Sebuah Lamaran

1689 Words
menatap langit, warnanya sudah berubah menjadi jingga ke merahan, apa aku tertidur? Bahkan ada selimut juga yang menjaga tubuhku tetap hangat walau seharian di terpa angin sejuk. Rasanya tubuhku terasa lebih ringan, sebenarnya apa yang aku minum? Bahkan sebelum aku sempat merasakan rasanya, aku sudah tidak sadarkan diri. “Kepala Desa, kau sudah bangun?” Suara lembut yang tidak asing lagi bagi telingaku, itu adalah suara Rya. Apa dia seharian berada di sampingku? “Padahal aku berharap kau bisa beristirahat sedikit lebih lama lagi,” sambungnya. Aku melihat ke arah Rya, apa dia hanya duduk di sampingku dan menungguku bangun? Tidak juga, dia kelihatannya sedang merajut. Apa yang dia buat itu adalah sebuah Syal? Benar juga, akhir-akhir ini udaranya terasa semakin sejuk, tidak... Bisa dikatakan udaranya sudah semakin dingin. Apa musim dingin akan tiba di dunia ini? Apa nantinya juga akan ada es dan juga salju? “Apa kau sudah merasa lebih segar?” “Ya! Rasanya menjadi lebih baik. Apa aku tertidur karena teh nya? Sebenarnya terbuat dari apa minuman itu?” jawabku sambil bertanya pada Rya. “Itu namanya adalah Teh Khirat, sesuai namanya itu adalah teh yang di seduh menggunakan daun Khirat, tumbuhan itu biasanya tumbuh di sekitar bukit yang letaknya tidak jauh dari hutan Nimiyan.” “Bukankah itu artinya bahan tehnya di dapatkan dari luar desa? Siapa yang membawa benda itu kemari?” “Aku dan yang lainnya yang memetiknya sendiri.” “Rya? Apa kau pergi keluar desa dan melewati hutan hanya untuk mengambil daun untuk di jadikan teh?!” kejutku. “Kepala Desa, kau tidak usah terlalu mencemaskanku, saat itu aku tidak pergi keluar sendirian, Tuare, Torn dan Lyod. Bahkan Tuan Hathor ikut bersama kami saat perjalanan ke bukit. Jadi tidak ada apapun yang terjadi selama kami disana.” Apakah itu alasan kenapa mereka tidak terlihat di desa beberapa hari ini? Jadi mereka pergi keluar hanya untuk mengambil daun untuk di seduh menjadi teh. Kenapa harus melakukan sampai sejauh itu, jika hanya teh saja... “Teh Khirat sangat bagus untuk mengobati kelelahan dan juga stress, khasiatnya juga bisa membuat tubuh kembali bertenaga, dan yang terpenting... Teh nya membantu seseorang untuk bisa tidur dengan nyenyak.” Apakah hanya karena itu kalian mencarinya jauh-jauh? “Hampir seminggu terakhir aku melihatmu bekerja terlalu keras, bahkan saat malam aku masih melihatmu memegang pena dan mencatat banyak hal, kau juga tidak berhenti membuat sesuatu yang menurutmu berguna untuk desa ini. Jika kau sakit karena berjuang terlalu keras, itu akan membuat kami semua sedih. Saat kami sakit kau menemukan cara untuk menyembuhkan kami, tapi saat kau sakit... Apakah kami bisa menemukan cara untuk menyembuhkannu? Sihir semacam itu? Bukankah hanya dirimu yang mampu melakukannya? Ichigaya.” “Jadi jangan pernah membuat kami semua cemas, bagaimanapun hebatnya dirimu, kau masih lah manusia, kau butuh istirahat,” sambung Rya dengan memakaikan syal buatannya di leherku. Rasanya... Hangat, aku tidak membicarakan soal syalnya. Namun perasaan yang terpancar dari dalam diri Rya, menyentuh hatiku dan memberiku perasaan hangat. Ah... Orang-orang mencemaskanku, mereka bahkan sangat memperdulikan diriku. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku memperhatikan diriku sendiri, bahkan saat aku merasa ingin tumbang aku tak akan peduli sekalipun, karena aku yakin dengan tidur aku akan merasa bisa bangkit kembali. Perasaan inilah yang aku cari, perasaan inilah yang aku rindukan, perasaan inilah yang tidak bisa aku temukan di rumahku. “Rya... Maaf. Dan... Terima kasih,” ujarku sambil menatap ke dalam matanya. “Bukk!!!” Bunyi yang berasal dari punggungku karena seseorang dengan iseng menepuknya dengan keras dari belakang. “Rasanya sangat tidak adil mendengar kau hanya berterimakasih pada Rya, padahal kami juga membantu, lho!” kata Lyod sambil menunjukkan senyum sombongnya yang aneh itu. Lagian aku tidak sadar, sejak kapan sebenarnya dia sudah berada di belakang ku. Bukan hanya Lyod, bahkan Torn, Tuare, Hathor dan Nyonya Astrid. Mereka seperti diam-diam mendengar percakapan antara aku dan Rya. “Tidak-tidak, seharusnya Ichigaya bahkan tidak perlu sampai mengucapkan terima kasih. Kau sudah melakukan banyak hal untuk kami, jika kau melakukan lebih banyak lagi dan kami hanya melihat saja, rasanya tidak akan ada kesempatan sampai kami semua mampu membalas budimu,” kata Torn. “Balas budi apa yang kalian maksud? Melihat kalian semua senang dan kompak seperti sekarang ini adalah apa yang aku inginkan. Ini sudah lebih dari cukup untuk membalas budiku. Lagipula aku melakukan semua ini bukan untuk mengharapkan balas budi, aku melakukan ini karena kalian semua adalah keluargaku.” Ah... Aku mengatakan sesuatu yang aneh secara tidak sadar, Kira-kira bagaimana tanggapan mereka ya? Ah... Aku terdengar seperti orang yang sangat kesepian, mereka mungkin akan tertawa karena saking menyedihkannya diriku. “Hahahahaha.... Benar-benar! Kita adalah keluarga. Jadi wajar jika kau melakukan banyak hal untuk kami tanpa mengharapkan pamrih. Kau melakukan semua ini karena kita semua adalah keluarga, hahahahaha!” sambil memegang perutnya, Torn tertawa dengan keras. “Oy... Kenapa kau malah menertawaiku begitu?!” ucapku sambil memberikan tatapan kesal ke arah Torn. “Ya habisnya, jika kita adalah keluarga, bukankah kau dan Lyod itu adalah adikku? Panggil aku Kakak lain kali, hahahahah!” “Karena aku adalah Kepala Desa disini, bukankah semua orang yang ada di desa ini adalah anak-anakku. Panggil aku ayahanda!” balasku. Semua orang terdiam. “Pffftt!!!! Ayahanda haha!” celetup Lyod. Dan semua orang yang terdiam kemudian tertawa bersama. Termasuk diriku... Aku sampai tidak ingat kapan aku pernah tertawa selepas ini. Hahaha... Dewa Garileon, apa kau melihatku? Aku... Sudah tidak bosan lagi, lho. Terimakasih... Berkatmu aku bisa bertemu dengan orang-orang ini. “Kalau Ichigaya adalah ayah maka... Aku adalah ibunya, karena... Aku ingin menjadi istrinya Ichigaya!” Perkataannya memang tidak di katakan dengan lantang, tapi kalimat yang jelas terdengar itu membuat semuanya terdiam. Bahkan aku tidak tau harus bagaimana menanggapinya, apa barusan Rya menyatakan cintanya terhadapku? Eh.....? *** Malam telah tiba, ntah sudah berapa jam yang terlewat sejak Rya menyatakan perasaannya terhadapku. Rasanya itu seperti baru saja terjadi, kalimatnya masih terasa hangat sama halnya dengan syal yang ia berikan untuk aku kenakan. “Menikah ya, benar juga. Lagipula Ichigaya dan Rya itu sudah cukup dewasa untuk menikah,” Lyod membuka pembicaraan sambil membetulkan kayu bakar pada api unggun yang kami kelilingi. Benar, saat ini kami sedang berada di luar, tepatnya hanya beberapa meter dari gerbang desa, sambil menyalakan api unggun kami bertugas untuk mengamankan desa di malam hari. Dan... Kesempatan seperti ini biasanya di gunakan oleh bapak-bapak untuk bergosip. Torn, Lyod, Hathor, Paman Mizzre, dan juga Paman Jerome berada di sini bersamaku. “Aku sama sekali tidak mau mendengar kalimat itu dari Pria yang lebih dewasa yang sampai ini bahkan belum menikah.” “Ichigaya, perkataanmu itu cukup tajam juga, ya. Asal kau tau saja, aku hanya bukannya tidak ingin menikah, hanya saja aku belum menemukan gadis yang cocok untuk di nikahi. Jika saja Nona Ririna mau, maka saat ini juga aku akan pergi menjemputnya untuk di pinang.” “Oy! Mimpi apa yang baru saja kau bicarakan itu? Bangun! Nona Ririna mana mungkin mau dengan orang sepertimu, dia pasti menginginkan orang yang kuat seperti diriku, yang tentunya bisa lebih ia andalkan.” “Wah... Perkataanmu juga tidak kalah tajam, ya. Torn... Bagaimana kalau kita buktikan sekarang?!” balas Lyod sambil melipat lengan bajunya. Haa... Mereka ini memang sangat akur di setiap kesempatan. “Ichigaya, setelah Rya mengatakan bahwa dia ingin menikah denganmu... Apa kau mengatakan sesuatu untuk membalasnya?” kata Paman Jerome. Ah... Ini terlalu tiba-tiba, ini seperti aku di tanyakan oleh calon mertuaku, aku bingung harus mengatakan apa. Jika aku mengikuti logika di duniaku, bukankah aku masih terlalu dini untuk menikah, lagipula aku tidak tau apa-apa mengenai hal itu. Seperti... Apa yang dilakukan seorang pria dan wanita yang telah menikah misalnya. “Aku belum mengatakan apapun untuk menjawab pernyataannya itu, jujur saja ini terlalu mendadak untukku, Paman. Jadi aku tidak tau harus membalasnya bagaimana.” “Sebaiknya kau terima saja lamaran itu, kau tidak perlu khawatir akan apapun. Karena Rya itu adalah anakku dan juga Bibi Merry, aku pastikan dia baik untukmu,” jawab Paman Jerome sambil mengacungkan jempolnya, matanya pun seperti memancarkan sinar. “Padahal seharusnya kau terima saja lamaran itu, sangat jarang loh seorang perempuan menyatakan perasaannya pada laki-laki yang mereka cintai, akan sangat beruntung kalau kalian bisa segera menikah.” “Lyod, apa yang di pikirkan oleh Kepala Desa itu bukan perkara mudah. Yang kita bicarakan adalah pernikahan loh, meskipun bagi laki-laki pernikahan bisa dilakukan beberapa kali, tapi bagi seorang wanita itu akan menjadi sekali saja. Dia pasti perlu memikirkan bagaimana perasaan Rya baik-baik tentunya. Lagipula... Pernikahan itu bukan hal yang bisa di putuskan semudah itu,” kata Hathor. “Guru... Jika kau mengatakan itu sedemikian, aku jadi ingin mempertanyakan bagaimana pernikahanmu dengan Nyonya Astrid,” sambung Lyod. “Itu... Benar-benar Neraka yang harus ku lalui dalam hidupku.” “Hee... Sampai sebegitu rumitnya hingga Guru menyebut pengalamanmu sendiri bagaikan Neraka?” dengan wajah kaget Torn menanyakannya. “Astrid itu... Dia adalah putri dari Kepala Suku, Suku Ghandari. Tidak mudah untuk melamarnya. Suku Gandhari itu adalah suku yang terdiri dari sekelompok besar Bandit Gunung yang berbahaya. Untuk melamar gadis disana, seorang pria harus membuktikan diri mereka. Seorang pria harus kuat dan juga berani. Bahkan dulunya aku harus mengalahkan puluhan orang untuk membuktikan diriku, parahnya... Ayah Astrid itu sangat mencintai Astrid dan tidak ingin dia di pinang oleh laki-laki manapun, akhirnya untuk membuktikan bahwa aku bukan seorang pria kuat, dia turun tangan untuk melawanku.” “Guru? Apa kau menang?” “Menang, tapi itu sangat tipis. Aku hampir kehilangan kepalaku saat itu, tapi karena aku bertekad untuk menikahi Astrid dikarenakan aku sangat mencintainya, aku menang secara ajaib dari ayahnya yang dikenal sebagai Raja Bandit Gunung Saloka.” “Wah... Guru sangat hebat, seperti yang di harapkan dari laki-laki kuat macam Guru.” “Hathor? Kau pergi ke gunung untuk melawan Raja Bandit? Sebelum kau tiba di kota Irishe, siapa dirimu sebenarnya?” “Benar, aku belum menceritakan hal itu pada siapapun sebelumnya. Sebenarnya... Aku itu seorang Bandit Gunung juga, desa yang ku tinggali bernama Ngarai Seribu Bangkai. Aku adalah Kepala Suku disana.” “Heee.....!!!! Kepala Suku Bandit Ngarai Seribu Bangkai sebenarnya adalah Hathor?!!” Aku tidak mengerti kenapa semua orang terkejut, apa itu hal yang luar biasa?!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD