BAB 06

1315 Words
AKU BUKAN DIA | 06 Alyssa langsung menepis rangkulan tangannya Samuel dari atas bahunya begitu panggilan video yang mereka lakukan bersama kedua orang tuanya sudah selesai dan sudah dimatikan. Ia terpaksa harus berpura-pura bersikap manis kepada Samuel agar kedua orang tuanya yang berada di Indonesia tidak merasa curiga. Selain itu, Alyssa juga tidak ingin menjadi beban pikiran bagi kedua orang tuanya di sana. Tentang masalah rumah tangganya dan Samuel, biarlah itu menjadi urusan mereka berdua saja tanpa melibatkan orang lain di dalamnya. Lalu, Alyssa pun mendelik garang ke arah Samuel yang sedang menunjukkan raut wajah bahagia di sampingnya. Well, bagaimana pria itu tidak merasa bahagia? Karena selama panggilan video tadi berlangsung, pria itu selalu saja mencari-cari kesempatan kepada Alyssa yang duduk di dekatnya. Sebenarnya Alyssa merasa kesal, dan ingin sekali mendorong tubuhnya Samuel agar segera menjauh darinya. Namun, ia tidak bisa melakukan hal itu di depan kedua orang tuanya. Karena hal itulah, Samuel jadi bisa berbuat seenaknya. Entah itu memeluk Alyssa dari arah samping, menciumi rambutnya, ataupun merangkul bahunya agar tubuh mereka berdua semakin berdekatan. “By the way, sekarang aku jadi yakin kalau kau tidak akan pergi dari sini sebelum akhir tahun nanti.” “Omong kosong! Aku akan tetap pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Lihat saja nanti.” Samuel kontan menaikkan sebelah alis. “Lalu, kenapa tadi kau tidak mengatakan apa pun kepada orang tuamu?” Alyssa hanya tersenyum misterius, dan kembali menyandarkan punggungnya ke arah sandaran sofa. “Alysss ....” “Hmm?” “Apa pun yang sedang kau rencanakan, lebih baik kau hentikan. Karena aku tidak akan tinggal diam,” ujar Samuel yang saat ini sedang memicing tajam ke arah istrinya. “Lihat saja nanti. Rencanaku, atau usahamu yang akan berhasil.” Alyssa menyahut dengan nada santai. Hal itu kontan saja membuat Samuel mendengkus samar. Tetapi, ia sangat penasaran dengan rencana seperti apa yang akan dilancarkan oleh Alyssa, dan ia tidak mau kalau dirinya nanti sampai kecolongan, lalu kalah dari istrinya. *** Saat ini Alyssa sedang memikirkan rencananya yang akan segera pulang ke Indonesia, dan meninggalkan Samuel untuk sementara, tapi ia tidak akan pulang ke rumah orang tuanya yang berada di pulau Dewata. Karena nanti ia akan menetap di Jakarta sekaligus bersembunyi di sana sampai akhir tahun tiba. Baru setelah itu, ia akan menampakkan dirinya di Bali, seolah-olah ia baru baru saja kembali ke tahan air. Masalah Samuel, itu akan menjadi urusannya nanti, yang penting ia bisa segera menjauh dari pria itu. Supaya suaminya itu bisa menyadari perasaannya sendiri setelah ia pergi. “Sempurna,” gumam Alyssa sambil tersenyum puas, dan menikmati kesendiriannya yang sedang berendam di dalam bathtub. Rencananya, besok atau lusa, Alyssa sudah akan memesan tiket penerbangannya ke Jakarta. Tentu saja ia akan melakukan hal itu secara diam-diam, agar Samuel tidak bisa membatalkan rencananya yang sudah hampir matang. *** “Alyss, please. Jangan pergi, oke?” Samuel tampak mengikuti ke mana pun Alyssa akan melangkahkan kakinya, hingga membuat wanita itu merasa kesal, dan ingin sekali mendorong tubuh suaminya agar segera pergi menjauh dari dirinya. “Alysss ....” Namun, Alyssa tetap tidak mengatakan apa-apa untuk menggubris. “Alysss, pleaseee.” Alyssa lantas mendelik, lalu mulai mengertakkan gigi. “Sam.” “Ya?” “Berhentilah merengek seperti anak kecil, karena suaramu membuatku pusing.” Alyssa lantas melirik ke arah beberapa asisten rumah tangga yang berada tak jauh dari mereka berdua. Entah apa yang dipikirkan oleh mereka semua, tapi Alyssa yakin kalau semua pekerja di sana sudah mengecap dirinya dan Samuel sebagai pasangan teraneh di dunia. Dan siapa yang harus disalahkan atas semua ini? Tentu saja Samuel yang sejak tadi terus merengek seperti anak kecil, dan memintanya untuk tidak pergi. Padahal ia memang tidak ingin pergi ke mana-mana hari ini. “Lagi pula, apa kau tidak merasa malu bersikap seperti itu di depan semua asisten rumah tanggamu?” sambung Alyssa tak lama setelah itu. “Kenapa aku harus malu?” Alyssa hanya mendengkus. Ia lupa kalau terkadang Samuel memang sering bersikap dengan tidak tahu malu. “Lagi pula, mereka sudah mengetahui bagaimana sifat asliku.” Dan Alyssa sama sekali tidak memberikan komentar apa pun, karena ia sudah malas untuk menanggapi segala omongan dari suaminya itu. Selanjutnya, Alyssa pun segera berlalu dari sana, dan langsung pergi menuju ke arah lantai dua. Karena ia ingin masuk ke dalam kamarnya saja. Lalu bersantai di sana sembari menonton film kesukaannya. Sedangkan Samuel tampak mengekori Alyssa dari arah belakang, kemudian ikut masuk ke dalam kamar, dan akhirnya terduduk di ujung ranjang. Alyssa yang melihat kelakuan suaminya, hanya mampu berdecak kesal, lalu bersikap seolah-olah pria itu sedang tidak ada di sana. “Oh iya, Alyss. Bagaimana kalau aku membuat penawaran saja untuk hubungan kita?” tanya Samuel tak lama kemudian, saat Alyssa sedang sibuk memilih-milih judul film yang akan ia tonton di atas ranjang. “Bagaimana, hmm?” Samuel bertanya sekali lagi, karena pertanyaannya yang tadi belum mendapatkan respon sama sekali. “Penawaran apa?” tanya Alyssa yang sepertinya mulai tertarik hingga melirik sekilas ke arah sang suami. “Jadi, begini, Alyss ... kau kan sudah berubah pikiran dan tidak ingin memiliki anak dalam waktu dekat, well, aku akan menyetujuinya, tapi dengan satu syarat.” “Apa?” Samuel lantas tersenyum miring, yang membuat Alyssa langsung menatapnya dengan penuh antisipasi. “Kau tidak boleh pulang ke Indonesia dalam waktu dekat.” Hal itu kontan saja membuat Alyssa mendengkus kasar, dan kembali sibuk memilih film yang sebentar lagi akan ditonton olehnya. “Alyss, coba kau pikirkan. Penawaran dariku ini adalah solusi yang paling terbaik. Kalau kau pulang ke Jakarta, keluargamu pasti akan merasa curiga, dan mulai bertanya-tanya. Sedangkan kemarin saat kedua orang tuamu melakukan video call dengan kita, kau malah menyembunyikan apa yang terjadi sebenarnya.” Meskipun Samuel telah berbicara panjang-lebar, tapi Alyssa terlihat sama sekali tidak ingin menggubrisnya. Bahkan wanita itu pun mulai memutar filmnya dengan santai, lalu mencari posisi ternyaman di atas ranjang setelah menyetel film itu dengan volumenya yang terdengar cukup besar. *** Walaupun terkesan tidak peduli pada tawaran yang sempat dibicarakan oleh Samuel siang tadi, tapi sebenarnya Alyssa masih memikirkan tentang hal itu hingga malam hari. Bahkan sampai terbawa mimpi. Hingga ia pun merasa takut sendiri. Bagaimana kalau ia pulang ke Indonesia nanti ada salah satu anggota keluarganya yang memergoki? Lalu lebih parahnya lagi, kedua orang tuanya pasti akan segera mengetahui jika ia hanya berada di New York sampai beberapa hari, bukannya sampai akhir tahun nanti. Memikirkan hal itu saja sudah berhasil membuat Alyssa merasa pusing. Padahal rencana yang disusun olehnya kemarin sudah terasa sangat rapi. Alyssa lantas bergegas dari atas tempat tidurnya saat ini, dan meninggalkan Samuel yang masih asyik terlelap sendiri. Alyssa tampak mendatangi kamar tempat di mana ia menemukan fotonya Clarissa. Karena pintu kamar itu tidak terkunci, dan ia pun bisa masuk ke sana kapan saja. Ia jadi berpikir, apakah wanita itu adalah kembarannya yang terpisah? Hingga wajah mereka bisa terlihat sama. Namun, Alyssa segera mengenyahkan pikiran konyol itu dari dalam benaknya. Karena ia datang ke kamar ini hanya untuk mencoba mencari tahu apakah si Clarissa-Clarissa itu sudah meninggal, atau masih hidup. Sayangnya, Alyssa tidak bisa menemukan petunjuk apa pun selain beberapa pakaian yang masih ada di dalam lemari yang terletak di salah satu sudut kamar itu. Sehingga Alyssa pun mulai berspekulasi kalau hubungan Samuel dengan mantan kekasihnya itu pasti sudah berjalan terlalu jauh, dan kamar ini pasti adalah kamar milik Clarissa di masa lalu. Memikirkan hal itu, kontan saja membuat hatinya terasa ngilu. Tetapi, Alyssa mencoba untuk memaklumi. Karena ini di luar negeri, dan tinggal satu atap bersama kekasih adalah hal yang biasa terjadi. Alyssa segera menutup kembali pintu lemari. Lalu keluar dari kamar itu dengan kepingan hatinya yang masih terasa sangat nyeri. Bukannya langsung kembali ke kamar utama sekaligus kembali melanjutkan tidurnya di sisa malam ini, Alyssa malah menyendiri di balkon lantai atas sembari terus berpikir. ***** Bersambung .... By the way, buat yang baru gabung, jangan lupa follow akunku, serta akun IG-ku @_ruangbicara_ Makasiiih^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD