Jam istirahat sudah tiba, itu artinya Nara sudah bersiap untuk bertemu dengan mie instan ditambah telur, sayuran serta cabe rawit yang akan menjadi menu makan siangnya karena hanya itu yang bisa ia bayar di tanggal tua seperti ini. Nara meneguk air di botol yang memang selalu ia bawa dari kos, selain karena memang irit namun Nara juga tak pernah bisa meninggalkan botol minuman yang dihadiahkan ibunya kepadanya.
"Nar, diapain lo sama Bu Ina?" selidik Kila, sahabat Nara yang saat ini duduk di sebelah Nara.
"Dikasih perhatian gue sama dia." balas Nara sambil memainkan ponselnya, menyelami sosial medianya.
"Whuust parah-parah, bahasa lo men berat banget." kata Kila sambil tertawa riang namun tidak dengan Nara yang masih fokus dengan ponselnya.
"Ki, liat deh ini ko lucu amat ya?" tanya Nara sambil memperlihatkan foto tas berwarna merah maroon. Kila hanya berdeham lalu kembali melahap gado-gadonya tanpa memedulikan ucapan Nara.
"Ulang tahun gue tiga bulan lagi Ki, tolong dikondisikan yah, tolong banget inimah." ucap Nara yang membuat Kila terbatuk-batuk mendengarnya.
“Boleh-boleh aja sih. Tapi, mohon maaf ibu. Sadar diri ya, itu harganya berapa puluh juta? Hah.” Kata Kila pada Nara dengan pandangan yang seolah keberatan dengan permintaan Nara.
“Murah ini mah. Kalau lu dua kali main sama om-om juga dapet inimah.” Ucap Kala dengan nada datarnya membuat tatapan Kila berubah—sebal.
“Heh! Kalau ngomong ya.” Katanya sambil mencubit pelan tangan Nara dan membuat Nara meringis. “Ngga usah duakali, sekali juga langsung kebeli inimah.” Lanjutnya sambil tertawa dan membuat Nara juga tertawa dengan guyonan mereka saat ini.
“Beda emang kalau udah profesional mah.”
“Sialan.” Ucap Kila sambil tetaa
Tidak lama dari itu akhirnya mie instan yang dipesan Nara tiba, dengan tergesa-gesa Nara langsung menikmatinya tidak lupa ia tambahkan saus bermerek yang sering ia bawa di tasnya.
Teng!
Baru sesuap Nara memakan mienya ia kembali ke ponselnya yang kini memberi tanda bahwa ada sebuah pesan di sana.
Prasraya Maheswara : Nar, jangan makan mie mulu.
Nara tersenyum, beginilah kegiatan Pras kalau sudah memasuki akhir bulan yang memang selalu mengingatkan supaya Nara mengurangi konsumsi mie instantnya tapi lagi-lagi Nara selalu menghiraukannya sebab larangan ibunya saja selalu Nara langgar apalagi ‘hanya’ seorang Pras. Nara pun memutuskan untuk melanjutkan makannya dengan khidmat dan tanpa merasa terganggu dengan pesan yang dikirimkan Pras.
Dddrrttt ddrrtt
Pras memanggil...........
Ngapain sih. Desis Nara.
"Nara! Sumpah ya nurutan juga kucing gue dari pada lo. Lo pasti lagi makan mie kan? Susah banget sih dibilanginnya. Bagi dua mienya sama Kila, sekarang!"
Nara yang mendengarnya langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya karena tak kuat mendengar ocehan Pras yang melebihi ocehan emak-emak yang belum di transfer suamiknya pas di tanggal muda atau seperti ocehan emak-emak saat anaknya menghilangkan tupperware miliknya.
"Pras, gue cuma makan mie jangan bikin gue seolah-olah gue lagi makan ganja deh. Emang salah apa makan mi--"
"Jelas salah, lo tau ngga ganja tuh bikin ketagihan? Sama kaya makan mie dan lo sering banget makan mie, Nar! Kasian lambung lo kalau dikasih mie terus."
“Pras... kalau dikasih daging tiap hari, lambung gue kesenangan tapi dompet gue sama gue yang nangis tiap hari karena kebobolan.”
“Jawab aja terus...”
“Pras...”
"Bagi dua sama Kila. Untung gue lagi ada acara di luar kalau ngga abis lo sama gue! Kali ini gue maafin besok-besok ngga ada lagi pokoknya!"
Nara langsung menutup teleponnya karena kalau tidak maka Pras akan terus berbicara dan itu membuat Nara mengabaikan semangkuk mie lezatnya yang sudah mulai melar.
"Pras?" tanya Kila yang kini sudah menghabisi gado-gadonya. Nara hanya mengangguk lalu Kila tersenyum.
"Kata dia, 'Nar, sumpah nurutan juga kucing gue daripada lo' masa gue disamain sama kucing," kata Nara dengan nada sebalnya yang justru membuat Kila tertawa terbahak-bahak.
"Lagian lo sih, dibilangin susah banget ya wajarlah dia bikin perumpaan kayak gitu." Ucap Kila sambil menatap Nara.
"Kila, perintah ibu gue aja suka gue langgar apalagi perintah dari Pras." Balas Nara dengan nada yang memelan.
Nara menyudahi acara makannya selain karena memang sudah kenyang ia juga kehilangan nafsu makan karena mendengar suara Pras.
∞
Nara kembali ke pekerjaannya, untunglah pekerjaannya tidak terlalu menumpuk karena ia sudah mengejar deadline-deadline yang ia punya seminggu yang lalu. Jadi, untuk hari ini Nara bisa bersantai-santai sejenak.
"Mbak Nara, ada bingkisan." seorang OB menghampiri meja kerja Nara dan langsung menaruh plastik dengan logo restaurant padang ternama di atas mejanya.
"Eh eh ngapain di taro di situ? Nanti kalo isinya bom terus meledak karena kesenggol saya gimana?" tanya Nara yang membuat OB itu sedikit panik dan langsung mengambil plastik itu lagi ketangannya.
Nara tertawa, "Taruh aja pak saya bercanda hehe. Dari siapa memangnya?"
OB itu kembali meletakan plastik dimeja Nara, "Ah mbak Nara bikin kaget aja sih, ngga tahu mbak soalnya tadi juga diantar sama Ojol."
"Yaudah, makasih ya Pak Maman." kata Nara. OB yang bernama Pak Maman itu mengacungkan jempolnya lalu ia pamit dari tempat kerja Nara.
Nara membuka plastik itu, dilihat kotak makanan yang berisi rendang dan kawan-kawannya. Sejujurnya Nara suka sekali dengan masakan padang dan melihat ada seseorang yang mengirim paket makanan ini membuat Nara terenyuh dan merasa di perhatikan.
Teng!
Prasraya Maheswara : selamat makan padangan yah.
Jadi, ini dari Pras? Kalau gitu Nara harus mikir-mikir dulu deh dengan ucapannya yang tadi.
∞
Tidak terasa, akhirnya senin pun berlalu dan kini Nara bertemu dengan sabtu. Itu artinya Nara bisa bersantai-santai di kosannya, tidur-makan-nonton drama korea, kegiatan itu akan diulang-ulangnya sampai besok minggu malam.
Tok tok
Nara pun bangun dari kasurnya, membukakan pintu yang sedari tadi diketuk oleh entah siapa Nara pun tidak tahu. Paling juga Kila yang datang pikirnya dan benar saja ketika Nara membuka pintu kamar kosannya itu memang Kila.
"Nar, ikut gue yuk." ajak Kila yang kini sudah memasuki kamar kos Nara. Nara memandang Kila dengan tatapan seolah-olah ia bertanya.
"Kita gesek-gesek manja diMall,"
Nara terdiam.
"Gesek kartu kredit woi, mikirnya jangan macem-macem deh." lanjut Kila yang seolah tahu mengapa Nara terdiam dan kebingungan karena tidak mengerti dengan ucapan Kila.
"Ogah. Mending gue tidur." kata Nara langsung melompat ke tempat tidurnya lalu ia menarik selimut menutupi seluruh badannya. Ya, Nara tak terlalu suka pergi ke Mall terlebih di hari libur seperti ini, karena ramai dikunjungi orang-orang dan membuat Nara sedikit tidak nyaman dengan hal itu meskipun biasanya saat weekend seperti ini banyak toko yang sedang melakukan sale.
Kila tidak terima, ia menarik selimut ini dari badan Nara, "Nar, ayo ah. Gue traktir shihlin deh. Janji."
Nara tersenyum puas, Kila memang tau apa yang menjadi kesukaan Nara serta pandai sekali mensogok Nara hingga Nara mengikuti ajakan Kila, "Nara setuju! Nara mau mandi dulu."
"Gini aja baru lo sok-sok manis depan gue." desis Kila.
∞
Nara sudah bosan menemani Kila yang sedari tadi hanya mutar-mutar tanpa membeli apapun. Mereka hanya memasuki toko, melihat-lihat dan mencoba beberapa pakaian lalu kembali dengan tangan kosong—ralat, bukan mereka, melainkan hanya Kila sebab Nara hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya saat ini.
"Ki, pegel gue dari tadi jalan-jalan mulu. Shihlin gue mana?" akhirnya Nara memutuskan untuk menagih janji Kila tadi, Kila yang berada di depannya pun menoleh, memandang Nara dengan pandangan seperti melihat uang banyak.
"Gila gila Nar, lo mesti liat itu diskon 50%+15% gue berasa nemu surga Nar. Ayok kita kesana dulu baru gue kasih lo Shihlin." kata Kila yang kini sudah berjalan ke arah toko sepatu yang sedang mengadakan diskon gede-gedean.
"Nar, ini kayaknya bagus deh." kata Kila menunjuk salah satu sepatu.
"Yang ini juga." Lanjutnya.
"Ini juga nih." Kata Kila lagi.
Nara mendengus, "Apa yang lo liat juga semuanya bagus kalau lagi diskon, Ki"
Setelah menghabisi waktu kurang lebih tiga jam untuk berbelanja kini akhirnya Nara mendapati shihlinnya. Sebenarnya Nara tidak suka berbelanja namun kalau ia suka mau tidak mau pasti akan dibelinya seperti tadi saat ia melihat sepatu sport keluaran terbaru meski harganya jutaan Nara ngga segan-segan untuk membelinya walaupun ia harus makan mie instant sampai akhir bulan ini, Nara rela-rela aja toh kan ada Pras yang siap order makanan di Ojol untuk Nara, hehe.