BAB 07

1260 Words
AKU BUKAN DIA | 07 Sebenarnya ada hal penting yang ingin ditanyakan oleh Alyssa kepada Samuel, tapi saat ini ia sedang berpikir-pikir lagi. Karena di dalam dirinya sedang ada pergolakan batin. Setelah berhasil sedikit menenangkan diri, akhirnya Alyssa pun benar-benar memantapkan hati, dan mulai memanggil nama sang suami. “Sam.” “Ya, ada apa?” Samuel langsung memberikan sahutan. Bahkan pria itu pun segera menyerongkan tubuhnya, dan benar-benar menjadikan Alyssa sebagai fokus utama. “Apa sebelumnya ... kau sudah pernah menikah?” tanya Alyssa yang hanya mampu menatap ke dalam bola matanya Samuel sebentar, karena ia segera mengalihkan pandangannya ke arah yang berbeda. Tepatnya ke arah layar televisi yang sedang menyala, dan menayangkan sebuah acara variety show di depan mereka berdua. “Maksudmu ... aku adalah seorang duda?” Samuel malah balik bertanya, tapi Alyssa sama sekali tidak menjawabnya. Dan meskipun tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari bibir istrinya, pria itu tetap melajutkan ucapannya begitu saja. “Tidak, Alyss. Aku belum pernah menikah sebelumnya.” “Apa ada hal lain yang ingin kau tanyakan?” tanya Samuel tak lama kemudian, karena istrinya itu sudah cukup lama terdiam. Alyssa hanya menggelengkan kepalanya dengan gerakan samar. Sementara Samuel yang masih menjadikan wajah istrinya itu sebagai pusat perhatian, tampak merasakan adanya hal yang berkebalikan. Hingga tak lama kemudian, ia pun mulai berujar dengan nada pelan. “Kalau kau masih ingin bertanya, kau tidak perlu merasa sungkan untuk melakukannya.” Namun, Alyssa tetap pada pendiriannya, dan hanya menanggapi ucapan Samuel barusan dengan sebuah gelengan di kepala. Padahal memang masih ada begitu banyak pertanyaan yang sedang menumpuk di dalam otaknya. Hanya saja, ia ragu untuk menanyakannya. Apa lagi salah satu pertanyaannya itu masih sama, karena ia masih ingin bertanya apakah Samuel benar-benar mencintainya karena ia adalah Alyssa, atau karena wajahnya mirip dengan wajahnya Clarissa. *** Sudah nyaris dua minggu semenjak kedatangan Alyssa di rumahnya, tapi Samuel sama sekali tidak menemukan adanya hal yang mencurigakan dari setiap aktivitas yang dilakukan oleh istrinya. Padahal ia sudah sempat menyusun sebuah rencana kalau seandainya Alyssa memesan tiket penerbangan ke Indonesia tanpa memberitahu dirinya. Namun, berhubung Alyssa tidak memesan tiket penerbangan ke mana-mana sampai sekarang, jadi sejauh ini Samuel bisa merasa sedikit lebih tenang, dan ia pun bisa kembali bekerja dengan lebih santai. Well, ini sudah hari ketiga di mana ia akan pergi bekerja, dan meninggalkan Alyssa bersama para pekerjanya yang ada di rumah. Meskipun begitu, Samuel tetap menjaga dirinya agar tidak sampai lengah. Karena ia tidak ingin Alyssa pergi jauh darinya. Apa lagi sebelumnya mereka berdua sudah membuat kesepakatan bersama, bahkan melibatkan beberapa anggota keluarga juga, kalau mereka berdua akan kembali ke Indonesia saat libur akhir tahun telah tiba. “Kau ingin pergi ke mana?” tanya Samuel pada Alyssa yang pagi ini terlihat jauh lebih rapi dari biasanya. “Memangnya kenapa?“ Alyssa malah balik bertanya, dan segera duduk di salah satu kursi makan yang terletak cukup jauh dari tempat duduk suaminya. Awalnya Samuel selalu bersikeras untuk duduk di dekat Alyssa setiap kali mereka menyantap makanan di atas meja makan berdua, tapi semakin ke sini ia jadi semakin sering membiarkan wanita itu bertingkah semaunya. Karena bagi Samuel, yang terpenting Alyssa masih mau makan semeja bersama dengan dirinya. Samuel lantas mengembuskan napas pelan sebelum menjawab pertanyaan dari Alyssa barusan. “Karena aku adalah suamimu, Alyss, dan kau juga adalah tanggung jawabku di sini. Jadi, sudah sepantasnya aku mengetahui ke mana pun kau akan pergi.” “....” “Alyss, aku sedang berbicara denganmu.” “Ya, aku tahu.” “Lalu?” Keningnya Alyssa kontan mengkerut dengan pandangan matanya yang terlihat sangat bingung. “Lalu ... lalu apa?” “Kau belum menjawab pertanyaan dariku.” “Oh, itu ... aku tidak ingin memberitahumu.” Samuel langsung merasa berkecil hati begitu mengetahui jika Alyssa tidak ingin memberitahukan dirinya ke mana dia akan pergi, seolah-olah wanita itu tidak menganggap dirinya sebagai seorang suami. Padahal kan wanita itu seharusnya memerlukan izin darinya jika memang ingin pergi, tapi ... Samuel tampak menghela napas sekali lagi. Setelah itu, ia pun memilih untuk tidak mengatakan apa pun lagi. Karena ia hanya terfokus pada menu sarapan paginya yang sedang ia santap saat ini. *** Hari ini Samuel sengaja hanya datang ke restorannya sebentar, karena ia benar-benar mengkhawatirkan keberadaannya Alyssa. Apa lagi sopir yang mengantarkan wanita itu pergi tadi pagi pun sempat memberikan laporan jika dia terpaksa pulang sendirian ke rumah setelah mengantarkan Alyssa ke salah satu pusat perbelanjaan, lantaran wanita itu yang terus memaksa sekaligus sedikit memberikan ancaman agar dia benar-benar pulang dan tidak menunggu Alyssa yang katanya ingin berbelanja berbagai macam keperluan. Samuel yang saat ini sedang menunggu kepulangannya Alyssa di teras rumah mereka, tampak terus menghubungi nomor ponsel wanita itu dengan raut wajah tidak tenang. Karena ini sudah lewat jam makan siang, dan Alyssa sama sekali belum pulang. Di saat Samuel nyaris merasa frustrasi karena Alyssa tak kunjung menjawab panggilan telepon darinya saat ini, tahu-tahu sambungan telepon itu pun akhirnya mulai terhubung, dan suara ketus milik Alyssa langsung terdengar dari ujung sana. “Kenapa?” “Kau sedang ada di mana sekarang?” tanya Samuel yang akhirnya bisa sedikit bernapas lega. Karena dari suara ketusnya Alyssa, ia jadi mengetahui jika wanita itu pasti sedang baik-baik saja. “Di restoranmu.” Alyssa menjawab dengan nada santai. “Hah?!” “Aku yakin kalau pendengaranmu masih baik-baik saja. Jadi, aku tidak perlu mengulanginya.” Samuel lantas mengusap dahinya dengan raut wajah tak percaya. Bagaimana bisa ia sibuk mengkhawatirkan keberadaannya Alyssa selama ia berada di rumah, dan ternyata saat ini wanita itu sedang berada di restorannya? “Kalau begitu, kau tunggu saja di sana. Biar aku yang akan menjemputmu seka—” “Tidak usah!” Alyssa langsung sedikit menaikkan intonasi suaranya, agar Samuel berhenti berbicara dan mendengarkan dirinya. “Aku bisa pulang sendiri.” “Tapi, Alys—” “Aku pulang sendiri, atau aku tidak akan pulang sama sekali?” potong Alyssa dengan nada yang lebih tegas. “Baik, kau pulang sendiri, tapi kau harus sudah sampai di rumah setengah jam lagi.” “Yang benar saja! Masa setengah jam?” Alyssa langsung melayangkan protesnya atas ucapan Samuel barusan. “Ya, hanya setengah jam,” balas Samuel sambil menganggukkan kepalanya. Padahal Alyssa sama sekali tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh Samuel sekarang, tapi pria itu refleks melakukannya. “Aku tahu berapa lama waktu tempuh yang diperlukan dari restoran menuju ke rumah kita, begitu pula sebaliknya. Jadi, kau tidak boleh mampir ke mana-mana lagi. Apa lagi kau sudah pergi dari rumah sejak tadi pagi.” “Memangnya apa yang akan kau perbuat jika aku belum tiba di rumah sampai setengah jam ke depan?” Alyssa bertanya dengan nada santai. Samuel tampak tersenyum licik, sepertinya Alyssa sedang menantang dirinya saat ini, tapi ... raut wajah Samuel pun langsung berganti, karena sesungguhnya ia tidak tega jika harus memberikan hukuman kepada sang istri. “Tidak ada,” balas Samuel pada akhirnya. “Kalau begitu, aku baru akan pulang ke rumah saat hari sudah mulai sore saja.” “Memangnya kau mau—” “Bye, Sam!” “—pergi ... ke mana lagi?” suara Samuel langsung mengecil. Karena Alyssa sudah memutuskan sambungan telepon mereka tanpa izin. Selanjutnya, Samuel pun mulai menurunkan ponsel pintarnya itu dari samping telinga, dan menatap benda persegi panjang itu dengan pandangan hampa. Lalu segera menyeret kedua kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah. Karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan olehnya selain menunggu kepulangan Alyssa di dalam rumah mereka. ***** Bersambung .... Silakan masukkan cerita ini ke dalam daftar pustaka akun dreame ataupun innovel kalian, biar gak ketinggalan update-an.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD