Ke-empat

1359 Words
Di dalam mobil, Kila seperti tidak membawa orang karena sejak tadi Nara tak bersuara sedikit pun. Kila paham bahwa kejadian yang baru saja di hadapi Nara membuat Nara terkejut sebab pertemuannya dengan Bharga untuk pertama kalinya setelah tiga bulan berlalu sejak mereka berpisah. Tapi sungguh demi Tuhan Kila tidak pernah tahu jika Bharga ada di tempat yang sama dengan mereka. "Nar, maaf ya kalau gue lancang. Tapi, menurut gue kalau di antara kalian emang masih ada yang belum kelar lebih baik dibicarain deh." akhirnya Kila dan ilmu ke sok tahuannya pun keluar membuat tatapan Nara tajam mengarah kepadanya. "Ki, semuanya udah selesai tiga bulan yang lalu dan ngga ada yang perlu dibicarain lagi." "Tapi Nar, lo bukan putus macem abege abege lo gagal nikah Nar, Nikah itu melibatkan keluarga lo dan keluarganya dia bahkan sampai sekarang keluarga lo belum tahu apa yang terjadi kan?" Kila terus bertanya. Pikiran Nara terbawa pada telepon dari Ibunya beberapa hari lalu yang menanyakan perihal rencana pernikahan Nara dengan Bharga tapi, saat itu atau bahkan sampai saat ini pun Nara masih belum mampu untuk menjawabnya. "Gue ngga mau nikah sama laki macem dia, Ki." suara Nara berubah parau, tiba-tiba ia kembali teringat akan ciuman Bharga dengan seorang wanita di kafe waktu itu begitu penuh cinta dan hasrat yang menjadi alasan bahwa bahtera rumah tangga yang akan mereka bangun harus lenyap begitu saja dan menjadikan mereka yang dulu beriringan kini kembali menjadi asing. "Iya gue tahu, tapi keluarga lo? Keluarga dia? Apa terima dengan semua ini? Nar, semua orang punya masa lalu dan khilaf mungkin Bharga juga ngga akan nyangka kalau pertemuannya dengan mantan pacarnya malah berujung begitu. Lo tahukan niat awalnya dia ketemu untuk apa? Untuk kasih undangan nikahan Bharga sama lo. Lo harus inget itu Nar." "Dia ciuman sama cewek di saat persiapan pernikahan kami hampir 50% dan lo memaklumi itu, Ki? Gila lo!" kata Nara dengan tangis pecahnya. Kila jadi bingung sendiri, ia memilah kata apa yang pantas ia jawab tapi nampaknya tak ada satupun yang ada di kepalanya untuk itu ia memutuskan terdiam saja. “Ki...” panggil Nara pelan yang tadinya suasana sunyi kini kembali hidup. “Iya?” “Sakit banget rasanya...” ucap Nara sambil memegang dadanya dengan isak tangis yang masih mengalir deras di pipinya. “Maafin, Nar. Maafin Bharga, maafin semua yang terjadi tiga bulan yang lalu.” “Gue udah maafin semua tapi... rasanya tetap sakit saat lihat Bharga di depan mata gue lagi. Kejadian yang udah coba gue lupa itu malah semakin kentara jelas di ingatan gue. Gue benci, Ki.” Kila menatap Nara, “Iya, gue paham. Ngga harus semuanya baik-baik aja saat ini, Nar. So, take your time.” Nara mengangguk pelan. Kila benar, ngga semua hal harus baik-baik saja saat ini. Kalau memang perasaan Nara sakit dan ia ingin menangis—maka tak ada yang perlu menahannya, menangis saja. ∞ Nara mematut dirinya di cermin, hari ini ia sedang malas berdandan sehingga hanya polesan lipstik yang ia kenakan di wajahnya yang memang sudah cantik walau tanpa memakai riasan yang berlebih. Persetan dengan mata sembabnya, Nara tidak peduli apa tanggapan orang toh Nara sebagai staff accounting di kantornya yang tidak pernah berinteraksi langsung dengan orang banyak. Nara keluar kamar kosnya menuju si biyu yang terpakir dengan ganteng di halaman kosnya. "Pagi mbak Nara, sarapan mbak." sapa satpam kos Nara yang bernama Pak Mahmud yang kini sedang menyantap sarapan bubur ayamnya. Nara tersenyum bahkan ia lupa kapan terakhirnya ia sarapan karena hal itu memang tidak pernah Nara lakukan beberapa tahun belakangan ini. Nara lebih senang untuk menggabungkan sarapannya dengan makan siang di jam makan siangnya. "Iya Pak," jawab Nara ramah. "Oh iya mbak. Ini ada titipan dari orang, cowok. Tapi saya ngga tahu siapa, semalem mau saya kasih Mbak Nara tapi karena udah jam sebelas malam saya urungin niatnya takut menganggu tidur mbak." Pak Mahmud menyerahkan tote bag kepada Nara. Setelah mengucapkan terima kasih Nara langsung memasukannya ke dalam mobil lalu berpamitan pada Pak Mahmud. Di dalam mobil Nara kembali menyalakan radionya lalu menatap tote bag yang ia letakan di bangku penumpang yang berada di sampingnya, udah ketebak banget paling itu dari Pras karena siapa lagi yang tahu kosnya kecuali Pras dan Kila. Nara mengeluarkan isinya saat lampu merah menyala, menurut Nara isinya sangat mewakili Pras ia semakin yakin jika semua makanan ringan ini dari Pras tapi ada satu hal yang sangat menyentil bagi Nara, apa Pras juga mengetahui jika Nara suka brownies kacang sedangkan hanya Bharga yang paham akan hal itu. Ah Bharga lagi, Bharga lagi kenapa pikirannya tidak menutup semua yang berhubungan dengan Bharga. Ah masa bodo, mungkin Pras hanya asal ambil kalaupun dia mengetahuinya ya tidak apa karena Pras pun kemarin mengirim makan padang favoritnya. Tanpa pikir panjang, Nara mengeluarkan ponselnya dan mencari kolom pesannya dengan Pras. “Terima kasih, ya.” ∞ Nara tersenyum karena untuk pertama kalinya ia tiba di kantor pukul setengah delapan pagi dan hari ini juga ia mendapat parkir yang dekat dengan gedung kantornya sehingga ia tidak perlu berjalan jauh untuk pulang dengan si biyu. Setelah tiba di mejanya, Nara mengeluarkan beberapa dokumen yang harus ia kerjakan hari ini, tidak lupa ia memesan teh hangat pada seorang OB. Nara memang tidak pernah sarapan tapi teh hangat harus selalu ada di tiap pagi harinya. "Nara!" Nara kenal betul dengan suara itu, kini ia membalikkan badan menatap Bu Ina yang sudah berada di pintu ruangannya. Kalau Bu Ina sudah memanggil itu artinya orang yang di panggilnya harus masuk ke ruangannya itu sebab mengapa kini Nara bangkit dari duduknya dan berjalan ke ruangan Bu Ina. "Nar, kamu ibu tugaskan untuk mengaudit keuangan di kantor cabang kita yang di Sukabumi ya." Ucap Bu Ina tanpa babibu bahkan saat sebelum Nara di persilakan untuk duduk. Nara si senang-senang aja mendengar ini. Asik! Jelong-jelong pikir Nara dengan senyumannya. "Kata Pras sih cuma dua hari berhubung kamu dan Pras karyawan baik jadi Ibu kasih bonus dua hari untuk liburan di sana, gimana?" kata Bu Ina dengan senyum simpulnya berbeda dengan Nara yang kaget, jadi ia akan pergi dengan Pras selama empat hari? Mana tahan, mending Nara disuruh pulang ke Garut bolak-balik pake mobil di hari libur panjang, ngga apa-apa deh sakit pinggang yang penting ngga sama Pras. "Jadi, saya sama Pras Bu?" tanya Nara untuk meyakinkan dirinya jika indera pendengarannya tak salah mendengar perintah dari Bu Ina tadi. Bu Ina mengangguk. Benar-benar sama Pras? Nara menepuk jidatnya pelan. "Saya yakin kamu seseorang yang bertanggungjawab Nar, kamu ngga akan menolak ini setelah mengetahui Pras akan menjadi partner kamu kan? Karena kamu orang yang bertanggungjawab. Saya tahu Nar kamu orangnya teledor dan Pras yang bisa ngimbangin kamu." kata Bu Ina yang semakin membuat Nara frustrasi. Nara hanya menangguk-angguk saja. Ya, sepertinya bukan hanya Bu Ina tapi seluruh pegawai kantor ini juga mengetahui jika Nara dan Pras adalah Tom and Jerry dalam dunia nyata karena mereka tak pernah akur sekalipun. "Besok kamu berangkat, pakai mobil sama supir kantor pokoknya kalian jangan ada yang bawa mobil ya. Jam enam harus sudah sampai kantor karena harus sampai di Sukabumi jam sepuluh pagi." Bah! Apa-apaan ini bangun jam setengah tujuh aja Nara susah payah apalagi ini yang mengharuskan ia bangun jam lima mungkin untuk mempersiapkan keperluannya besok. "Mobilnya ngga bisa langsung jemput saya aja di kosan gitu Bu?" tanya Nara yang membuat Bu Ina menatapnya tajam-tajam, tahu sebentar lagi ia akan di terkam maka Nara memutuskan untuk keluar dari ruangan Bu Ina tanpa pamit dan segera berlari menuju meja kerjanya. Nara menenangkan dirinya, pandangannya mengarah ke gelas bergambar planet-planet miliknya, gelas yang selalu ia gunakan untuk minum teh yang tadi di pesannya ke OB sudah berada di atas mejanya segera saja Nara mengambilnya dan segera ia meneguknya perlahan namun, mengapa gelasnya terasa ringan, aneh pikir Nara. Saat bibirnya sudah menyatu dengan gelasnya Nara tidak mendapati apapun, gelasnya sudah kosong, tehnya sudah diminum oleh orang? Orang? Nara bertanya dalam hati sedangkan tidak ada orang disini apa hantu? Mana mungkin hantu minum teh hangat pagi-pagi. Bukan... Bukan... Nara tahu siapa orangnya. "Praaaaaaaaasssssssssssss~" teriaknya bagai lolongan serigala begitu kencang bahkan sampai membuat Bu Ina menongolkan kepalanya dipintu, Nara yang tahu akan hal itu langsung tersenyum, salah tingkah dan malu tentu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD