31. —Penjahatnya

1360 Words

“Gue takut mereka saling cakar,” celetukan Akbar membuat Tama menoleh pada sepupunya itu. Sedangkan si adik sepupu itu masih asik mendongak melihat wajah sengak Maha. “Saling? Nesa gak mungkin gitu,” Tama membela istrinya. Matanya kembali menatap ke lantai atas dimana Nesa sedang berdiri di depan Maha dengan sikap santai yang belum pernah Tama lihat. “Berarti lu setuju kalau Maha yang bisa nyakar Nesa, ya Kak?” timpal Firha. Matanya menatap layar ponselnya, masih fokus push rank tapi masih bisa menimpali Tama. Kakek ikut menatap ke atas balkon, melihat bibir Maha berkata entah apa. Tapi dari raut wajahnya, emosi itu masih menguasainya. Tatapannya beralih pada Nesa yang terlihat santai. Ujung bibirnya naik melihat kepercayaan diri Nesa yang kembali naik. Tama ikut menengadah. Melihat Ma

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD