Nesa baru berbalik dari lantai dua setelah ashar di kamar Ayah dan Mama Dila. Kamar yang tetap menjadi milik anak-anak kakek meski mereka semua sudah tua dan sudah punya rumah dan keluarga masing-masing. Namun tempat milik anak-anaknya masih menjadi hak miliknya. Konsep itu, Nesa suka. Setelah kemarin ia diusir mamanya sendiri. Ah, pikiran itu lagi. Kepalanya menggeleng. Ia lagi-lagi membandingkan dua hal yang sudah pasti akan timpang sebelah. Dan selalu, yang timpang adalah bagian dari dirinya. Langkah Nesa menuju tangga melingkar berhenti saat dilihatnya seorang yang menjauhkan diri dari kumpulan di lantai bawah. “Maha?” Lelaki itu menoleh lalu berdecak malas. Ia kembali memandang ke lantai bawah dari balkon. Melihat ke taman samping, tepat ke gazebo di mana semua sepupu lelakinya

