BAB 05

1080 Words
AKU BUKAN DIA | 05 “Samuel! Apa yang kau lakukan?!” Alyssa langsung terpekik dengan cukup keras begitu melihat Samuel yang menerobos masuk ke dalam saat ia sedang membuka bajunya di dekat keranjang pakaian kotor yang terletak di sudut kamar mandi mereka. “Aku juga ingin mandi, Alyss. Memangnya kenapa?” tanya Samuel dengan wajah polosnya. Lalu, ia pun mulai melucuti satu per satu pakaiannya di depan Alyssa yang saat ini sedang menutupi bagian depan tubuhnya menggunakan baju kaus yang tadinya sudah ingin dimasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor yang ada di sana. “Sepertinya kau memang benar-benar sudah gila.” Alyssa berkomentar dengan suara pelan, dan sudah bersiap untuk berlalu dari sana. Namun, Samuel malah mencekal pergelangan tangannya Alyssa sambil terkekeh santai setelah mendengar komentar wanita itu terhadap dirinya. “Kau mau ke mana?” tanya Samuel pada Alyssa. “Keluar dari sini, memangnya apa lagi?!” seru Alyssa yang terlihat sangat kesal. “Bukankah kau ingin mandi?” “Tidak jadi.” “Kalau begitu, aku juga tidak jadi mandi.” Hal itu kontan saja membuat Alyssa mendelik. “Tapi, berhubung kau dan aku sudah half- naked di sini, bagaimana kalau kita—” “Aku sedang tidak berselera,” potong Alyssa sebelum Samuel benar-benar menyelesaikan ucapannya barusan. Karena ia sudah bisa menebak ke mana ucapan pria itu akan bermuara. Samuel jadi cemberut seketika. Tetapi, ia langsung mengubah raut wajahnya dengan secepat kilat. Sehingga saat ini ia terlihat memelas di hadapannya Alyssa yang sebenarnya merasa gemas begitu melihat segala ekspresi yang tergambar jelas di wajah tampan suaminya. “Alysssss, please.” Alyssa langsung mencibir. “Aku tidak ingin terlalu sering b******a*. Karena aku sudah berubah pikiran, dan aku tidak ingin hamil dalam waktu dekat.” “Tapi ... bukankah kita sudah sepakat kalau kita berdua tidak akan menunda untuk punya anak?” “Iya, tapi barusan aku sudah sempat mengatakan kan kalau aku berubah pikiran?” Samuel tampak menggeleng keras, lantaran ia tidak setuju dengan keputusan Alyssa barusan. “Kau tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak begitu, Alyss. Apa lagi ini menyangkut hal yang penting, dan untuk urusan anak kita tidak boleh main-main.” “Karena itulah, kita tidak boleh main-main, sehingga aku ingin menundanya saja. Lagi pula, aku akan melakukan penerbangan dalam waktu dekat. Kalau aku sedang hamil muda, aku pasti tidak diperbolehkan untuk melakukan penerbangan ke mana-mana.” “Maksudnya?” tanya Samuel dengan kening yang berkerut samar. “Aku ingin segera kembali ke Indonesia sebelum akhir tahun ini, karena—” “Aku jadi semakin terobsesi untuk membuatmu cepat hamil, agar kau tidak bisa pergi dari sini.” Samuel langsung memojokkan Alyssa ke salah satu dinding kamar mandi, hingga membuat wanita itu kembali terpekik seperti saat ia menerobos masuk ke sini tadi. *** Alyssa benci jika pikiran dan tubuhnya mulai tak sejalan seperti sekarang. Ia ingin sekali menolak setiap sentuhan yang diberikan oleh Samuel terhadap dirinya, tapi tubuhnya malah bereaksi sebaliknya. Tubuhnya mendamba, bahkan menerima pria itu dengan mudah. Lebih parahnya lagi, bibirnya mulai mengeluarkan suara yang berhasil membuat pria itu menyeringai bahagia, dan semakin gencar untuk menyentuhnya di mana-mana. *** “Malam ini kau ingin makan apa? Biar aku saja yang memasaknya.” Samuel menawarkan hal itu saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar utama dengan Alyssa yang masih betah memakai jubah mandi di tubuhnya, dan duduk di depan meja rias sembari mengeringkan rambut panjangnya. Sedangkan ia sendiri sudah berhasil memakai pakaian yang baru saja diambilnya dari dalam walk in closet yang terletak di sudut ruangan. “Terserah,” jawab Alyssa di antara bisingnya suara hair dryer yang sedang menyala. Samuel hanya menghela napas panjang, lalu segera menghampiri tempatnya Alyssa, dan berdiri tepat di sampingnya. “Kau masih marah?” Alyssa langsung melirik Samuel sekilas. Setelah itu, ia pun kembali menatap pantulan wajahnya di dalam cermin meja rias. “Bukankah seharusnya aku yang marah padamu? Karena kau telah mengambil keputusan secara sepihak seperti itu.” “Kau terkesan tidak menghargai aku sebagai suamimu,” tambah Samuel yang semakin membuat Alyssa membisu. “Kalau kau ingin mengubah keputusan, ada baiknya kalau kau mengajakku untuk berdiskusi terlebih dahulu. Dan aku tidak setuju jika kau kembali ke Indonesia sebelum akhir tahun.” Tepat setelah mengatakan hal itu, Samuel pun mulai melangkahkan kakinya untuk segera berlalu. *** Samuel memang sedang marah pada Alyssa, karena wanita itu telah membuat keputusan sendiri tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan dirinya. Namun, hal itu tidak bisa berlangsung lama. Apa lagi saat ini mereka berdua sedang berada di dalam ruangan yang sama. Bahkan berbagi tempat tidur serta selimut berdua, sehingga Samuel pun segera menarik wanita itu ke dalam pelukan hangatnya tanpa mengatakan apa-apa kepada istrinya. Awalnya Alyssa sempat menolak, tapi Samuel mulai keras kepala dan tidak mau melepaskan tubuhnya begitu saja. Sampai akhirnya, ia pun mengalah, dan hanya bisa pasrah sekaligus membiarkan pria itu untuk tetap memeluk tubuhnya seperti sekarang. Tetapi, ia tidak bisa tinggal diam saat salah satu tangan pria itu mulai masuk ke dalam baju piamanya, lalu meremas sesuatu di balik bajunya. Alyssa lantas mendorong tubuhnya Samuel dengan sekuat tenaga sambil berseru, “Menjauh lah dariku!” Samuel malah tertawa dengan raut wajah yang entah kenapa bisa terlihat sangat menyebalkan di kedua bola matanya Alyssa. “Aku tidak ingin dipeluk oleh pria m***m* seperti dirimu,” ucap Alyssa yang menolak untuk kembali dipeluk. “Lho? Kenapa seperti itu?” tanya Samuel dengan dengan raut wajah bingung. “Bukankah sejak dulu kau selalu melemparkan dirimu secara suka rela agar bisa dipeluk olehku?” Hal itu kontan saja membuat Alyssa mendengkus. Apa lagi raut wajah bingungnya Samuel terlihat sangat palsu di mata wanita itu. “Lagi pula, ini masih terlalu sore untuk tertidur lelap, Alyss. Bagaimana kalau kita—” Samuel tidak dapat menyelesaikan ucapannya barusan, lantaran Alyssa langsung menghantam wajahnya menggunakan sebuah bantal. “Ini sudah termasuk tindak kekerasan dalam berumah tangga, Alyss. Kau bisa dikenai pasal—” “Aku tidak akan melemparmu dengan bantal kalau saja kau tidak mengajakku untuk terus-menerus berbuat m3sum!” Samuel lantas tersenyum. “Aku? Mengajakmu untuk berbuat m3sum?” Alyssa kembali mendengkus. “Hey, Alyssa Nicholas, sepertinya pikiranmu sudah berkelana terlalu jauh. Tadi itu aku hanya ingin mengajakmu untuk menonton film di aplikasi N, itu pun kalau kau belum mengantuk dan belum ingin tidur.” Alyssa langsung terdiam tanpa sepatah kata pun. “Ternyata istriku sangat m3sum,” lanjut Samuel tak lama setelah itu. Sedangkan kedua pipinya Alyssa sudah terlihat sangat memerah seperti kepiting rebus. ***** Bersambung .... Sampai jumpa di bab selanjutnya :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD