BAB 04

1051 Words
AKU BUKAN DIA | 04 Samuel kembali melumat bibirnya Alyssa. Kali ini untuk yang terakhir kalinya sebelum ia berguling ke arah samping kanan. Setelah mengatur napasnya sebentar, Samuel pun mulai meraih tubuh istrinya, dan membawa wanita itu ke dalam dekapan hangatnya. Tak lupa, ia juga membenarkan letak selimut di tubuh mereka yang sempat merosot ke bawah. Sementara Alyssa yang masih merasa lemas, hanya membiarkan saja saat Samuel memeluknya, bahkan memberikan kecupan di atas dahinya. Tak lama kemudian, Samuel pun menoleh ke arah jam digital yang terletak di atas nakas. Ternyata sudah pukul 07 : 23. “Apa kau ingin mandi sekarang?” tanya Samuel sembari mengelus punggungnya Alyssa dengan gerakan naik-turun. “Kenapa memangnya?” Alyssa malah balik bertanya, karena ia merasa curiga kalau Samuel akan mengajaknya untuk mandi bersama. “Aku cuma bertanya saja, karena aku bermaksud untuk menyiapkan air hangatnya.” “Oh ....” Alyssa sedikit menarik dirinya, agar tubuh mereka berdua tidak terlalu berdempetan di atas ranjang. Apa lagi ranjang itu masih sangat lebar. “Kau mandi saja duluan. Aku masih ingin bermalas-malasan.” “Sendirian,” sambungnya kemudian, yang artinya ... Alyssa tidak ingin ditemani oleh Samuel di atas ranjang. Perkataan itu kontan saja membuat Samuel mengembuskan napas lelah, dan segera terduduk di atas tempat tidur mereka. Lalu menarik boxernya yang terletak di atas lantai, tepatnya di dekat kaki ranjang. Sementara Alyssa sudah lebih dulu mengubur seluruh tubuhnya di dalam selimut tebal saat Samuel akan mengenakan kembali celananya tanpa merasa kesulitan. *** Alyssa menatap pantulan wajahnya di dalam cermin meja rias sembari mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer yang terdengar cukup bising di telinga. Ia telah bertekad dari dalam hatinya bahwa ia tidak akan luluh dengan mudah saat Samuel kembali meminta haknya seperti tadi. Karena ia tidak ingin kejadian itu terulang kembali, dan ia juga belum siap untuk hamil di saat pria itu masih belum bisa melupakan sang mantan kekasih. “Lyss.” Alyssa hanya melirik sekilas ke arah Samuel yang baru saja membuka pintu kamar mereka secara tiba-tiba. “Kita jadi kan pergi honeymoon hari ini?” tanya Samuel sembari berjalan mendekati tempatnya Alyssa. Alyssa langsung menatap Samuel dengan dahi yang berkerut dalam. “Seriously? Di saat seperti ini kau masih memikirkan tentang honeymoon, Sam?” “Di saat seperti ini? Maksudnya?” Samuel kembali bertanya dengan nada bingung yang tidak dapat disembunyikan. “Jangan berpura-pura tidak tahu seperti itu,” balas Alyssa sembari mematikan hair dryer di tangannya. “Aku masih marah, karena kau telah menyimpan rahasia yang begitu besar. Bahkan kemarin kau pun tidak bisa menjawab saat aku bertanya, apakah kau mencintaiku murni karena aku adalah Alyssa, atau karena aku dan mantan kekasihmu memiliki wajah yang sama.” Samuel hanya mampu menghela napas pelan. “Jadi, aku sudah memutuskan, kalau honeymoon kita resmi dibatalkan,” lanjut Alyssa kemudian. “Lalu, bagaimana dengan kamar hotelnya?” tanya Samuel kepada Alyssa, yang membuat wanita itu langsung mendengkus samar. “Batalkan saja,” sembur Alyssa. “Kalau uang mukanya tidak bisa dikembalikan juga tidak apa-apa. Lagi pula, uang muka kamar hotel itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan pendapatanmu setiap bulannya.” “Jadi, jangan terlalu perhitungan,” sambung Alyssa yang sudah bersiap untuk keluar dari kamar. Samuel tidak bisa membalas ucapannya Alyssa, dan segera mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Karena ia akan langsung menghubungi pihak hotel untuk membatalkan paket honeymoon yang sudah sempat dipesannya. Samuel lantas menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya semenjak Alyssa mengetahui tentang keberadaan fotonya Clarissa di tempat tinggal mereka, dan sejujurnya ia memang masih ragu dengan isi hatinya. Karena itulah, ia tidak bisa langsung memberikan jawaban saat Alyssa bertanya apakah ia benar-benar mencintai wanita itu murni karena dia adalah seorang Alyssa, atau karena parasnya yang serupa dengan mantan kekasihnya. *** “Ada baiknya kalau mulai besok kau kembali bekerja,” ujar Alyssa setelah Samuel mendekat ke arahnya sekaligus membantunya yang sedang membuat cookies di dapur rumah mereka. Sebenarnya Samuel adalah seorang chef yang memiliki beberapa restoran fine dining yang cukup terkenal, dan salah satu restorannya itu terletak di kota New York. Karena itulah, pria itu bisa memiliki sebuah hunian di sana. Selain itu, dia juga memiliki sebuah Cafe & Resto yang sangat cozy serta Instagramable yang buka dari pagi, hingga jam sepuluh malam. Dan biasanya Samuel lebih sering berada di sana ketimbang berada di restoran fine dining miliknya. “Aku masih cuti sampai dua minggu ke depan,” balas Samuel sembari menaburkan choco chips di atas satu per satu adonan cookies yang sudah dibentuk oleh Alyssa di atas loyang. “Kalau begitu batalkan saja cutinya. Aku yakin jika semua karyawan di restoranmu pasti akan merasa senang kalau kau kembali bekerja lebih awal.” Samuel langsung menatap Alyssa dengan sebelah alis yang terangkat. “Karyawanku, atau ... dirimu?” Alyssa memilih untuk tidak mengatakan apa pun, dan segera memasukkan loyangnya ke dalam oven. Kemudian, Alyssa pun duduk di atas stool bar sembari menunggu cookies -nya matang. Sementara Samuel hanya mengikuti saja apa yang sedang Alyssa lakukan. Sehingga mereka berdua pun saat ini sudah duduk berdampingan. Namun, hal itu malah membuat Alyssa merasa kesal. Karena ia tidak ingin kalau mereka berdua terlalu sering bersinggungan. “Samuel.” “Ya?” Samuel langsung menyahut dengan sigap. “Lebih baik kau mencari kesibukan yang lain saja,” ucap Alyssa. Samuel yang mendengar perkataan istrinya barusan, hanya mengerutkan keningnya tanpa mengatakan apa-apa. Hal itu lantas membuat Alyssa jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya. Kemudian, ia pun segera menambahkan. “Supaya kita berdua tidak terlalu sering bersama.” Samuel mengerti. Alyssa sengaja menyuruhnya untuk mencari kesibukan lain, agar dirinya segera menjauh dari wanita itu. Namun, masalahnya, ia sama sekali tidak ingin menjauh. “Kita ini masih pengantin baru, Alyss. Bagaimana bisa kau memintaku untuk menjauh secara terang-terangan seperti ini?” Tidak ada nada marah yang terselip di dalam nada suaranya Samuel barusan. Karena pria itu mengucapkannya dengan nada biasa, bahkan tanpa menaikkan intonasi suaranya. Hal itu malah langsung membuat Alyssa merasa bersalah, dan tentu saja ia tidak dapat menjawab pertanyaan Samuel barusan. Sehingga ia pun hanya mampu terdiam di atas tempat duduknya sekarang. ***** Bersambung .... By the way, mulai hari ini dan seterusnya insyaallah aku bakalan update cerita ini di jam yang sama, yaitu sekitaran jam 10 pagi. Jadi, jangan lupa masukin cerita ini ke dalam pustaka kalian biar gk ilang. Makasiih^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD