MALAM KETUJUH

845 Words
Waktu baru saja merangkak malam. Hembusan dingin berbaur dengan rintik hujan menghiasi pekat alam yang baru saja reda dari tangis. Genangan sisa air hujan, mengolam dihampir setiap lekuk jalan berlobang. Keruh kecoklatan bercampur lumpur beraroma selokan. Sementara kehidupan kaum bernyawa lain tampak mulai menggema, terkecuali orang-orang yang biasa duduk-duduk nongkrong di warung kopi itu. Perlahan kuayun langkah ini, menuju tempat tersebut. Seorang wanita setengah baya menyambut dengan tatapan mata bulat membesar. "Kamu?" Dia menunjukku dengan mulut terbuka. Aku tersenyum dingin sambil melipat kedua lengan di d**a. Lumayan untuk sekadar mengurangi gigil yang kian mendera. "Iya, Bu," timpalku terus mendekatinya. "Mamihnya ada?" Sejenak mengintip suasana di dalam warung melalui daun pintunya yang sedikit terbuka. Memastikan sosok pemilik bangunan itu ada di sana atau tidak. "D-dia s-sudah t-tidur .... " jawab wanita tersebut terbata-bata. Mulutnya masih menganga disertai jari telunjuk menunjuk kearahku. "K-kamu ngapain k-ke sini?" Kembali aku tersenyum kecil seraya mengalihkan pandangan ke pekat malam. "Saya mau minta maaf sama Mamih. Soalnya--" "Ya, kakak saya sudah memaafkannya, Yoga," ujarnya memotong ucapanku. "Dia sudah mengikhlaskannya juga." "Bagaimana saya tahu kalau Mamih tidak bilang sendiri sekarang?" tanyaku ragu di antara tatapan tajam ini. Memperhatikan gerak membulat besar mata wanita yang hidup berdua bersama kakaknya, yang kupanggil Mamih tadi, di warung tersebut. "Saya ingin langsung dengar dari Mamih sendiri, Bu." "Jangan!" serunya kemudian. Rokok di tangan wanita itu hampir terjatuh karena gemetar hebat. "Cukup saya saja yang kamu temui, Yoga. Jangan kakakku. Saya mohon." "Mengapa, Bu?" Aku masih belum paham. Dia menggeleng berulang. "Pokoknya jangan. Saya khawatir, kakakku tidak akan kuat berlama-lama bicara dengan kamu." Kugigit bibir ini. Rencana menemui orang yang harus kumintakan maaf, sepertinya akan berakhir dengan kekecewaan. Namun tidak mungkin juga adiknya itu berbohong. "Hhmmm, padahal sehari sebelumnya, saya berjanji akan segera melunasi utang-utang saya itu pada Mamih lho, Bu. Tapi .... " Aku tidak kuasa meneruskan ucapan. d**a ini tiba-tiba terasa menyempit. Sesak. "Kakak saya langsung membebaskan semua utangmu, begitu mendengar kabar tentang kamu, Yoga," tutur wanita tersebut dengan wajah masih memucat. Mungkin karena pengaruh udara di luar saat ini. Makanya dia sengaja menyendiri di depan warung, sambil menunggu pembeli dan menikmati segelas kopi panas serta kepulan asap rokok. "Kamu ingin minum kopi juga?" tanyanya begitu mata ini lekat memandang kepulan uap kafein di atas meja. "Saya buatkan sekarang. Tapi setelah itu, kamu segera pergi ya?" Aku tersenyum kecut. "Tidak, Bu. Terima kasih. Cukuplah masalah utang itu yang memberatkan Mamih. Saya tidak ingin menambahnya." "Ya, sudah. Sekarang pergilah kamu, Yoga. Jangan pernah datang ke sini lagi. Kami semua akan turut mendoakanmu." Aku mengangguk perlahan. Paham sekali apa yang dia maksud. Mungkin kedatangan diri ini sudah tidak diharapkan lagi, layaknya dulu. Mau tidak mau, aku harus sadar dan memaklumi. keadaan sekarang telah jauh berbeda. Tepatnya sejak tujuh hari yang lalu. Usai berpamitan, perlahan kutinggalkan kembali tempat itu. Menyusuri jalanan becek dan menembus dinginnya kegelapan yang menusuk. Menjauh dari tatapan mata wanita baya tadi, kemudian dia segera menghambur ke balik pintu dengan tergopoh-gopoh. Membiarkan gelas kopi dan kepulan batang rokok yang tergeletak masih menyala di lantai warung. Aku tidak ingin menghiraukannya. Karena masih ada satu lagi tempat yang harus didatangi, Malam ini juga. Teman-teman perkumpulan yang biasa menghabiskan waktu malam dengan bergadang sambil minum-minum. Kebetulan sekali, sosok-sosok yang dimaksud tengah berkumpul di sana. "Hei, Yoga! Tumben kau datang malam ini? Kemarin kemana saja?" Salah seorang dari mereka menyapa begitu aku tiba mendekat. "Ayo, duduk sini. Malam ini kita pesta lagi seperti biasa. Hahaha." Yang lainnya diam membisu dengan raut memutih. Bahkan tidak ada yang mau beradu pandang denganku. "Terima kasih, Kawan. Aku pikir, kalian sudah melupakanku. Hehe," timpalku seraya memilih tempat duduk agak menjauh. "Mana mungkin kami melupakanmu, Yoga. Bah, kau ini." Dia menyodorkan segelas minuman berwarna agak kekuningan dengan aroma menyengat. "Minumlah. Supaya badanmu hangat. Tumben sekali malam ini dingin, sejak diguyur hujan sejak petang tadi." "Kamu tidak lupa juga kesukaanku ya? Hehe." Aku segera menghabiskan isi gelas tadi dengan sekali tegukan. "Hei, kau minum macam orang kehausan saja. Tak panaskah lambung kau terbakar nanti? Bah!" Dia kembali mengisi penuh gelas kosongku dengan minuman senada. "Minumlah sedikit-sedikit dan perlahan, Yoga. Sambil kau bercerita, kemana saja tujuh hari ini. Heh?" Sebelum berucap, kuteguk habis minuman tersebut untuk kali kedua. "Aku datang ingin pamit sama kalian. Mungkin .... " "Pamit? Bah! Macam mau pergi jauh saja kau, Yoga?" Seseorang di sampingnya tiba-tiba membisiki temanku itu. Serta merta wajah beringas tersebut berubah pasi. "Kau .... " Dia menunjuk gemetar padaku. "Yoga? Kau .... " Entahlah, tanpa aba-aba apa pun, serentak semua yang ada di tempat ini berhamburan disertai jerit ketakutan. Terkecuali aku yang masih duduk terpaku sambil memeganggi gelas kosong. 'Sialan! Kini tak ada seorang pun yang sudi berteman denganku. Mereka juga begitu. Padahal sebelum tujuh hari lalu, semuanya selalu mengharapkan kehadiranku .... ' Aku tersenyum kecut. Antara sedih dan kecewa. Perubahan itu begitu cepat terjadi. Sepertinya halnya gelas yang tergenggam ini. Lambat laun semakin sulit melekat, kemudian jatuh begitu saja. Perlahan, seiring dengan sirnanya wujud tubuhku. Membias dalam titik-titik putih, lalu terbang mengikuti sapuan angin malam menuju alam nirwana. TAMAT
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD