ‘ngaler-ngidul’ (ke sana ke mari) berganti-ganti topik. Sampai kemudian, di penghujung waktu jaga pembicaraan pun berbelok ke genre horor. Tanpa komando, celetukku memecah sunyi, “Eh, Kriwil, kamu ceritain pengalaman waktu kerja di seberang, dong.”
Temanku yang bukan bernama asli Kriwil, tersenyum kecut. Mungkin karena kata panggilan terhadapnya tersebut. Suka saja menyapa dia demikian. Itu berdasarkan bentuk rambut yang bersangkutan memang begitu adanya. Keriting kecil-kecil, nyaris jarang berteman akrab dengan jenis sisir biasa.
Si Kriwil mereguk terlebih dahulu sisa kopi yang ada, menyulut rokok lalu lanjut bertanya, “Cerita yang mana, Om?”
Usia kami memang terentang jauh. Dia baru terlahir saat kusudah duduk di bangku kelas dua SLTP. Jadi wajar jika sapaan baliknya pun berbeda. Mungkin juga karena ada aroma flamboyan di wajah ini, atau bisa jadi itu disebabkan oleh pancaran aura lain. Casanova, misalnya? Tak penting untuk dibahas.
“Ya, waktu kamu kerja di daerah Kalimantan lalu,” jawabku seraya ikut menyalakan sebatang rokok. Bersiap mendengarkan untuk bahan tulisan hari ini. Sebab, bakal memakan waktu panjang mengikuti kisahnya.
“Oh, begitu,” ucap si Kriwil diiringi cengengesnya. Kemudian, “Pada jaman dahulu .... “
“Etdah! Dipikir ini acara TV aki-aki ngedongeng?” sambarku begitu mendengar mukadimah dia tadi, disambut gelak tawa berjamaah. Terkecuali dua anak muda pegiat begadang. Mereka masih asyik masyuk memainkan ponsel masing-masing. Belum begitu antusias bergabung dengar bersama kami.
“Baiklah, begini ceritanya .... “
? ? ? ? ?
Aku menggigil kedinginan, di tengah cuaca kota Balikpapan yang begitu panas. Padahal sudah dibungkus ketat jaket tebal. Bahkan berbutir-butir sudah obat resep dokter memenuhi lambung, namun demam ini tak kunjung reda.
“Bagaimana, sudah lebih baik?” tanya Sanad sahabat sekamar kosan. Aku menggeleng lemah. “Sudah dua pekan, ya? Belum ada perubahan.”
“T-tak t-ahu, Nad. A-ku rasa percuma saja berobat. Tak ada hasil sikit pun,” ujarku di tengah serangan rasa dingin yang mencucuk pori. Sedangkan, suhu tubuh ini justru panas.
Sanad tampak berpikir sejenak, sampai kemudian dia berkata, “Bagaimana kalau kau dipijat saja. Sekalian ‘cabut angin’.”
“Cabut angin?” Keningku berkerut. Istilah aneh dan baru. Apa pula itu?
“Iya, cabut angin,” jawab Sanad dengan logat lokal kentalnya. “Mungkin kau masuk angin.”
Bisa jadi juga, sih. Sakit ini mendera tak lama setelah pulang dini hari lalu. Menghadiri pertunjukan musik reggae di alam terbuka, sebuah pesisir pantai sampai pukul dua pagi. Asyik menikmati suasana malam di bawah pohon ketapang yang banyak berjajar di sekitar tempat tersebut. Hingga akhirnya tersadar jika harus pulang larut.
Paginya perlahan mulai merasakan ada yang tak beres. Panas dingin serta pusing berkepanjangan. Untunglah ada teman sekamar yang mau membantu. Bolak-balik ke balai pengobatan dengan biaya yang tak sedikit. Itu berjalan hingga beberapa hari. Hasilnya? Tak ada. Pihak medis tak menemukan keganjilan dalam tubuhku. Semua hasil pemeriksanaan menunjukkan grafik sehat. Lalu ada apa denganku?
O, iya ... pernah sekali mendengar ucapan seseorang, bahwa di bumi Kalimantan ini ada waktu-waktu tertentu yang sebaiknya tidak dilanggar. Misalkan, beraktivitas di luar tanpa ada maksud dan tujuan jelas. Waktu tersebut ada tiga; Duhur, Asar, serta dini hari seperti kemarin. Apalagi tempatnya memang begitu. Lepas pantai. Mirip seperti yang berlaku di daerahku sendiri.
Menjelang Magrib sampai Isya adalah waktu-waktu ‘pamali’ untuk berada di luar. Sanekala atau sareupna, itu istilahnya. Entah di sini. Namun belum terbersit untuk menyambungkan penyebab sakitku pada hal-hal lain, terkecuali faktor alam tadi. Masuk angin!
“Jauh tak tempatnya?” tanyaku kembali setelah lama berpikir. Sanad menggeleng seraya menjawab, “Aku tahu tempatnya. Tak terlalu jauh dari sini. Kalau kau mau, sekarang juga kita berangkat ke sana.”
“Kita?”
“Ya, kita. Kau dan aku. Siapa lagi?”
“Oh, begitu. Kau mau antar aku ke sana?”
“Tentu saja. Mengapa tidak? Aku, kan, kawanmu. Sekamar pula,” jawab Sanad antusias. “Memang kau bisa pergi sendiri dengan kondisi kesehatanmu seperti itu?”
Aku tersenyum kecut. “Sekarang?” Sanad mengangguk diiringi ucapan, “Ya, sekarang. Kapan lagi? Mumpung hari belum siang benar.”
Aku menyanggupi dan memenuhi anjuran Sanad. Dengan bekal sepeda motor butut, kami berangkat saat itu juga. “Perkiraan, kita akan tiba di sana sebelum waktu Duhur, Kawan.”
“Iyakah?” Aku memajukan letak duduk agar lebih merapat ke tubuh Sanad. Walau sudah dibalut jaket tebal, rasa dingin ini makin menjadi. Apalagi dibonceng di atas motor. Hembusan angin di sepanjang perjalanan seperti ribuan anak panah yang menghujam.
“Ya, begitulah. Kau tahan dulu, ya, sampai tiba di sana.” Sanad mengingatkan. Laju roda dua dipacu kian cepat. Menembus jalan beraspal yang dikelilingi pepohonan tinggi menjulang. Bumi Kalimantan.
Beberapa waktu kemudian, kami tiba di tempat tujuan. Sebuah daerah perkampungan di perbukitan yang masih asri. Lengkap dengan bentuk rumah alami. Bergaya panggung dan berbahan hampir seluruhnya dari kayu. Termasuk kediaman satu ini.
Sanad memarkir sepeda motor tepat di depan sana. “Turunlah,” titahnya kemudian. “Ini tempatnya?” tanyaku agak ragu. Sanad tak menjawab.
Rumah tua namun terlihat masih kokoh. Dikelilingi pepohonan hijau. Sekilas mirip seperti suasana di daerah kelahiranku.
Sanad mengetuk pintu. Tak berapa lama muncul sesosok wanita tua dari dalam. Memperhatikan kami. Terutama padaku, dengan sorot yang tajam dan aneh.
Sesaat terdengar percakapan mereka berdua dengan bahasa lokal yang tak kupahami. Kemudian Sanad menoleh dan berujar, “Kita pulang lagi sekarang juga.”
Aku terkejut. Jauh-jauh datang malah disuruh balik kembali. “Lho, kenapa?”
Sanad melirik sosok perempuan tua itu sebentar, lalu menjawab, “Nanti kita datang lagi ke sini setelah waktu salat Magrib.”
“Kenapa tak sekarang saja, sih, Nad?” Aku masih penasaran. ‘Sedari tadi bertahan melawan arus dingin. Setengah hari ke depan bakal menghadapi suasana sama. Ampun, deh!’
Sebelum menjawab tanyaku, Sanad berpamitan terlebih dahulu pada penghuni rumah.
“Nanti aku ceritain selepas pergi dari sini, Kawan. Sebaiknya kau menurut saja. Jangan banyak bertanya,” tambah Sanad begitu laju sepeda motor mulai meninggalkan tempat tersebut. “Jangan lupa nanti sekalian bawa air putih dan garam sekepal tangan.”
“Buat apa?” Aku makin tak paham. “Turuti saja. Itu permintaan nenek tadi, kok. Bukan aku,” jawab Sanad datar.
Aku manggut-manggut. “Oh, nenek yang minta. Baiklah.”
Belakangan kutahu bahwa sosok wanita tua tadi itu adalah seorang tabib. Kerap dipintai tolong warga sekitar untuk berobat. Terutama dengan masalah pijat badan. Kebanyakan justru masalah bayi keseleo, patah tulang, dan sejenisnya. Makanya dia lebih dikenal sebagai ‘dukun bayi’.
Masalah menolak permohonan pengobatanku tadi siang, ternyata itu ada hubungannya dengan mitos dan/atau adat istiadat setempat. Duhur dan Asar pantang melakukan aktivitas apa pun. Termasuk mengobati pasien sepertiku. Ah, aku tak bisa berkata apa-apa. Faktanya, tak jauh berbeda dengan kebiasaan yang seringkali ada di daerah sendiri.
Mengenai syarat yang dipinta berupa air putih dan garam, aku pun tak banyak bertanya. Lagi-lagi karena faktor kultur senada. Makanya tak begitu heran.
Singkat cerita di waktu yang dipinta, kami datang kembali ke tempat tersebut. Lengkap dengan barang yang dipesan. Dua botol air kemasan ukuran besar dan garam halus sebesar kepalan tangan.
Setelah bercakap-cakap sebentar, sosok wanita tua yang dipanggil ‘Nenek’ tadi menyuruh membuka baju. Mungkin akan dikerok, pikirku.
“Tengkurap!” titah nenek tadi kemudian membalurkan minyak tertentu ke atas punggungku, setelah sebelumnya dibacakan ayat serta kalimat suci. Suasana pun berubah sakral. Laksana ritual keagamaan penuh kekhusyukan. Dipijat sedemikian rupa dari tengkuk hingga pinggang.
Langkah selanjutnya, aku dipinta menelentang. Kemudian sang nenek menyelipkan sesuatu di antara jari kakiku. Benda bulat panjang mirip batang lidi, namun keras dan meruncing di ujung. Seketika rasa sakit dan panas menghujam daerah kaki. Jerit histeris menghiasi seisi rumah panggung kayu.
Sempat melihat Sanad menatap pilu. Hanya bisa terpaku dalam diam di sudut ruangan.
“Bagaimana rasanya?” tanya nenek setelah mengambil benda yang menyelip di jari kakiku. “Panas, Nek!” jawabku bersimbah peluh panas.
“Hhmmm .... “ sosok tua itu hanya mendeham, lalu kembali menyelipkan benda tadi di lain ruas jemari kaki. Seketika itu juga aku langsung menjerit kesakitan. Berulang-ulang dia lakukan, sampai kemudian perlahan rasa panas itu berangsur-angsur menghilang.
“Bagaimana sekarang, Nak?” tanya nenek. Aku tersenyum. “Sudah agak mendingan, Nek,” jawabku mulai lega. Wajah nenek yang dingin berubah kecut. “Hhmmm.”
“Aaaahhh!” jeritku kembali terdengar membahana. Terakhir kalinya nenek menghujam ujung benda runcing itu tepat di antara jemari tengah dan jempol kaki.
“Keluar!” sentak nenek mengejutkan. “Keluaaarrr!”
? ? ? ? ?
“Ternyata ada sosok lain yang mengikutiku, Om, sejak dari acara di pantai malam itu,” tutur Kriwil jelang akhir cerita.
“Sosok apaan? Jurig?” terkaku, “ ... atau kuntilanak?”
Dua pasang mata milik anak muda di sebelah kami tiba-tiba membelalak.
Kriwil mengangguk. “Ya, itu dia.”
GLEK!
Aku menelan ludah basi di pagi janari itu. Mana hari sepi. Sementara waktu jaga masih panjang. Mana cuma ada orang yang hadir di pos ronda.
“Lalu, benda yang dipegang si nenek buat media pengusir makhluk dari dalam tubuh Bang Kriwil itu, apa?” tanya salah satu anak muda tadi.
“Itu duri landak!” jawab Kriwil.
“Kok, bisa dijadikan alat buat ngusir setan? Memang jin bisa mati kena cucuk lanak?”
Mendadak timbul sifat usilku. Segera ikut menjawab, “Jangankan sebangsa jin, macan aja kalo makan landak, mati. Noh, ada videonya di Youtube. Kumis harimau bertambah lebat dan berubah jadi keras, usai menyantap daging landak.”
Sayang, tak ada yang tertawa. Candaku garing rupanya.
“Terus alasan si Kukun itu ikut sama Bang Kriwil, apa?” Rupanya si anak muda masih penasaran.
“Dia naksir sama gue!”
“Tahu dari, Bang?”
“Nenek itu yang ngomong.”
“Syukurlah,” gumamku tak sadar.
“Syukur apanya, Om?” tanya Kriwil. “Minimal di kondisi kamu yang lama ngejomlo ini, masih ada sosok lain yang menaruh perhatian khusus sama kamu,” kataku tanpa rasa bersalah sudah mulai kambuh membuli.
“Sialan!” rutuk yang bersangkutan disertai kekehannya. “Tapi masih ada cerita lain yang lebih seru, ini, Om.”
“Cerita apalagi? Memoriku udah mulai mentok, ini,” ujarku siap-siap pasang kuping.
“Ini tentang ... MINYAK KUYANG!”
Wah, seru juga. Pasti bakal panjang lagi. Tapi waktu sudah mulai menyusut pagi. Beberapa titik tempat peribadatan sudah mulai nyaring dengan suara-suara lantunan ayat suci Al Quran. Kami terpaksa menyudahi kerumunan. Kembali ke rumah dan bersantap sahur.
“Lain kali, deh, aku lanjut,” kata si Kriwil bergegas meninggalkan pos ronda RT 05/01.
Ya, sudah. Bahan tulisanku hari ini hanya bisa menyajikan satu bahasan. Sisanya mungkin lain waktu sampai si Kriwil berkenan berbagi cerita baru pengalamannya.
SELESAI