Nakano Takeko

1610 Words
Aku tidak pernah menyangka sebelumnya aku akan bertemu dengan seorang Champion lainnya. Sejak kami di kirim ke Khartapanca kami di pisah-pisah di dunia yang tidak pernah kami tau di mana ujungnya ini. Setelah sekian lama terpisah, akhirnya aku menemukan salah satu orang yang sama denganku. Seorang yang sama-sama mengemban takdir, sebagai Champion. “Kalian bertanya kenapa aku marah? Bukankah sudah jelas... Kalian mengambil uangku,” kata si gadis Champion itu. “Uang? Apa yang kau bicarakan gadis kecil? Kau menuduh kami mengambil uangmu? Kami tidak merasa mengambilnya, apa kau punya bukti bahwa kami yang mengambilnya?” jawab pria dengan tampang Preman itu sambil memberikan senyum licik. Kalau sudah begitu bukankah tidak perlu bukti lagi. Orang yang tampangnya seperti mereka itu memang biasanya adalah orang yang sering melakukan kejahatan. Baik penipuan atau pencurian kecil, tampang penjahat kelas teri seperti mereka memang cocok seperti para pencuri yang di gambarkan dalam Manga. “Kalian melewatiku saat kantong uangku hilang, aku yakin kalian telah mencurinya. Aku telah mengikuti kalian untuk mengambil uangku kembali.” “Hei gadis kecil?! Apa kau yakin uangmu itu tidak jatuh di suatu tempat? Menuduh tanpa bukti itu suatu kejahatan, lho,” balas Preman itu sambil mendekat pada wajah gadis Champion yang tidak ku ketahui siapa namanya itu. Menutupi kejahatan dengan cara menuduh orang lain yang melakukan kejahatan, preman ini benar-benar licik. Aku tidak tahan lagi! Aku segera turun dari bahu Hathor dan berusaha menyela kerumunan yang menyaksikan keributan itu. “Permisi, biarkan aku lewat!” “Permisi! Aku mengenal gadis yang sedang bermasalah itu!” Aku berhasil menyela dan saat ini aku sudah berada di barisan paling depan kerumunan itu. “Tuan-tuan sekalian, bisakah kalian memaafkan ke salah pahaman yang di lakukan oleh adik perempuanku?” ujarku yang tiba-tiba menyela pembicaraan mereka. Gadis itu sontak melihat ke arahku. Rambut hitam, kulit putih dan wajah oriental. Terlebih... Wajah-wajah sepertinya sangatlah familiar. Ya! Bukan hanya kami sama sebagai seorang Champion, tapi kami... Juga sama-sama orang jepang. “Apa yang kau katakan? Kenapa meminta maaf pada mereka?” Aku langsung mendekap gadis itu dan menutup mulutnya, dia mencoba meronta sekuat tenaganya. Tapi ntah bagaimana caranya aku mampu menahan kekuatan gadis itu, padahal selain diriku, Champion lainnya adalah tipe petarung, sudah pasti mereka sangat kuat. Apa mungkin karena levelku lebih tinggi dari gadis ini? “Haha... Adikku ini memang suka lepas kendali, aku mohon untuk pengertian kalian,” kataku berusaha tetap terlihat ramah, meskipun saat ini aku benar-benar kesulitan menahan gadis ini. “Adikmu menuduh kami telah mengambil uangnya, itu adalah salah satu tindakkan yang tidak menyenangkan,” jawab Preman itu. “Haha... Iya, aku mengerti. Karena itu aku ingin meminta maaf, dan memberikan kalian beberapa uang sebagai tanda permintaan maaf kami yang tulus.” “Kalian bisa mengambilnya!” ujarku dengan cepat melempar kantong uang lalu menahan gadis jepang itu kembali. “Hahaha, karena Tuan ini sudah berbaik hati maka kami tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi,” “Benar, mari anggap ini sebagai sebuah kesalah pahaman,” imbuh rekan yang ada di samping preman itu. Kemudian mereka berdua langsung pergi setelah mendapatkan uangnya, dan keriuhan yang terjadi pun langsung reda, orang-orang yang berkerumun juga mulai pergi dan kembali menjalankan kesibukan mereka masing-masing. Aku melepaskan gadis itu dan dia langsung menatapku dengan wajah kesal, padahal aku hanya berniat membantunya saja. Hathor lalu menghampiriku, gadis itu terlihat sangat gugup. Mungkin dia baru pertama kali melihat ada manusia sebesar Hathor. “Kepala Desa, anda memberikan uang pada mereka?” “Tidak Hathor, sebenarnya mereka mengambilnya. Kau mengerti kan harus apa?” jawabku dengan memberikan senyum licik padanya. “Kalau begitu saya akan pergi,” balas Hathor dengan memperlihatkan senyum yang sama. Hathor berjalan dengan tenang di tengah kerumunan sehingga tidak menarik perhatian orang lain. Setelah Hathor pergi, gadis ini kembali melihatku dengan wajah kesal. “Nona, namaku adalah Ichigaya Eishi.” “Ichigaya Eishi? Apa kau juga orang yang berasal dari Edo?!” balas Gadis itu. Wajahnya yang awalnya terlihat kesal padaku berubah menjadi wajah terkejut. Dia mengatakan sesuatu tentang Edo, bukankah itu nama lain dari Tokyo, jadi dia memang berasal dari jepang sama sepertiku. Hanya saja... Kami di panggil ke dunia lain dengan waktu yang berbeda. “Ya, aku juga berasal dari Edo. Aku sama seperti dirimu, aku adalah seorang Champion yang juga di pindahkan ke dunia ini.” “Bagaimana kalau kita membicarakan ini di tempat lain? Karena aku baru tiba di kota ini, aku tidak terlalu tau banyak tempat. Mungkinkah ada tempat yang bisa kita gunakan untuk berbincang-bincang?” sambungku. “Aku tau beberapa tempat, kalau begitu ikut aku.” *** Gadis itu mengajakku ke sebuah tempat makan, tempatnya tidak terlalu ramai dan tidak buruk sama sekali, tempat yang nyaman menurutku. “Sebelumnya perkenalkan, namaku adalah Nakano Takeko. Aku juga seorang Champion yang di pindahkan dari Edo.” Na-Nakano... Takeko? Bukankah itu adalah nama dari seorang samurai wanita yang terkenal dalam sejarah jepang. Wanita yang bertempur dan mati di Perang Boshin, dia meninggal pada usia 21 tahun. “Open status!” serunya. “Aku mengijinkanmu melihat status yang ku miliki,” imbuhnya. Nakano Takeko, usianya sama denganku, saat ini dia 17 tahun. Jika dia dipindahkan sebelum hari kematiannya, tidakkah itu akan merubah sejarah? Mungkin tidak, kita di panggil dari zaman yang berbeda. Aku hanya bisa memikirkan adanya dunia paralel yang keadaannya tidak jauh berbeda dari bumiku. Tapi tetap saja, bisa melihat seorang lagenda sejarah dan berbincang langsung dengan dirinya. Aku benar-benar tidak pernah menyangka. Tunggu dulu, levelnya 26? Tidakkah itu terlalu kecil untuk kelas petarung sepertinya? Levelku saja 35 saat ini. “Kalau begitu aku juga akan memperlihatkan status ku.” Dia terlihat terkejut setelah melihatnya, mungkinkah karena perbedaan Level kami yang terpaut jauh? “Apa kau adalah pemuda yang membawa Palu dan Gergaji? Seseorang yang tidak bisa melukai Boneka Kayu waktu itu?!” Arggh!! Dia mengingatkanku pada kenangan yang menyakitkan. Kejadian memalukan itu, kenapa dia mengingatnya. Kukira dia terkejut karena perbedaan level kami. “Be-benar, Haha... Ternyata kau mengingat itu,” jawabku sambil tertawa kecil menggaruk kepalaku. “Tidak ku sangka kau mampu bertahan setelah di pindahkan lagi ke dunia yang di sebut Khartapanca ini. Padahal kau sangat lemah,” katanya dengan wajah polos. Dia benar-benar orang yang lurus dan jujur, bahkan dia mengejekku dengan wajah yang tampak tidak berdosa. Apa pahlawan samurai wanita itu sifatnya memang seperti ini? “Aku tidak mengerti bagaimana kau bertahan di dunia yang keras ini, tapi syukurlah.” “Karena aku lemah, mungkin dewa memberikanku sedikit keberuntungan. Itu sebabnya ntah bagaimana aku bisa bertahan.” “Mungkin kau benar, kau tau... Berbeda dari Edo, dunia ini benar-benar terasa aneh bagiku. Manusia ada tapi makhluk yang hampir serupa dengan manusia juga ada, aku berpikir apakah mereka Oni pada awalnya.” “Tapi di dunia ini mereka hanya di anggap sebagai ras yang berbeda, Dwarf, Elf, Beastskin, begitulah mereka menyebutnya. Di dunia ini pun ada beragam jenis binatang dan monster yang tidak bisa ku mengerti.” “Dengan ukuran yang tidak biasa, terkadang aku bertemu dengan binatang yang mampu melahap seorang manusia hanya dalam sekali telan. Dunia ini tidak biasa, dan juga... Sangat berbahaya, untungnya kita bisa menggunakan sesuatu yang di sebut sihir.” “Aku mampu bertahan karena memilikinya. Meskipun sihir yang ku gunakan masih terbilang lemah.” Mungkin Champion lainnya juga bernasib sama seperti Nakano Takeko, tanpa mengetahui apapun soal dunia lain, mereka terpaksa di pindahkan. Berbeda denganku, sedikit banyak aku tau tentang arti dunia lain. “Pasti sulit bagimu,” ujarku. “Ya, aku sama sekali tidak siap untuk ini. Tapi karena aku sudah di pindahkan dan tidak memiliki jalan untuk kembali, tidak ada pilihan lain selain bertahan hidup dari kesulitan ini,” jawabnya. “Ya, aku juga memilih bertahan. Apa yang terjadi pada kita adalah apa yang kita punya saat ini, meski sulit sekalipun. Selama kita tidak menyerah, pasti ada jalan untuk tetap hidup.” “Membicarakan sesuatu tentang bertahan, bukankah selain memiliki kekuatan, memiliki uang itu juga penting? Bagaimana caramu mendapatkannya selama ini, Nakano-San?” “Aku mendaftarkan diriku menjadi seorang petualang di sebuah tempat yang di sebut Guild,” jawabnya. Benar-benar cara yang biasa yang di gunakan oleh para penyintas yang di pindahkan ke dunia lain. “Aku datang ke kota ini sebenarnya untuk melakukan sebuah misi pengiriman barang. Dan uangnya... Hilang, itu karena orang-orang tadi mencurinya, dan kau malah membiarkan mereka pergi membawa uang itu. Sekarang bagaimana caranya aku menjelaskan pada penyewaku?” Ehehe... Jadi begitu, dia sedang dalam misi pengiriman. Misi semacam ini biasanya hanya di lakukan oleh Petualang Pemula, bisa di katakan yang tingkatannya rendah. Misi pengantaran barang yang sulit biasanya membutuhkan banyak anggota party. Tapi karena dia melakukan misinya sendirian, ini hanyalah misi pengantaran barang skala kecil. Sekarang aku mengerti kenapa dia tidak bisa meningkatkan levelnya terlalu banyak. Apa Champion lain juga bernasib sama dengan Nakano-San? “Nakano-San tidak perlu mengkhawatirkan soal itu, uangmu akan segera kembali. Hathor sedang mengambilkannya untukmu sekarang,” ujarku. “Hathor? Apakah dia Pria Besar yang berbicara denganmu.” “Ya, dia Hathor. Tidak perlu gugup padanya, meskipun dia tampak menakutkan tapi sebenarnya dia adalah orang baik,” kataku sambil tersenyum. “Kau tidak bilang padanya kalau akan pergi kesini, kota ini terlalu ramai. Bagaiamana dia bisa menemukanmu?” “Ah! Soal itu... Dia akan segera menemukanku jika aku menyobek kertas ini,” ujarku sambil memperlihatkan kertas sinyal pada Nakano-San. Aku menyobeknya. “Hanya menyobek? Dia tidak muncul, lho.” “Nakano-San, Hathor itu sebenarnya manusia. Apa kau berpikir kalau dia itu Jin? Dia tidak muncul setelah aku merobek kertas, kita hanya perlu menunggu.” Blarr!!! Pintu Tempat Makan yang kami datangi rusak karena di hempas oleh seseorang, ya! Jin telah tiba. “Kepala Desa, apa anda baik-baik saja?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD