PISAH RANJANG

1233 Words
Alisa menatapku garang. Matanya terbuka lebar seperti bersiap-siap hendak melahap bulat-bulat. Ujar perempuan itu kemudian di antara pacuan napas memburunya, "Jangan coba-coba dekati aku malam ini! Aku benci sama kamu, Mas!" "Mau ke mana kamu, Lis? Obrolan masalah kita belum usai," balasku seketika begitu melihat Alisa hendak beranjak. Dia mendengkus keras, lalu menjawab, "Aku mau tidur sendiri, dan kamu jangan masuk kamar!" "Lis!" panggilku mencoba menahan. Namun perempuan itu tak mengindahkan. Dia berlalu sambil terisak, meninggalkanku sendiri di ruang tengah. 'Dasar perempuan keras kepala! Setiap kali marah, selalu saja begitu! Menghindar tanpa punya rasa bersalah! Huh!' Ini bukan kali pertama. Entah sudah yang keberapa. Perselisihan kami tak pernah berujung solusi. Sama-sama saling mempertahankan ego sendiri. Dia dan aku memang memiliki karakter serupa. Keras. Sepeninggal Alisa, aku mencoba merenung sejenak. Seraya memperhatikan akuarium yang berisi aneka jenis ikan hias. Mereka berbeda dalam satu tempat sama, tapi satu dengan lainnya tak pernah saling mengusik. Terlihat akur berlarian ke sana ke mari di antara gelembung air dan dekorasi tetumbuhan buatan. Tidak seperti kami. Hanya berdua, akan tetapi kerap saling menyakiti melalui lisan-lisan tajam. Terpaksa, seperti biasa, malam ini akan kembali melewati dingin serta pekatnya alam hingga fajar menyingsing dalam balutan selimut kesepian. Tanpa pelukan maupun desahan hangat penuh gelora. Aku paham, tak mungkin mengejar Alisa hingga ke kamar dan memaksanya berbicara panjang lebar. Dia akan memberontak, histeris, atau bahkan mengusirku secara kasar. Biarlah menunggu sampai amarahnya mereda. Paling tidak dengan cara pisah ranjang seperti ini, hati kami akan digayuti bisik-bisik rindu. Sebagaimana yang telah terjadi sebelumnya .... Ditunggu sekian lama, belum juga ada derit pintu kamar tidur terkuak diiringi langkah menghampiri. Masih saja seperti tadi, aku duduk sendiri di atas sofa dengan hujaman rasa kantuk yang sudah mulai mendera. Mungkin kali ini Alisa memang benar-benar marah, pikirku pasrah. Usai mematikan lampu utama, aku kembali meringkuk setelah membuka lipatan busa sofa, tempat duduk favorit yang juga bisa digunakan untuk rebahan. Cukup untuk menampung dua orang. Aku dan Alisa. Di sana pula kami sering menghabiskan waktu bersama. Menonton televisi, atau juga mereguk kenikmatan ragawi disertai lenguh erotik dan decak peraduan organ tubuh khas dua jenis manusia. 'Apakah sebaiknya aku ikuti Alisa saja, ya? Meminta maaf, memenuhi keinginannya, lalu kita ...." gumamku terhenti bersamaan dengan hadirnya gema handle pintu di dalam sana berputar sebentar. 'Itu pasti Alisa. Syukurlah, akhirnya dia mau mengalah juga. Mendatangiku, lalu merayuku untuk menemaninya tidur seperti biasa. Hhmmm, salah satu kelemahan perempuan itu ... ya, dia tidak bisa tidur sendirian selagi aku ada di rumah. Baguslah, artinya kali ini Alisa bersedia mengakui kembali kekalahannya." Aku langsung pura-pura terpejam. Tergolek miring memunggungi arah cahaya lampu kehijauan yang berasal dari penerangan akuarium. Sebentar kemudian, terdengar langkah pelan menghampiri. Lalu usapan lembut menyusuri bahu. "Mas Arya ...." Lirih seseorang memanggil namaku dari arah belakang. "Bangun, Mas. Aku tak bisa tidur ...." Jujur saja, aku senang sekali. Perkiraanku beberapa saat lalu, kini terbukti. Namun tak lantas membuat tubuh ini berbalik spontan, masih harus sedikit mendramatisir keadaan. Paling tidak, berdiam diri terlebih dahulu agar benar-benar terkesan sudah terlelap lama. "Mas ...." Kembali suara itu memanggil. Kali ini disertai lasah alas sofa yang terinjak disertai sedikit goncangan akibat lesak busa terbebani. Kemudian, diikuti dengan sentuhan empuk menerjang area punggung. Aku tahu gerangan apa yang kini menempel kuat di belakang sana, apalagi disertai belitan memanjang melingkari perut, lalu usapan lembut menyusur hingga sejengkal ke arah bawahnya. Aku tersenyum. Alisa memang paling paham cara menaklukan diri ini. Sebentar kemudian, jemari lentik itu bergerilya di balik pagutan ritsleting. Memilin-milin sebentar dengan embusan napasnya menerpa tengkukku. "Aku tahu. Kamu belum tidur, 'kan?" bisik Alisa menggoda. "Aku merasa denyutan kuat mengentak dalam genggamanku. Senormal itukah seorang laki-laki yang tertidur?" Aku hampir saja tertawa. Untung saja masih bisa ditahan. Diawali deham pelan dan geliat kecil guna melonggarkan sedikit ruang celana yang mendadak menyempit, kubalik tubuh ini hingga sama-sama terbaring miring saling beradu tatap dengan Alisa. "Kenapa? Kamu menginginkanku, Lis?" Perempuan itu mendengkus. Hampir saja dia menarik tangannya dari area favorit, sampai buru-buru kucegah. "Tetaplah jemarimu menari-nari di sana, Lis. Itu bisa membantuku menumbuhkan bibit-bibit rindu yang baru akan kehadiranmu." "Gombal!" rutuk Alisa diiringi tawa kecil seraya mencekikkan kuat-kuat genggamannya. Spontan, aku pun melenguh, "Auhh! Sakit, Lis!" "Biarin ...." timpal perempuan itu. Sesaat kemudian menyeringai penuh makna. Tanya, "Mau yang tidak menyakitkan?" "Apa?" Aku pura-pura tak paham. Namun otak ini sudah terlebih dahulu menduga. Di sisi lain, aku senang dia sudah melupakan pertengkaran tadi. Sepertinya begitu. Tiba-tiba saja Alisa bangkit. Mendorong bahuku hingga tubuh ini terlentang lurus menghadap langit-langit, lantas dengan sigap duduk menunggangi. Tepat berada di atas panggulku disertai kuncian kuat kedua pahanya. Nanar mataku menatap balutan busana yang dikenakannya. Berwarna merah marun dengan jenis kain katun tipis bercorak sirlak. Mengerlap diterpa temaram cahaya dari lampu akuarium, seakan-akan hendak menghipnotis lebih dalam. "Gaun tidur baru, Lis? Aku baru lihat. Bau parfummu juga beda .... " Aku mencoba menyelidik di antara degup jantung yang kian mengencang. "Diamlah, Mas ...." timpal Alisa seraya menarik paksa pagutan ritsleting celanaku. "Sudah lama aku menginginkan ini. Baru kini, malam ini, impianku terwujud." Oh, mungkin maksudnya b******a dengan balutan busana tidur baru Alisa, pikirku. Di sofa? Mengapa tidak. Dimana pun akan tetap sama. Hasilnya pasti memuaskan. Yang berbeda hanya pada sensasi.Ah, tapi ... bukan itu. Terbukti, perempuan itu malah menanggalkan penutup tubuhnya usai berhasil menarik lepas keseluruhan celanaku. Sangat menggairahkan. Bahkan jauh lebih sensasional penuh cita rasa. Itu kami lakukan di hampir sepanjang malam .... "Mas ...." Aku membuka mata perlahan. Mengerjap-ngerjap kelopak untuk segera mendapatkan titik fokus lebih jelas pada sosok yang baru saja memanggil. "Lis? Oh, kamu sudah duluan bangun rupanya?" Perempuan itu mengerutkan dahi, lalu tanyanya, "Kok, kembali tidur di sini?" Aku tersenyum. "Bukannya kita memang semalam tidur di sini?" Aku memperhatikan balutan busana Alisa. Masih sama seperti yang dia kenakan semalam, sebelum beranjak meninggalkanku dengan sisa amarahnya. "Kamu sudah mandi?" Alisa semakin memperlihatkan roman keheranannya. "Mandi? Aku baru keluar kamar sejak semalam." 'Bercanda dia,' gumamku tapi enggan menertawakan lawakannya yang terasa garing. "Baiklah ... tapi ... aku suka sekali dengan gaun tidurmu yang baru itu semalam. Warna marunnya semakin menampakkan keanggunanmu." "Aku tak punya baju tidur warna marun," timpal Alisa membuatku kini, giliran yang mengerutkan dahi. "Dari semalam aku belum ganti baju. Ini yang kupakai. Bukannya semalam kamu sendiri yang melucutinya?" "Lis?" Aku terperanjat. "Tolonglah jangan lanjutin pagi ini dengan perselisihan kita yang semalam. Aku pikir, kamu sudah mau melupakannya." "Siapa yang mau lanjutin? Justru kamu sendiri yang datang ke kamar, meminta maaf, lalu kita semalaman ...." "Aku tidak pernah masuk ke kamar sejak semalam. Kamu sendiri yang datang menghampiri di sini dan mengajakku--" Alisa mengibaskan tangan. "Ah, sudahlah! Kamu memang tidak pernah mau mengakui kesalahan sendiri. Datang dan berbaik-baik padaku, hanya di saat butuhnya saja." Aku berdiri lantas mendekati Alisa. "Lis, kamu jangan memutar balikkan fakta. Aku ingat betul semalam, sebelumnya kita--" "Tidak! Kamu memang egois, Mas! Sudahlah, aku mau mandi. Hari ini ada rapat bulanan di kantor." "Lis!" "Aku tak masak pagi ini. Kalau lapar, sarapan saja di kantormu sendiri, Mas." "Lis!" Alisa tetap beranjak menuju kamar mandi. Meninggalkanku sendiri di ruang tengah dalam keadaan masih belum mengenakan apa-apa. Serta pertanyaan baru akan keganjilan sikap perempuan itu pagi ini dan tentang semalam. Apakah ini mimpi? Aku masih tertidur lelap? Bisa jadi. Salah satu hal untuk segera kembali ke dunia nyata adalah menyusul Alisa. Bila perlu, mengulangi perseteruan tanpa busana di bawah kucuran hangat shower sana .... SEKIAN
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD