Tak lama setelah Sean turun dari kereta kudanya kemudian satu orang gadis lagi turun, tidak lain itu adalah seorang maid assasin yang selalu bersamanya, Ghanira. Belum sampai disitu, ada seorang lagi yang juga turun, kali ini seorang kakek-kakek, kalian mungkin sudah bisa menebaknya, ya Sang Penyihir Agung Kerajaan Badamdas.
“Tuan Putri Sean, Nona Ghanira dan... Penyihir Agung Vallas, se-selamat datang di Desa Nimiyan,” ujarku gelagapan.
Dari sekian banyaknya orang di dunia ini, kenapa harus mereka yang datang ke desa. Ya ampun.
Nampaknya Sean dan juga Tuan Vallas sudah terbiasa menggunakan kacamata, Sean terlihat lebih cantik saat dia menggunakannya. Ah... Andaikan Rya juga mau memakai kacamata, mungkin keindahan dunia tidak akan pernah pergi jauh dari hidupku.
“Senang rasanya kita dapat berjumpa lagi, Kepala Desa Nimiyan... Tuan Ichigaya Eishi, benar? Anda hanya menyebutnya sekali saat bertemu, dan nama anda sangat terdengar asing, jika saya salah mengeja nama anda, saya mohon maaf.”
“Ah... Tidak Tuan Penyihir Agung, anda mengeja nama saya dengan tepat. Dan... Senang bisa kembali berjumpa dengan kalian,” sahutku dengan wajah yang kupaksa untuk terlihat ramah. Sejujurnya aku tidak terlalu senang bertemu dengan mereka, kenapa mereka tiba-tiba datang sih.
“Eishi, aku senang karena kau tidak mengambil kacamatanya kembali. Berkatmu aku bisa membaca dengan lebih nyaman, dan rasanya sakit di punggungku tidak lagi bertambah parah, terlalu banyak menunduk terkadang menyiksaku.”
“Haha... Tuan Putri bisa menganggap itu sebagai hadiah pertemuan dari saya, dan mungkin sebagai ucapan terimakasih karena Tuan Putri bersedia mempertemukan kami dengan sang Raja,” jawabku.
Aku melihat ke arah ke dua prajurit yang di bawa oleh Tuan Putri Sean. Mata mereka menatap sinis ke arah Torn, saat aku melihat Torn, benar saja... Matanya seperti ingin melompat keluar saat melihat Tuan Putri Sean. Kekaguman di tambah perasaan karena jarang melihat wanita cantik, dasar Torn... Bisa gawat kalau Tuan Putri menganggapnya tidak sopan.
“Torn, jaga matamu itu, jangan sampai para prajurit itu menganggapmu melakukan tindakan yang tidak sopan. Yang kau lihat di hadapanmu itu adalah seorang Tuan Putri, lho,” bisikku pada Torn.
“Ma-maaf Ichigaya, Tuan Putri terlalu cantik, aku tidak bisa mengendalikan pandanganku,” balasnya yang juga berbisik. Setelah itu Torn menundukkan kepalanya.
Saat mengira masalah sepele ini sudah teratasi, satu lagi biang kerok datang dengan berteriak riang.
“Haha! Kalian pasti tidak mengira seberapa cepat aku melaju di jalan timur!” seru Lyod dari kejauhan.
Mungkin karena dia melihat kereta yang bagus dan juga dua prajurit berkuda dengan zirah lengkap, torn menarik remnya dan melaju perlahan ke arah kami. Dan begitulau, akhirnya sepeda... Juga di saksikan oleh orang dari luar desa.
“Ku-kuda besi? Ap-ap-apa, apa itu ku-kuda besi?!” Tuan Vallas gelagapan dengan tangan gemetar menunjuk ke arah sepeda yang di tunggangi oleh Lyod.
Ah... Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menjelaskannya pada mereka.
“Lyod, jagang sepedanya dan turunlah, Tuan Putri dari Kerajaan Badamdas datang berkunjung, kita harus memperlihatkan kesopanan kita padanya,” ujarku.
“Ba-baik, Kepala Desa.”
“Tuan Eishi, benda itu... Apa itu adalah sebuah Rune lainnya yang di buat olehmu?” Kakek Tua Vallas berjalan perlahan dengan tangan yang mencoba meraih sepeda itu.
“Me-mengagumkan, terbuat dari bahan logam yang begitu mengkilap, bahkan zirah dan perisai kerajaan tidak pernah terlihat seindah ini. Rune ini luar biasa,” imbuhnya sambil meraba-raba sepeda angin itu.
“Tuan Vallas, itu sama sekali bukan sebuah Rune. Itu hanya sebuah alat yang menggunakan tenaga manusia sebagai penggeraknya, sama sekali tidak membutuhkan Mana atau Sihir untuk membuatnya bekerja.”
“Apa?!! Bagaimana seorang guru besar sepertiku tidak mengetahui ada benda semacam ini. Kacamata, kali ini sebuah kuda besi dengan roda. Bagaimana kau bisa lebih tau dari orang tua ini, Tuan Eishi.... Jika kau tidak keberatan, jadikanlah aku muridmu, aku akan mengajarkanmu sihir asal kau mau melakukannya.”
“Ya! Masa abdiku pada Kerajaan Badamdas juga sudah hampir habis, aku bisa meneruskannya pada anakku, lalu aku memutuskan pergi dari Kerajaan itu dan tinggal disini untuk belajar kepadamu, bagaimana?” imbuh Kakek Tua Vallas.
Bagaimana apanya?!! Bukankah itu gawat namanya?!! Sebenarnya apa sih yang di pikirkan oleh kakek tua ini, bukankah Kerajaan akan sangat marah jika dia tiba-tiba memutuskan berhenti dan berpindah ke desa ini. Sungguh Pak Tua yang tidak rasional.
“Tuan Vallas, apa yang anda katakan? Apa anda memutuskan berhenti dan tinggal di desa ini? Raja Thane tidak akan mengijinkan hal itu, saya mohon untuk merenungkan ucapan anda,” kata Ghanira.
“Hmmph! Kau anak kecil mencoba mengajariku?!” sahut Pak Tua itu merasa tersinggung.
Tidak, tidak, tidak! Jika di bandingkan dengan Nona Ghanira bukankah aku lebih pantas di panggil sebagai anak yang lebih kecil darinya.
“Kalau Tuan Eishi berbeda, walaupun dia adalah seorang anak muda aku bersedia memanggilnya guru dan bersikap sopan di hadapannya,” kata Tuan Vallas yang seolah mampu membaca apa yang aku pikirkan.
“Ah... Rasanya kurang enak jika terlalu lama membiarkan tamu tetap berdiam di depan Gerbang Desa, bagaimana jika kami mengantar kalian semua masuk ke dalam. Lebih baik jika kita berbincang di dalam desa. Biarkan kami menjamu kalian dengan meriah, ayo!” ujarku.
Aku benar-benar harus menghindari percakapan yang bisa membuatku terjerembab dalam masalah, rasanya tidak akan menjadi hal yang baik jika aku meladeni Kakek Tua Vallas ini.
“Ichigaya Eishi!!! Apa aku boleh menaiki alat yang baru saja Kakek Vallas sebut dengan Kuda Besi?”
“Ke-keinginan Tuan Putri adalah perintah bagi saya. Tentu anda bisa naik, tapi biarkan saya yang mengemudikannya.”
“Lyod, kau bonceng Torn untuk pergi ke Penginapan mengambil sepedaku, lalu kembalilah kemari.”
“Baik Kepala Desa!”
Sebelum Torn naik ikut dengan Lyod aku menghentikannya dan membisikkan sesuatu padanya.
“Suruh orang-orang menyiapkan jamuan besar, tapi hindari menggunakan kentang. Kita tidak bisa memberikan kentang pada orang-orang dari Kerajaan Badamdas, ingat Torn!”
Torn mengangguk dan segera naik ke sepeda.
****
Aku masuk ke dalam desa dengan membonceng Tuan putri di belakang sepedaku, dia sangat gembira dapat naik sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Yah... Meskipun sebelum naik aku mendapatkan omelan terlebih dulu oleh Ghanira. Bahkan saat ini gadis itu sedang duduk di bagian depan kereta kuda di samping pak kusir.
Aku merasakan pancaran aura yang kuat dari tatapan matanya yang sinis ke arahku.
“Benar-benar alat yang tidak aman, Tuan Kepala Desa, sebaiknya kau berhati-hati agar tidak menjatuhkan Tuan Putri dari benda itu,” omel Ghanira.
“Rasanya menaiki benda ini terasa lebih romantis dibandingkan dengan menunggangi kuda,” ucap Sean.
“Biasanya seorang gadis akan duduk di depan, dan pria akan memegang tali kudanya. Tapi jika dengan benda ini, seorang gadis bisa memeluk perut sang pria dengan tangan lalu bisa menyandarkan wajah sang gadis di punggung sang pria, seperti yang kulakukan saat ini,” imbuhnya.
Di hadapkan pada situasi seperti ini aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata apapun untuk membalasnya. Tuan Putri ini malah seenaknya sendiri, tapi jika aku menyangkalnya maka aku takut di anggap kurang sopan. Ah... Benar-benar serba salah.
“Aku benar-benar lupa mengatakan bahwa baumu sangat wangi, aku ingin mengatakannya saat pertama kali kita bertemu, tapi sebelum aku sempat kau sudah pergi.”
Sungguh aku tidak mau mendengar Tuan Putri mengatakan hal itu, suara detak jantungku kurasa sudah cukup kencang, tapi rasanya masih belum cukup untuk menutupi pembicaraan ngawur dari Tuan Putri Sean. Lagipula kenapa dia membahas bauku, apa dia mengendusnya? Apa jangan-jangan Tuan Putri Sean adalah gadis m3sum?
“Tuan Eishi, kenapa kau diam saja? Cobalah katakan sesuatu, apa kau tidak senang dengan aku yang tiba-tiba mampir?”
Kau yakin aku boleh mengatakan sesuatu, orang-orang mu tidak akan menghukumku, kan?
“Tuan Eishi, bicaralah!”
“A-apa yang harus kukatakan, Tuan Putri?!” kejutku.
“Sebaiknya kau berhenti memanggilku Tuan Putri, aku ingin kau membiasakan dirimu dan mulai memanggilku Sean. Sejak aku memutuskan untuk bertunangan denganmu, aku sudah memikirkannya dengan sangat serius, tidak peduli akan apapun... Aku hanya menginginkan dirimu,” dengan suara yang lembut dia mengatakannya padaku, bahkan tangan kirinya membelai lembut ke arah punggungku.
Bukankah ini yang dinamakan merayu? Baru kali ini aku di rayu oleh seorang wanita, perasaan takut dan senang bercampur aduk datang padaku secara bersamaan.
“Tuan Putri, jika anda mulai mengatakan hal-hal yang aneh lagi, mungkin Nona Ghanira akan mendengarnya dan dia akan memarahi anda. Selain itu, jika memikirkan kemungkinan terburuknya, saya akan di pancung atas tuduhan merayu Keluarga Kerajaan,” ucapku padanya.
Kuharap Sean dapat mengerti dan menjaga sikapnya itu, kalau memang tidak bisa... Setidaknya dia harus menahannya.
“Selama seminggu Ibunda terus saja memarahiku, itu karena aku mengatakan pada mereka... Bahwa aku memutuskan untuk bertunangan denganmu. Mereka semua menentangnya, ayah bilang bahwa pertunangan itu tidak bisa di putuskan sendiri olehku, bahkan kedua orang tuaku sudah menentukan calonnya jika aku benar-benar ingin bertunangan, bukankah itu tidak adil?”
Oy! Kenapa kau malah curhat padaku? Aku sama sekali tidak mengerti masalah pelik yang di hadapi oleh Keluarga Kerajaan, sebaiknya kau tetap mengeluh saja pada orang tuamu.
“Aku berpikir, memilih sendiri seorang yang pantas mendampingimu itu lebih baik, mengungkapkan perasaan secara langsung itu lebih indah di bandingkan dengan membaca surat lamaran yang di tuliskan oleh orang tua pelamar, komitmen untuk saling menjaga itu lebih kuat dibandingkan dengan perjanjian yang di tandatangani di atas kertas. Cinta... Lebih utama di bandingkan dengan tahta.”
Wah... Kalimat yang ia susun benar-benar indah, aku tidak bisa menyangkalnya. Tapi tetap saja, Tuan Putri kenapa kau malah curhat padaku?!
“Aku mencintaimu Tuan Eishi.”
Aku mengerem dengan sangat mendadak, aku benar-benar terkejut. Setelah mendengarkan dia mengucapkan kalimat yang begitu dalam, aku mulai mendengarkan dengan serius apa yang dia katakan, tapi siapa yang mengira di akhir kalimat itu... Tuan Putri menyatakan perasaannya padaku.
“Ki-kita sudah sampai di Balai Desa, lihatlah Tuan Putri... Semua orang di desa senang menyambut kedatangan kalian,” kataku.
Aku hanya bisa berpura-pura tidak mendengarkan apa yang baru saja ia katakan. Lagipula... Berpikir bahwa seorang Tuan Putri menyatakan perasaannya pada orang biasa sepertiku, betapa besar kepalanya aku. Hal itu... Tidak mungkin terjadi, bukan?
Dap dap dap!!!
Suara langkah kaki terdengar mendekat cepat ke arahku, tidak berlari namun melangkah dengan cepat, hanya orang dengan perasaan kesal yang berjalan seperti itu.
“Eishi, apa kau baru saja berboncengan dengan Tuan Putri?!”