Aish dan Iza saling berpandangan saat BMW hitam itu berhenti di depan rumah. Keduanya menatap dari balik jendela. Nesa sudah memberi nomor kunci pada mereka berdua, jadi Aish tidak harus menunggu sambil berdiri. Bumil itu tidak boleh berdiri terlalu lama. Sedangkan Nesa tidak tahu jalanan akan macet atau tidak. Meski tadi ia dan Jebi hanya mampir ke café dekat Graha Djati. Keduanya sama-sama memandang lelaki yang membukakan pintu sambil membawakan payung. “Itu bukan Kak Tama,” bisik Iza. Aish mengangguk, “Iya, itu bukan Kak Tama,” jawabnya mengiyakan. Namun keduanya kompak saat berdiri di pintu dan memanggil Nesa kemudian. “Kak Nes!” Pandangan mereka bertemu dengan mata Nesa yang melebar, lalu tersenyum. Kakak ipar keduanya itu langsung berdiri dan berjalan cepat, hampir berlari. Lal

