Sebuah Ide

1682 Words
Semua orang mendadak terdiam, suasana yang tadinya ramai oleh obrolan bapak-bapak ini, tiba-tiba menjadi begitu hening. Ada apa dengan Ngarai Seribu Bangkai? Namanya saja sampai membuat orang yang mendengarnya menciut. “Apa kalian semua ketakutan mendengar cerita tentang Bandit Ngarai Seribu Bangkai? Ha... Sebaiknya aku tetap diam tentang hal ini. Tapi sebenarnya kalian juga tidak perlu memikirkan soal itu, saat ini Kepala Suku Ngarai Seribu Bangkai sudah diceritakan mati. Hathor yang sedang duduk bersama kalian adalah Hathor dari Desa Nimiyan.” “Seperti apa yang Hathor bilang, kalian tidak perlu diam karena tau tentang masa lalunya, bagaimanapun sekarang Hathor adalah saudara kita. Jika di antara saudara mulai diam dan tidak bertegur sapa, maka kecanggungan akan segera terjadi, kalian tau... Canggung adalah faktor utama yang menyebabkan lunturnya solidaritas. Apapun masa lalu Hathor, sebagai saudara... Kita harus memakluminya,” ujarku. “Kami diam hanya karena kami terkejut setelah mengetahuinya, ternyata Hathor adalah pemimpin Bandit Gunung yang namanya sempat menyebar di tiga kerajaan,” ujar Paman Mizzre. “Kepala Desa, anda nampak biasa saja mendengar hal itu? Apa anda tidak takut?” “Apa yang perlu di takutkan? Meskipun kau seorang Pemimpin Bandit sekalipun, dari apa yang kulihat sejak awal aku bertemu denganmu, kau tidak memancarkan aura yang membahayakan sama sekali.” Aura Bahaya? Jelas aku merasakan pancaran itu saat pertama kali aku melihatnya. Dia itu pengemis dengan Level di atas 60, lho. Kalian pikir bagaimana seorang pengemis bisa memiliki Level setinggi itu? Lalu kesan pertama saat aku melihat dia dengan penampilan yang acak-acakan, aku seperti melihat seorang Berserker. Bukankah itu cukup untuk menggambarkan betapa bahayanya aura yang di pancarkan oleh Hathor?! “Air mata yang kau keluarkan untuk Istri dan juga Anakmu, Gild. Itulah yang menjadi bukti, bukti kalau kau sama sekali tidak berbahaya. Meskipun kau pemimpin Bandit Gunung yang bengis dan haus darah, tapi kau akan menangis melihat keluargamu menderita, air mata itu hanya dimiliki oleh orang yang memiliki hati.” “Hati adalah jembatan yang menghungkan kita sebagai keluarga,” sambungku. Hathor tersenyum karena haru, bahkan pria besar itu memperlihatkan air matanya sambil menggaruk kepalanya. “Walaupun masih muda, Kepala Desa adalah orang yang sangat bijaksana. Semua kalimat yang ia ucapkan selalu menggetarkan hati. Karena kebijaksanaannya itu aku mulai mengerti kenapa semua orang ingin melihatnya memimpin. Orang yang perkataannya selalu menyatukan semua yang ada di sekelilingnya. Bahkan jika aku masih memimpin sebuah desa sekalipun, aku akan dengan senang hati mundur untuk orang sepertinya.” “Hathor, jika kau tidak kuat sekalipun kurasa Nyonya Astrid akan tetap menyukaimu. Kau itu sebenarnya sangat pandai memuji orang,” jawabku. Lalu semua orang dapat menerima Hathor dengan sangat lapang d**a, tak peduli sekelam apapun masa lalunya, untuk masa sekarang dan seterusnya, Hathor adalah keluarga kita. Dan yang terpenting dari adanya percakapan inj adalah aku bisa mengalihkan pembicaraan mengenai lamaran Rya terhadapku... “Jadi... Untuk lamaran dari putriku, Kepala Desa... Bagaimana kau akan menanggapinya?” Tadinya aku pikur arah pembicaraannya telah beralih. Kenapa Paman Jerome masih mengingatnya juga. Apa yang harus kulakukan? *** Haa... Sudah pagi, setelah pulang meronda semalam, aku bahkan tidak melihat ada Rya di penginapan, mungkin dia sudah tidur lebih awal. Tapi sekarang adalah pagi, saat sarapan bagaimana mungkin aku bisa terhindar dari bertemu dengannya? Parahnya adalah, akan ada Paman Jerome, Bibi Merry dan juga Tuare. Mungkin mereka akan mendesakku juga untuk menerima lamaran Rya. Haa... Aku ingin kembali tidur, tapi jika aku tidak kunjung keluar juga, salah satu dari mereka tetap akan masuk ke kamarku. Jadi... Ini yang namanya sesuatu yang tak bisa di hindari itu? Mencemaskan. Aku bisa melihat keluarga Paman Jerome sudah berkumpul di ruang makan, aku saat ini sedang menguatkan mentalku untuk bergabung ke sana. Hanya saja aku tidak tau apakah harus maju atau tidak. Mengingat apa yang di katakan Rya padaku kemarin membuatku tidak berani langsung menatap ke matanya. “Ichigaya, apa kau hanya akan berdiri di depan pintu saja? Kenapa tidak segera bergabung saja dengan kami?” tegur Bibi Merry. “Ba-baik Bi, aku akan segera kesana.” “Pagi ini cuacanya semakin dingin, bagaimana kau bisa berkeringat di cuaca yang sedingin ini? Apa jangan-jangan kau sedang gugup?” dengan ekspresi meledek Bibi Merry mengatakannya. Aku bahkan tidak bisa membalas kalimat yang sepenuhnya benar itu, tidak ada pilihan lain untukku selain duduk dengan tenang walaupun Bibi Merry mencoba meledekku. Ah... Aku sama sekali gagal terlihat keren. “Hahaha... Kau bahkan semakin berkeringat, apa jangan-jangan apa yang Bibi katakan itu benar? Dan karena Bibi berhasil menebak kegugupanmu itu, kau jadi semakin berkeringat. Oh! Aku lupa, karena Rya bilang ingin menikah denganmu, bagaimana kalau kau mulai memanggilku Ibu mulai sekarang, aku ingin melihatmu mulai terbiasa. Hehe.” Blak-blakan sekali, sekarang aku mulai mengerti kenapa Rya juga bisa seperti itu. Tapi tetap saja, ini adalah kali pertama aku mendapatkan pengakuan cinta dari seorang gadis. Terlebih, karena di dunia ini aku telah di anggap dewasa, maka saat seseorang menyatakan perasaan mereka, itu artinya adalah sebagai sebuah lamaran, pernikahan harus dilangsungkan. Bagaimana ini, apa yang harus ku jawab? Apa aku harus mengalihkan pembicaraan seperti semalam. Tidak, tidak bisa begini terus, aku harus bisa menghadapinya dengan berterus terang, karena aku adalah seorang laki-laki, dan... Aku adalah seorang Kepala Desa, seorang pimpinan, apa jadinya kalau aku tidak bisa bertindak tegas. “Rya!!! Ano... Apa yang kau katakan tempo hari itu, kau sudah mengatakannya secara sadar? Apa benar kau ingin menjadi istri ku?” Kuhh!!! Aku benar-benar mengatakannya pada Rya, aku tidak terlihat gugup kan? Aku tidak tampak seperti orang konyol, kan? “Ichigaya, aku serius dengan yang ku katakan tempo hari, aku mengatakannya dengan sadar. Aku sudah memiliki perasaan itu sejak pertama kali kita bertemu,” tegas Rya. Uwahh... Dia mengungkapkannya dengan terang seterang-terangnya, jujur saja itu sangat menyudutkanku, sekarang aku tidak bisa membelokkan arah pembicaraan ini kemanapun lagi, Satu-satunya jalan memang harus dengan menghadapinya secara langsung. “Ehm!! Aku senang mendengarnya. Jika Rya memiliki perasaan seperti itu padaku, aku sangat bahagia. Tapi... Ada yang lebih kucintai di bandingkan dirimu.” Tuare menggebrak meja dan berdiri lalu menunjuk ke arahku dengan wajah yang sangat marah. Ini pertama kalinya aku melihat dia semarah ini, mengejutkan jujur saja. “Kak Ichigaya, tidak! Tuan Eishi... Beraninya kau mengatakan hal itu secara langsung di hadapan kakakku, apa kau tidak sadar kalau apa yang kau katakan itu akan menyakitinya,” ketus Tuare. “Tuare, jangan marah pada Ichigaya. Kita harus menghargai perasaannya juga, jika memang ada yang lebih dia cintai, maka biarlah begitu. Sebuah perasaan bukanlah sesuatu yang bisa kita paksakan.” “Tapi Kak...” “Maaf Rya, tapi sebelum aku jatuh cinta padamu, aku sudah terlebih dahulu jatuh cinta pada desa ini. Saat desa ini masih sedang berada dalam masa kesulitan, aku tidak bisa lebih mengedepankan perasaanku terhadapmu. Walaupun sebenarnya aku ingin menjawab pernyataanmu itu dengan tegas, bahwa aku juga... Mencintaimu. Tapi aku merasa... Saat ini desa lebih membutuhkanku, kau mengerti, kan?” Rya terharu sambil mengangguk, perasaannya yang tak terbendung itu membuatnya mengeluarkan air mata. Ha... Dengan begini aku bisa terhindar dari tuntutan untuk segera menikahinya. Aku bukan menghindar atau apa, jujur saja aku juga suka pada Rya, dia gadis yang imut dan juga baik, bagaimana aku bisa menolak gadis sepertinya. Tapi tetap saja aku membutuhkan waktu, meski aku di anggap dewasa sekalipun di dunia ini, aku ingin tetap mengikuti logika di duniaku. Hubungan di bawah umur itu di larang! “Tapi tenang saja, aku akan mulai membiasakan memanggil Bibi Merry dengan sebutan Ibu. Ku harap telinga ibu mulai terbiasa,” kataku. Bibi Merry tampak terpesona dengan kata-kataku, dia terlihat tersipu malu, padahal dia sendiri yang mulai meledekku duluan. Astaga... Ini adalah kemajuan yang tidak terduga, sekarang aku sudah memiliki calon istri, kah? Dunia lain memang yang terbaik! *** Sekarang pekerjaanku menjadi sedikit lebih ringan, itu karena setiap tugas yang berkenaan dengan desa sudah di berikan pada tangan-tangan yang mampu pada bidangnya. Jadi aku hanya bertugas memberi perintah dan mengevaluasi hasil kerja mereka. Itulah sebabnya aku sekarang berada di Balai Desa, tempat yang ku anggap sebagai kantor, atau pusat pemerintahanku. “Selamat pagi, Kepala Desa.” “Paman Mizzre, selamat pagi. Silahkan duduk paman.” “Aku ingin melaporkan sesuatu, ini... Mungkin bisa menjadi masalah yang mendesak,” ujar Paman Mizzre dengan ekspresi wajah yang sangat serius. “Masalah yang mendesak? Apa kita perlu membahasnya dengan seluruh warga juga, paman?” “Kurasa itu bisa nanti saja, kalau begitu mari kita masuk saja pada pembicaraan yang mendesak itu. Ini... Mengenai perjanjian kita dengan Kerajaan Badamdas, kurasa kita harus memikirkannya kembali. Sekarang kabar mengenai Desa yang mulai pulih akan meluas cepat atau lambat, jika Raja mendengar, dia akan meminta jatah pasokan pangan pada desa ini. Ini... Demi kedamaian desa, Kepala Desa.” “Paman, apa ada masalah dengan pertaniannya?” “Sejauh ini tidak, berkat Kincir Air yang telah di bangun, tanah di desa sudah kembali subur, kekeringan bisa di atasi. Seharusnya kita bisa memulai menanam gandum, tapi... Musim dingin sudah dekat, semuanya tidak mungkin di lakukan.” “Jangankan untuk pasokan makanan yang akan di kirim ke Kerajaan Badamdas. Pasokan pangan desa kita sendiri saja tidak akan tercukupi jika keadaannya seperti ini, Kepala Desa,” sambung Paman Mizzre. “Begitu, ya. Ini benar-benar keadaan yang mendesak. Jika sampai jatuh tempo kita tidak bisa memberikan apapun pada Kerajaan Badamdas, maka perjanjian yang di buat oleh Raja dan juga Leluhur Desa bisa hancur. Buruknya akan ada p*********n ke Desa ini, dan tanah Nimiyan akan di ambil alih sebagai kemungkinan terburuknya.” “Ah... Itu juga yang membuat saya khawatir, Kepala Desa. Saya takut itu akan menjadi alasan Kerajaan Badamdas mengambil alih tanah kita. Adakah cara menanam gandum di musim dingin? Seandainya anda punya cara, mungkin kita masih dapat melakukan sesuatu.” “Paman, bagaimana jika bukan gandum? Kita bisa menggunakan tanaman lain sebagai gantinya. Makanan pokok yang bisa bertahan di musim dingin.” “Tapi Kepala Desa? Semua tanaman akan mati di musim dingin, itu sebabnya sebelum salju mulai turun orang-orang akan memenuhi lumbung mereka. Memangnya... Tanaman yang tahan akan musim dingin itu ada?” “Tentu ada,” ujarku sambil tersenyum dengan percaya diri. “Benarkah, Kepala Desa? Lalu... Tanaman yang tahan akan musim dingin itu apa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD