12. —Ujian

1387 Words

Tama tersenyum lagi melihat tatapan sebal Nesa padanya. “Kamu kagetan banget,” komentarnya. “Kamu yang ngangetin, Mas!” sembur Nesa, “Ngapain gelap-gelapan di ruang tamu?” Lampu ruang tamu memang terbiasa gelap jika sudah malam. Hanya lampu temaram dari dapur dan tangga yang menyala. Juga selasar di lantai dua. Selebihnya kamar Nesa juga akan gelap. Sedangkan kamar Tama menyala. Tangan Tama menunjuk picotin biru muda Nesa yang disimpannya di atas meja makan, “Saya baru mau naik waktu liat ini.” Nesa meraih tasnya, “Makasih,” katanya kemudian. “Kamu belum tidur?” “Aku mau bikin teh,” Nesa bangun dari duduknya, ia berjalan ke kabinet dapur yang berwarna putih dan cream kayu, “Mas mau juga?” “Teh favorit kamu?” tanya Tama. Nesa berbalik, “Tau aku suka teh?” “Kamu istri saya, sudah p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD