Dengan sedikit ragu yang menghinggapi hatinya Tama meraih pegangan pintu kamar dan mendorongnya terbuka. Sepi. Kamar suite itu sepi. Apa Nesa juga kabur seperti Anggeni? Pikirannya sudah buruk saja, padahal tadi sebelum meninggalkan Nesa untuk menggunakan kamar sendirian, ia percaya saja padanya. Kenapa sekarang ada ketakutan yang hinggap di hatinya? Apa karena rasa bersalah? “Nes—“ Panggilannya terhenti saat melihat gadis itu berdiri mematung hanya dengan handuk putih yang melilit di tubuhnya. Rambut panjangnya masih basah. Berdiri di dekat tempat tidur yang sudah diacak-acak, pintu lemari semuanya terbuka, wardrobe juga terbuka semua. Tama menelan ludahnya, membasahi tenggorokannya yang kering tiba-tiba. Matanya tidak bisa tidak melirik pada gadis di depannya itu. “Nesa?” kali ini p

