Susah Tidur

1577 Words
Kami berhasil keluar dari Ngarai Bajra dengan selamat, saat aku memeriksa Point Exp ku ternyata sama sekali tidak bertambah setelah melakukan pertarungan tadi, ada pertambahan sedikit karena Hathor merupakan rekanku yang tertulis dalam Sistem, jadi dia membagikan sedikit Exp yang dia peroleh dari pertempurannya. Tidak ada cara lain untuk menaikkan level selain dengan menciptakan hal-hal baru. “Eishi, apa kau lelah? Bagaimana kalau kita bergantian? Aku akan mengayuh sepedanya dan kau duduk di belakang.” “Ah! Tidak Rya, biarkan aku saja. Jika aku lelah hanya karena hal ini itu artinya aku masih belum cukup kuat. Setelah pertarungan tadi aku sadar kalau aku masih belum cukup kuat. Aku perlu banyak melatih tubuhku, jadi serahkan bagian mengayuh sepeda ini padaku.” “Baiklah, tapi kalau kau lelah maka jangan ragu untuk mengatakannya padaku,” ucap Rya. “Umm!!!” balasku sambil mengangguk. Alasan utamaku menolak permintaan Rya adalah bukan karena aku tidak ingin dia kelelahan karena memboncengku, tapi! Jika aku harus di bonceng dia dan duduk di belakang, bukankah aku yang harus memeluk perut Rya seperti yang ia lakukan kepadaku. Jika ini di jepang, maka sudah pasti aku terjerat oleh pidana. Aku harus menahan diri meskipun aku penasaran dengan bagaimana rasanya. Tidak terasa matahari telah menyingsing, kegelapan segera tiba sebentar lagi, tidak baik jika terus melanjutkan perjalanan ini di malam hari. Torn dan Lyod juga sudah beberapa kali bergantian, kurasa kami harus beristirahat sebentar lagi. “Hathor, mari cari tempat yang bagus untuk memasang tenda.” Sebelum hari benar-benar galap kami harus segera menyelesaikan tendanya. *** Satu api unggun, dengan sebuah panci besar menggantung di atasnya. Ada tiga buah tenda yang sudah kami siapkan. Hathor bilang dia tidak ingin tidur di dalam tenda, yah... Padahal aku sudah menyiapkan tenda besar yang cukup untuk dirinya tapi dia tidak ingin menggunakannya, dia bilang dia terbiasa tidur di luar jika di tengah hutan. “Jadi sudah di putuskan pembagian tendanya, Torn dan Lyod akan tidur bersama, aku akan tidur bersama Paman Bern, dan Rya akan tidur sendirian di tendanya.” “A-ano... Eishi, sebenarnya aku tidak terbiasa tidur sendirian. Saat aku tidur sendirian aku mengingat saat-saat aku sakit dulu. Itu membuatku tidak bisa tidur, setelah aku sembuh... Aku jadi semakin sering tidur dengan Tuare.” “Hmmm...” Torn dan Lyod tersenyum sambil melirik ke arahku. Ah... Aku paham apa yang di pikirkan kedua orang ini. Astaga, meskipun aku merasa tidak nyaman dengan tatapan kesal Tuare, tapi untuk kali ini, aku benar-benar berharap dia ada di sini. Masa iya aku harus tidur dengan Rya? “Kepala Desa, sebaiknya kau tidur dengan Rya. Kenapa? Itu karena aku mendengkur cukup keras saat tidur, aku tidak ingin kau terganggu dan malah tidak bisa beristirahat dengan nyenyak. Bukankah kau harus mengayuh sepeda di pagi hari? Jika kau tidak istirahat dengan baik kau akan kelelahan keesokannya, nak.” “Rya tidak bisa tidur jika sendirian, Tuan Bern juga mendengkur saat tidur. Pilihan terbaik adalah anda sebaiknya tidur saja dengan Rya, Kepala Desa.” Hathor, bahkan kau juga... Kelihatannya tidak ada pilihan lain. Lyod mengambil sebuah ranting, kemudian dengan benda itu dia membuat garis lingkaran di sekeliling tenda yang akan Rya gunakan. Aku tidak tau apa maksudnya itu, tapi apa Lyod mencoba membuat sebuah mantra pertahanan dengan gambar garis lingkaran itu? “Eishi, aku dan Torn bersumpah, sampai hari berganti kami berdua tidak akan pernah melewati garis ini.” “Umm! Gunakan waktumu sebaik mungkin,” imbuh Torn sambil menganggukkan kepalanya. Cihh! Dasar orang-orang yang tidak bisa di percaya, bagaimana bisa kalian begitu senang ketika kawan kalian menghadapi kesulitan. “Eishi, apa kau keberatan jika tidur di sebelahku?” Hah? Serius kau masih menanyakan hal seperti itu? Sudah jelas aku keberatan, kita belum menikah bagaimana mungkin kita tidur di satu tenda? Mana mungkin aku mengatakan itu pada Rya. Aku juga tidak ingin jika dia tidak bisa tidur nyenyak nantinya. Benar-benar tidak ada pilihan lain. *** Malam yang sunyi, hanya ada suara hembusan angin dan suara burung hantu. Sesekali terdengar suara kayu bakar yang patah di lahap api, sesekali juga terdengar suara Hathor sedang menguap. Ini benar-benar sudah tengah malam. Dan aku sungguh tidak bisa tidur! Situasi macam apa ini? Rya tidur dengan nyenyak setelah beberapa menit dia menjatuhkan kepalanya ke bantal, nafasnya benar-benar tenang jadi tidak mungkin dia pura-pura tidur. Bagaimana dia bisa selengah ini? Bukankah saat ini ada seorang lelaki yang belum terikat oleh pernikahan dengannya sedang berbaring di sampingnya? Apa jangan-jangan, jika itu aku... Maka Rya tidak akan keberatan jika aku melakukannya? Si4l! Apa yang aku pikirkan, tetaplah berpikir dengan jernih diriku! Suara dengkuran? Ah... Jadi Paman Bern benar-benar mendengkur saat tidur ya. Ah... Enaknya, aku pun ingin tidur dengan nyenyak. Torn dan Lyod bagaimana ya? Apa mereka berdua sudah tidur? Kenapa aku melirik ke arah Rya? Memangnya kenapa kalau semua orang sedang tidur? Si4l, jantungku berdetak dengan kencang secara tiba-tiba, kenapa aku mulai menjadi gerah? Tubuhku mulai panas dan keringat berkucuran dari mana-mana. Torn dan Lyod bilang mereka tidak akan melewati garis lingkarannya. Dihh! Lagi-lagi apa yang kupikirkan? Kenapa aku begitu gelisah? Saat ini aku hanya bisa menelan ludah setelah melirik wajah Rya yang tengah tertidur. Dia benar-benar cantik, bahkan saat dia tertidur, walaupun dia sedikit membuka mulutnya saat tidur sih. Tapi bulu matanya yang lentik, kilauan di pipinya yang mengkilap dan teksturnya yang terlihat lembut. Glup!!! Si4l, lagi-lagi aku menelan ludah. Nafas Rya sangat teratur, tidak di ragukan lagi saat ini dia sedang tidur sangat pulas. Ah! Tanganku bergerak, aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri. Baiklah, mari pejamkan mata dan coba melupakan semuanya, ucapkan kata tidur sepuluh kali, aku yakin aku akan tidur setelah ini. Tidur, tidur, tidur... Ah! Aku tidak bisa tidur, aku malah kembali membuka mataku dan saat ini aku sedang menatap wajah Rya. Kenapa ada seorang gadis cantik tidur di sebelahku? *** Hah?! Apa yang terjadi? Kemana perginya Rya? Dia sudah tidak ada di sampingku dalam sekejap mata. “Oy! Eishi, kau sampai kapan mau tidur? Semua orang sudah berkemas dan siap untuk pergi,” ujar Lyod membuka pintu tendanya, dia menyingkap kain yang menjadi pintu tendaku. “Bukankah kau bersumpah tidak akan melewati lingkarannya?!” “Hah? Apa yang kau bicarakan? Bukannya aku bilang dengan jelas, sampai hari berganti aku tidak akan menginjakkan kakiku ke dalam lingkarannya, dan sekarang hari sudah berganti. Cuci wajahmu dan berhenti melamun!” jawab Lyod. Jadi sudah pagi, aku benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi tadi malam. Aku belum sempat melakukan apapun, sayang sekali. Hathor membersihkan api unggun yang kita gunakan semalam, Paman Bern dan lainnya mengemasi tendanya. Sarapan kami sudah di siapkan oleh Rya sebelum matahari menjulang. “Hehe... Eishi, bagaimana malammu? Apa kau tidur dengan nyenyak?” goda Torn. “Apa kau tidak melihat garis hitam di bawah mataku,” jawabku dengan perasaan kesal. “Hahaha, itu pasti karena kau tidak tidur karena memikirkan sesuatu yang kotor tadi malam,” kata Lyod. “Wey!! Jangan samakan aku dengan dua serigala jantan seperti kalian, mana mungkin aku berpikiran seperti itu.” “Malam ini mungkin tidak, tapi masih ada empat malam lagi sebelum kita benar-benar sampai di Kerajaan Palapis,” ujar Torn. “Haha, kau benar Torn. Mungkin di sisa malam itu akan ada niat kotor yang muncul dalam otak Eishi. Hahaha!” imbuh Lyod. Orang-orang ini mengatakan hal yang tidak-tidak, apa mereka tidak melihat kalau Rya juga ada di sini mendengar pembicaraan kita. Dasar dua orang kony0l ini. “Eishi, kau pasti tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam, apa itu karena aku mendengkur?” “Rya, tidak... Kau sama sekali tidak mendengkur.” “Apa aku tidak bisa tidur dengan tenang? Maksudku aku terlalu banyak bergerak saat tidur dan tidak sengaja menimpamu?” “Tidak, itupun tidak. Sebenarnya aku tidak terbiasa tidur di luar rumah. Berkemah... Ini benar-benar pengalaman pertama untukku, aku perlu membiasakan diri.” Torn dan Lyod melirik ke arahku. Mereka memandangiku tanpa mengatakan apapun. Kemudian keduanya sangat kompak tertawa di waktu yang bersamaan. Kedua orang ini mengesalkan kapanpun dan di manapun. Jika di pikirkan baik-baik, masih akan ada beberapa malam seperti malam kemarin. Bagaimana aku akan mengatasinya? Aku benar-benar tidak bisa tenang jika Rya tidur di sampingku. Tubuhku terkadang bergerak tanpa aku pikir terlebih dahulu, aku bersyukur malam kemarin aku bisa bertahan. Tapi malam berikutnya, aku tidak tau. Perjalanan kami masih panjang, sebaiknya aku berdo'a agar aku tetap dikuatkan. **** Beberapa jam semenjak kami meninggalkan titik kemah kami, rasanya kami sudah semakin dekat dengan kerajaan Palapis. Sebaiknya begitu, jika harus melalui banyak malam, aku tidak menjamin aku akan kuat menahan godaan itu. “Kepala Desa, aku melihat orang di depan kita. Jumlahnya dua orang, satu Ibu paruh baya dan seorang gadis muda. Mereka kelihatannya sedang menunggu sesuatu, apa mereka butuh tumpangan?” ujar Hathor. “Bagaimana kalau kita tanyakan saja,” jawabku. Ternyata benar seperti yang di katakan oleh Hathor, seorang ibu-ibu paruh baya membawa seorang anak gadis sedang berdiri tidak jauh dari tempat kami. “Nyonya, apa kau butuh tumpangan?” sapaku sambil menawarkan wanita itu tumpangan. “Apa kalian akan pergi ke Desa Fandhar?” “Desa Fandhar? Kami tidak ingin pergi kesana, sebenarnya kami sedang menuju Kerajaan Palapis, apakah desa yang anda sebutkan tadi searah dengan jalan ke Kerajaan Palapis?” “Ah benar! Jika kalian ingin pergi ke sana maka kalian akan melalui desa saya. Bisakah kalian memberikan saya dan anak saya tumpangan ke sana?” Gadis yang bersama Nyonya ini memakai tudung yang menutupi wajahnya, dia juga seperti berusaha menyembunyikan tangannya, ada apa dengan gadis ini? Mungkin aku harus memeriksanya. “Open Information!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD