Eliona mendengus ketika dia membuka kedua kelopak matanya kembali. Dia menyadari bahwa dia terlalu jauh dalam bernostalgia, sebab kenyataannya dia masih disini. Di atas tempat tidurnya sejak pagi. Memutuskan untuk mengalihkan perhatian, Eliona lantas bangkit dari awal posisi. Keluar dari kamar dan memulai rutinitas yang sempat terdistraksi. Dia lalu menyalakan teko kopi. Namun saat sedang mengisi, tangannya sedikit gemetar dengan kedua mata menatap kobaran api. “Kenapa aku malah menghabiskan waktu untuk mengingatnya lagi? kenapa hal yang sudah terjadi diantara kami bisa dengan begitu jelas terpatri di dalam ingatan? Kenapa segalanya terasa begitu sempurna? kenapa dia begitu sempurna untukku, tetapi sialnya dia juga seseorang yang tidak bisa aku miliki lagi.” ‘Berjuanglah untuknya’ kesera

