Bagaimanapun baru saja Raja Kerajaan Palapis mengajukan lamaran padaku untuk putrinya, jelas saja Selcan yang saat ini ada bersama dengan kami di ruangan ini sangat gembira mendengar pernyataan sang Raja.
“Tuan Ichigaya, sepertinya Ayahanda saya, Sang Raja Goktug Rahen Palapis. Telah menyetujui pernikahan ini, saya benar-benar tidak menyangkanya. Padahal baru saja saya ingin meminta restu,” kata Selcan dengan berpura-pura polos.
Tidak menyangka apanya? Bukankah ini yang sejak awal kau rencanakan? Memintaku untuk membawa semua peralatanku untuk di tunjukkan pada ayahmu supaya ayahmu mudah memberikan restunya.
Tuan Putri Selcan, kau benar-benar menjebakku. Aku akui Tuan Putri yang satu ini lebih sulit di hadapi.
“Ayahanda, sebelumnya saya sudah meminta lamaran pada Tuan Ichigaya, saya pun tertarik dengannya. Tidak hanya dengan ide-ide hebatnya, tapi penampilannya juga... Saya sangat menyukainya.”
Berhentilah mengatakan seolah-olah aku adalah orang berwajah tampan, tapi ya... Kenyataan memang tidak bisa di sangkal. Eh?!! Bukankah aku harus menyangkal lamaran ini?
“Raja Goktug, bukan saya menolak lamaran ini tapi, saya sudah melamar gadis lain sebelumnya. Dia adalah gadis yang datang bersama saya, namanya adalah Rya.”
“Selain itu... Ini bukan pertama kalinya saya di lamar, bahkan seorang Tuan Putri dari Kerajaan Badamdas pun mengutarakan perasaannya pada saya,” sambungku.
“Seorang Pria yang Karismatik memang akan selalu begitu, Tuan Ichigaya. Ada masalah apa dengan satu atau dua gadis yang datang melamar? Pada akhirnya seorang Pria Alpha akan memiliki delapan orang Istri, jika masih ada tempat yang kosong di antara ke delapan itu, kenapa kau tidak mengijinkan Putriku Selcan untuk mengisinya?”
“Ayo-ayo! Kita pergi ke ruang makan dan kita tanyakan pendapat dari Istri pertamamu,” ujar sang raja yang kemudia merangkulku.
Dia tiba-tiba bersikap sok akrab denganku, seolah-olah aku setuju untuk menjadi menantunya. Apakah tujuanku datang ke dunia lain hanya untuk menciptakan sebuah Harem?!
****
Raja Goktug membuka pintu yang besar itu dengan cara yang megah, meskipun aku tidak di lepaskan dari rangkulannya.
“Halo semuanya, ku harap kalian menikmati hidangan yang telah Kerajaan kami siapkan untuk tamu-tamu terhormat kami.”
“Baiklah Tuan Ichigaya, kau bisa bergabung dengan mereka untuk mengisi perutmu. Setelah ini kita akan melakukan pembicaraan serius, jadi sebaiknya kita tidak membiarkan perut kita dalam keadaan kosong,” lanjut Raja Goktug.
Aku pergi ke kursi yang ada di diantara Rya dan Paman Bern dengan kehilangan seluruh semangatku, rasanya aku benar-benar di peras oleh ayah dan anak itu. Bagaimana caranya aku lari dari cengkraman mereka? Saat aku menjadi menantu Kerajaan ini, tanggung jawab yang berat akan di bebankan padaku.
Apa kalian tidak tau seberapa beratnya mengurus sebuah Desa? Kenapa kalian menambahkan tanggung jawab yang lebih besar pada orang yang belum setahun menjabat sebagai pemimpin pedesaan kecil.
Tolong ampuni aku.
“Nak Eishi, Raja menunjukkan sikap yang baik terhadapmu. Apakah Tuan Putri Selcan memberitahu pada beliau tentang dirinya yang melamarmu?” kata Paman Bern.
Aku tidak khawatir Raja Goktug akan mendengarnya, Paman Bern mengatakannya dengan pelan, jadi aku tidak yakin dia akan mendengar, apalagi dengan jarak yang memisahkan kita, meja makan Keluarga Kerajaan Palapis sungguh besar.
“Tidak, Selcan tidak memberitahunya. Tapi hal yang lebih buruk terjadi, raja malah melamarku untuk putrinya itu,” jawabku.
“Haha, bukankah itu bahkan lebih baik lagi. Kau bisa jadi bagian dari sebuah Kerajaan Makmur, kau harusnya bersyukur.”
“Tidak Paman, aku lebih suka memulai segalanya dari Nol. Dari pada menjadi bagian dari Kerajaan Makmur, kenapa tidak aku memakmurkan wilayahku sendiri?”
“Tapi dapat menikahi seorang putri? Kau pikir semua pria dapat melakukannya. Kau itu sangat beruntung, Anakku.”
“Paman, tolong jangan pengaruhi aku. Saat ini aku memikirkan cara keluar dari permasalahan ini. Sebenarnya aku juga tidak ingin membuat Rya kecewa. Tidak akan nyaman baginya jika pria yang dia cintai, harus di bagi dengan orang lain.”
“Kau Pria Alpha, nak. Kau bisa memiliki lebih dari satu istri.”
Astaga Paman Bern, bagaimana kau bisa mengacaukan pendirianku. Meskipun membuat harem adalah impian banyak laki-laki di duniaku, tapi... Apa aku benar-benar boleh melakukannya?
Hihi... Astaga! Apa yang ku pikirkan? Aku terlalu terbawa suasana.
“Nona Muda, apakah anda tunangan dari Tuan Ichigaya?” ujar sang Raja membuka topik pembicaraan.
Rya cukup terkejut mendengarnya, tapi dia mampu bersikap tenang dan menjawab pertanyaan dari Raja dengan sangat baik.
“Benar, saya adalah Tunangan Eishi.”
“Putriku... Aku berpikir untuk menikahkannya dengan Eishi, bagaimana menurutmu?”
“Saya sudah mendengar pernyataan langsung dari Tuan Putri Selcan, bahkan Tuan Putri telah melamar tunangan saya di hadapan publik tadi pagi. Bagaimana pun juga saya tidak bisa menentang keputusannya. Bukan karena dia adalah seorang Tuan Putri, tapi karena setiap orang selalu bebas berpendapat.”
“Jika Tuan Putri Selcan berpendapat bahwa Eishi adalah pria yang layak dia nikahi, saya tidak keberatan,” sambung Rya.
“Bagus sekali...”
“Tapi! Maaf jika saya menyela, Raja. Memang seorang pria berhak memiliki pendamping hidup sampai delapan orang istri. Eishi pun berhak memilikinya.”
Rya... Apa yang kau katakan? Apa kau benar-benar akan membiarkanku segera menggelar pernikahan dengan Putri Selcan?
“Tapi Eishi bilang dia tidak ingin menikah terlebih dahulu, dia adalah seorang Kepala Desa yang sangat sibuk dengan urusannya mengurus desa. Desa kami Nimiyan bukanlah sebuah desa yang besar, kehidupan disana tidak semakmur Kerajaan Palapis, Eishi... Dia mengeluarkan semua idenya, memeras tenaganya siang dan malam untuk mengurus kami. Berkatnya kami bisa makan dan berkatnya kami dapat berkumpul bersama keluarga kami, berkatnya kami tersenyum setiap hari.”
“Dia perlu waktu untuk menikah, jadi kumohon beri dia waktu. Lamaran pernikahan ini, meskipun saya bukan orang yang bertanggung jawab untuk menolaknya. Tapi saya ingin anda menundanya terlebih dahulu.”
Bagus, Rya meminta Raja untuk menundanya, setidaknya itu akan memberikanku waktu yang cukup untuk berpikir.
Rya melihat ke arahku.
“Kalaupun nanti Eishi memutuskan untuk menikah, orang yang pertama kali dia nikahi... Haruslah diriku,” kata Rya.
Rya tidak keberatan membiarkanku menikahi orang lain juga, senyum yang dia perlihatkan saat mengatakan kalimat yang barusan juga terlihat sangat tulus. Kurasa tidak ada salahnya untuk menyegerakan pernikahanku dengannya.
Tidak perlu memikirkan logika yang ada di duniaku sebelumnya, karena disini logika semacam itu tidak di pakai sama sekali. Selalu ingat bahwa di mana tanah di pijak, di sana langit di junjung.
Aku membelas perkataan Rya dengan mengangguk dan tersenyum padanya, aku juga mengelus rambutnya dengan lembut. Aku benar-benar kagum akan ketegarannya, jika pada akhirnya aku mencintai orang lain lagi. Aku akan mencintai Rya lebih dari yang lain.
“Nona Rya... Saya benar-benar kagum dengan sikap anda, saya dapat melihat Tuan Ichigaya sangat enggan untuk menerima lamaran saya, bahkan ketika ayahanda saya menegaskannya lagi, dia nampak sangat ingin menolaknya.”
“Saya yakin, dia... Sangat memikirkan perasaan anda, Nona Rya. Tapi... Anda juga memikirkan Tuan Ichigaya sebanyak dia memikirkan anda. Anda tidak bersikap egois, anda tidak meminta Tuan Ichigaya untuk menjadi milik anda seorang. Disini saya dapat melihat bahwa kalian berdua saling mencintai,” sambung Selcan.
Benar sekali, aku dan Rya itu saling mencintai... Bukankah tidak nyaman untukmu menjadi orang ketiga dalam hubungan kami? Jadi kau akan membatalkan keinginanmu untuk melamarku, kan?
“Tapi saya tidak akan menyerah, suatu saat saya akan membuat Tuan Ichigaya mencintai saya melebihi cintanya pada anda. Jadi mulai sekarang kita akan menjadi Rival. Apakah anda tidak keberatan, Nona Rya?” kata Selcan.
Kenapa? Kenapa malah bersaing? Jadi kau tidak menyerah untuk melamarku?
“Tentu, jika membicarakan kecantikan dan kekayaan mungkin saya tidak akan sebanding dengan anda. Tapi jika berbicara tentang siapa yang lebih dicintai oleh Eishi, saya sangat percaya diri!” jawab Rya.
Kemudian kedua gadis itu tertawa bersama. Ku harap mereka bisa rukun jika mereka berdua memang harus menjadi istriku. Ku rasa kehidupanku yang sekarang, sudah cukup membuat orang lain iri. Hadehh...
***
Setelah perjamuan selesai, Raja tetap lengket padaku. Dia terus menanyakan apakah sepeda yang ku bawa boleh di tinggal di sini, bahkan dia memaksa untuk membiarkan sepedaku tinggal di sini, dia bilang dia akan menjaganya dengan baik.
Lalu Ratu Zihan, dia seperti tidak setuju dengan usulan pernikahan ini. Bukan masalah pernikahannya, tapi masalah urutan pernikahannya. Dia tidak ingin putrinya di jadikan istri ke dua.
Ternyata hukum pernikahan di dunia ini begitu ketat dan memiliki banyak arti. Seorang Pria di perbolehkan memiliki lebih dari satu istri tapi delapan adalah batasnya, hal itu berlaku seperti menghitung hari dalam dunia Khartapanca yang memiliki delapan hari dalam seminggu.
Istri pertama disebut sebagai Istri utama, dan yang lainnya... Kasarnya hanya sebagai pemain cadangan, bisa di bilang begitu. Semakin besar angkanya maka perlakuannya akan berbeda. Istri utama selalu memiliki keuntungan yang lebih di bandingkan dengan istri lainnya, dan Ratu Zihan tidak bisa menerima itu.
Selcan adalah seorang Tuan Putri pertama Kerajaan Palapis. Tentu saja dia memiliki gengsi yang tinggi, bahkan Ratu berpikir bagaimana seorang Tuan Putri sepertinya di jadikan yang ke dua, orang-orang di Kerajaan Palapis pasti mempertentangkan hal ini, bahkan Kerajaan tetangga juga akan memberikan pandangan yang negatif.
Dan lagi, aku hanya Kepala Desa dari wilayah kecil. Sudah pasti itu akan menjadi lelucon bagi kerajaan lain. Tapi, berpikir Raja Goktug dan Putri Selcan akan berpikir ulang mengenai pernikahan ini, mereka berdua malah tetap ngotot.
Kerana Ratu Zihan sangat menyayangi ke duanya, dia tidak ada pilihan lain selain mengikuti keinginan suami dan juga putri kesayangannya itu.
Dan ya! Karena Raja Goktug masih belum puas bermain-main dengan sepedaku, dia menyuruhku dan rombongan untuk menginap dalam istananya sebagai seorang tamu kehormatan.
Jadi saat ini kami semua ada di dalam satu ruangan yang di berikan untuk kami. Dan malam ini hanya ada aku, Paman Bern, Hathor, Torn dan juga Lyod. Sedangkan Rya pergi bersama Selcan ntah kemana, ku harap Selcan memang berniat ingin mengakrabkan diri dengan Rya dan tidak melakukan hal-hal yang aneh padanya.
Untuk jaga-jaga aku memberikan kertas mantra yang akan memberikan sinyal pada Rune yang di pegang Hathor, lebih tepatnya, Hathor sendiri yang memodifikasinya untuk menjadi sebuah kalung.
“Kepala Desa, anda sedang memikirkan apa?” kata Hathor.
“Hmmm... Aku berpikir, untuk segera menyudahi rencana perdagangan kita di kerajaan ini. Aku sudah menyimpan seluruh kentang yang ada di kereta ke dalam sihir ruangku. Karena di sana waktu terhenti, jadi kentangnya tidak akan membusuk walaupun di simpan untuk waktu yang lama. Aku berniat untuk menjualnya ke tempat lain.”
“Kemana? Dan kenapa?”