Ke-tiga

1007 Words
Sebelum pulang, Kila yang mengendarai mobil berhenti di sebuah kafe di pinggiran Timur Jakarta. Kafe yang dulu memang sering didatangi mereka namun tidak lagi semenjak tiga bulan yang lalu Nara memiliki kisah pahit di sana dan Kila tahu itu namun yang Nara tidak tahu adalah mengapa Kila mengajaknya ke sini, ke tempat dimana memang sudah Nara lama tinggalkan, Nara buang jauh-jauh dari hidupnya dan berusaha untuk tak bersinggungan kembali dengan tempat yang mendengar namanya saja sudah membuat makam yang terkubur dalam hati Nara kembali bangkit. Kila mendahului Nara memasuki kafe itu, di pegangnya pintu kafe ini dan ternyata sepintas kisah itu terulang diputaran kepalanya bahkan Nara masih merasakan sakit yang sama seperti tiga bulan yang lalu. Satu langkah kaki ia kuatkan untuk menapaki tempat ini biar bagaimanapun Nara lebih besar dari rasa sakit hatinya. Ia mencari tempat dimana Kila berada setelah mendapati sahabatnya itu Nara menghampiri meja bernomor duapuluh dua lalu tersenyum. "Lo ngga apa-apa?" tanya Kila. "Udah lama banget kita ngga kes ini makannya gue ngajak lo. Ngga kangen sama steak di sini? Lanjut Kila. "Gue mencium bau-bau mau ditraktir nih, bener kan?" kata Nara yang disambut gelak tawa Kila. "Haha boleh boleh, yaudah lo tunggu sini ya gue mau mesen dulu." ucap Kila seraya meninggalkan Nara di kursinya. Mata Nara sejak tadi memperhatikan seisi kafe ini yang kali ini tidak begitu ramai tidak seperti dulu saat awal-awal buka, lalu matanya mengarah ke arah belakang memperhatikan meja bernomor empat belas, sepintas memang tidak ada yang salah dengan meja itu, meja yang kini di tempati oleh sepasang muda-mudi yang sepertinya sedang kasmaran. Tapi ingatan Nara sangat melekat, dulu tiga bulan yang lalu di meja bernomor empat belas itu membawanya kesebuah kenyataan pahit yang harus ia telan mentah-mentah. Kenyataan yang membuat hidup dan perasaannya tiga bulan yang lalu hancur, berantakan, entah kemana—dan mungkin sampai saat ini perasaannya masih sama—hancur. Pintu kafe ini berdecit membuat Nara meninggalkan dulu film di kepalanya dan melihat siapa orang yang membuka pintu tersebut. Dadanya berdebar, tangannya gemetar, air mata miliknya seperti mencari celah untuk keluar. Dilihatnya pria berkemeja flanel memasuki kafe ini dan berjalan mendekati arahnya, Nara tidak salah, pria itu memang berjalan ke arahnya. Entah untuk apa alasan pria itu datang namun rasa sakit di hati Nara semakin kentara jelas ke permukaan hingga membuat air matanya tertahan. Nara hanya ingin melarikan diri dari sini dan memilih menjadi pengecut selama-lamanya. ∞ Nara memalingkan wajahnya berusaha agar ia ataupun pria itu tidak saling bertatap namun tepukan di bahunya menyadarkan Nara jika pria itu berhasil menemukannya, disini. "Nara, kamu apa kabar?" Hati Nara bergetar, dadanya berteriak. Nara rindu sekali mendengar suara itu, sungguh. "Gue baik." jawab Nara singkat dan ia pikir obrolannya akan berakhir namun tidak ternyata pria itu malah menarik kursi dan duduk di kursi yang berada di depan Nara. Nara menghela napasnya, dari dulu pria itu memang tidak berubah selalu duduk tanpa meminta izin terlebih dahulu. Tiba-tiba hati Nara mencelos kata “dulu” bagaikan pisau yang kembali membuka luka di hatinya. "Gue ngga nyuruh lo duduk," cegah Nara yang membuat pria itu tersenyum. "Oh maaf, saya pikir kamu juga ngga akan melarangnya jika saya meminta izin, bukankah begitu?" Lagi-lagi, Nara rindu sekali dengan senyum itu, Nara rindu bergelayut di lengan pria itu, Nara rindu berkeluh kesah dengan pria itu—bercerita dari senja hingga fajar, persetan dengan rasa sakitnya, Nara sungguh-sungguh teramat rindu. "Saya minta maaf sama kamu, Nar. Saya tahu saya salah tapi apa kamu ngga mau mendengarkan penjelasan saya? Dan kita mulai  semuanya kembali dari awal?" kata pria itu, Nara menarik napas ia sudah tahu arah pembicaraan ini dan secepatnya ia ingin pergi dari sini. "Gue ngga butuh penjelasan lo. Yang sama-sama kita tahu adalah lo salah dan lo akui itu." Nara bangkit dari duduknya, tentu ia ingin pergi dari sini namun tangannya sudah terlebih dahulu dicegah. "Nara, bisa kita omongin ini? Biar tuntas biar kita ngga perlu nebak-nebak lagi apa yang ada di pikiran kita masing-masing." katanya sambil menatap wajah Nara, Nara pun rindu dengan tatapan itu namun dalam hati ia bersikeras untuk tidak menatap wajah itu. Nara tak mau kalah, tiga bulan ia berusaha untuk melupakan serta mengikhlaskan yang terjadi pada hubungannya dan Nara tak ingin kehadiran lelaki yang berada di hadapannya merusak semuanya. "Apa perlu saya ingatkan kalau kita sudah tuntas tiga bulan yang lalu, dan kamu yang menjadi penyebabnya, Bharga." runtuh sudah pertahanan Nara, air matanya sudah berhasil terjun dari matanya. Ucapan yang tadi diucapkannya seakan membangunkan rasa yang sudah mati dihatinya. "Nara, dengerin saya. Saya cinta sama kamu. Saya ingin kita mulai semuanya dari awal lagi." "Bharga! Saya ngga tahu kenapa mulut kamu segampang ini meminta saya balik. Kamu tahu Bharga? Rumah yang kita bangun hampir selesai, harapan indah yang kita pupuk hampir tumbuh tapi kamu dengan lancangnya menghancurkan itu semua dan semudah itu kamu mengatakan ingin kembali setelah apa yang sudah kamu perbuat. Kamu gila! Kalau kamu mengira kembali setelah menyakiti semudah itu. Kamu salah Bharga! Kamu salah!" kata Nara yang meninggikan volume suaranya, ia mencoba mengeluarkan semua luapan emosi di hatinya yang dipendam selama tiga bulan ini. Nara sangat yakin jika setelah ini ia sangat menyesali air mata yang ia keluarkan untuk pria di hadapannya yang benar-benar menghancurkan hatinya dan kepercayaannya. Nara diam begitu juga Bharga, sampai akhirnya Kila datang dengan nampan yang berisikan makanan kesukaan Nara yang tadi dipesannya. "Astaga.." Kila langsung menghampiri Nara dan memastikan wanita itu baik-baik saja namun, Kila salah sebab setelah ia menatap buliran air mata di mata Nara. Kila tahu Nara sedang tidak baik-baik saja. "Nar, lo ngga apa-apa?" tanyanya sambil memegang kedua bahu Nara. "Gue mau pulang," desis Nara pelan yang langsung diangguki Kila. "Nara, bisa kamu dengerin saya sebentar?" Bharga masih berusaha mencegah namun Nara tetap bergeming, secepat mungkin ia harus meninggalkan tempat ini dan juga Bharga. Nara terus berjalan tanpa memedulikan Bharga yang kini sedang mengikutinya. "Nar, saya pastiin ini bukan pertemuan kita yang pertama, saya pastiin itu. Sampai jumpa." bisik Bharga yang masih bisa didengar Nara sebelum akhirnya Nara benar-benar pergi meninggalkannya. Sungguh pertemuan yang sangat memuakan bagi Nara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD