“Tangan kamu kenapa, Nes?” tanya Azril yang akhirnya ikut duduk semeja dengan mereka. Bersisian dengan Jebi dan saling berhadapan dengan Nesa. Lelaki itu melihat pergelangan tangan kiri Nesa yang dibebat. Tentu saja Azril menyetujui duduk bersama karena ajakan Jebi yang kini menatap Azril sambil mengulum senyum. Ia duduk setelah memesan kopi untuknya sendiri. Tidak memaksa kedua wanita yang menolak menambah makanan dan minuman mereka. Nesa melirik tangan kirinya sekilas. “Tadi malam aku lihat masih baik-baik aja,” Azril mengulurkan tangan hendak meraih tangan Nesa, namun kembali menarik tangannya sendiri. Ada saklar yang menyadarkan dirinya sendiri bahwa Nesa bukan lagi seorang gadis. Tapi istri orang lain. Senyum Nesa mengembang. “Terkilir waktu pukul bola, Kak,” jawabnya malu-malu.

