Ke-lima

1268 Words
Pukul sebelas siang Nara memutuskan untuk rehat sebentar dari pekerjaannya lalu meneruskannya dengan makan siang di warung soto yang ada di sebrang kantor. Duh Nara jadi membayangkan betapa gurihnya kuah soto bercampur sambal, jeruk nipis dan dimakan dengan nasi hangat tidak lupa minumnya es jeruk. Kalau udah begini nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan? Nara berjalan ke arah meja kerja Pras, entah apa yang membuatnya ke sini namun yang jelas ia harus membalas kelakuan Pras tadi pagi yang dengan seenaknya meminum teh hangat miliknya. Titik. Dilihatnya Pras sedang serius dengan layar komputernya, dua kancing kemeja atasnya sengaja ia copot lalu bagian tangannya ia lipat sampai siku. Untuk wanita yang lainnya ketika melihat Pras seperti ini pasti akan takjub dan bergumam “ganteng” tapi kalo bagi Nara sih ngga deh, gantengan juga Zayn Malik. "Ya Allah, disamperin Nara pasti mau ngajak makan siang kan Nar?" kata Pras yang langsung semringah saat melihat Nara yang berada di hadapannya saat ini. Nara menjitak dahi Pras yang membuat pria itu sedikit meringis sambil memegang dahinya. "Itu adalah balasan buat orang yang udah kurang ajar makan sarapan gue!" kata Nara dengan penuh penekanan yang seolah mengintimidasi Pras. "Nara. Itu teh hangat bukan nasi jadi gue ngga makan sarapan lo, tulul." "Ya lo kan tahu gue ngga pernah sarapan makan nasi selalu teh hangat jadi sama aja lo makan sarapan gue." kata Nara yang masih kesal dengan Pras, berbanding terbalik keadaan dengan orang sekitar yang tertawa melihat kejadian ini, Nara dan Pras memang tidak pernah akur namun justru inilah yang membuat mereka sering dicocok-cocokkan oleh teman-temannya. “Heh laki bini jangan berantem di kantor dong. Urusan rumah tangga jangan dibawa-bawa ke kantor.” Ucap Kila yang tiba-tiba datang dari arah belakang dan duduk di kursinya yang berada di depan meja kerja milik Pras. Pras dan Nara menatap Kila bersamaan dengan tatapan kesal. “Ha? Laki bini? Ogah! Amit-amit gue.” ucap Nara dan Pras bersamaan dan disambut dengan gelak tawa Kila. Meski wajah Nara dan Pras menunjukkan ekspresi kebalikannya—sebal. "Gue sih nyamperin cuma mau itu, tapi tadi gue denger lo ngajakkin gue makan. Boleh jugalah kebetulan gue lagi pengen soto ayam yang di depan kantor tuh." Kata Nara lagi yang masih berdiri di hadapan Pras. Pras berpikir sebentar, memang ada ucapannya yang menjurus ke arah ngajak makan Nara? Sial! Wanita itu mengapa sering membuat Pras merasa gemas, segera Pras bangkit dari duduknya lalu mengacak-acak rambut Nara sebelum akhirnya ia merangkul kepala Nara yang diusel-uselkan ke dadanya dan tentu saja hal itu membuat Nara meronta-ronta, tak terima serta mencoba melepaskan dekapan Pras. "Bilang aja lo mau ditraktir, ngomong dong ngga usah bikin gue gemes deh." kata Pras yang membuat Nara tidak terima atas perlakuan Pras terhadap dirinya, akhirnya ia menginjak kaki Pras dengan high heels lancip miliknya dan sukses membuat Pras meringis kesakitan. Merasa puas dengan yang ia lakukan Nara melangkahkan kakinya sambil tertawa melihat Pras yang sedang kesakitan. “ANJJJJJJJJJ........... NARA...” Teriak Pras sambil berusaha mengejar Nara yang sudah berada jauh di hadapannya. ∞ Kini, Nara dan Pras telah sampai di warung soto yang diidam-idamkan Nara tadi. "Kira-kira nanti dua hari di Sukabumi kita mau kemana ya Nar?" Pras membuka obrolan yang sama sekali tidak ingin Nara bahas. Karena membayangkan berapa lama ia dan Pras bersama membuat kepala Nara sakit. Sejam dua jam sama Pras aja seperti perang kecil apalagi selama dua hari, perang ke tiga dunia yang ada. "Kalau bukan tugas negara gue sih ogah lama-lama sama lo," balas Nara sambil memakan kerupuk yang ada di hadapannya karena sampai sekarang pesanan sotonya pun belum diantar. "Iya ngga apa-apa kalau baru-baru mah emang suka kepaksa nanti lama-lama juga biasa malah ngga mau pisah." Nara menatap Pras, tatapan mereka bertemu di titik yang sama, "tapi sesuatu yang dipaksakan bukannya ngga baik?" Nara membuang tatapannya ke soto yang kini sudah tiba di mejanya. “terima kasih, mas.” ucap Nara pada mas-mas pelayan itu. "Nar, mata lo kenapa? Lo abis nangis?" tanya Pras yang masih menatap lurus wajah Nara, ia sangat yakin jika Nara habis menangis sebab kentara sekali dari mata Nara yang masih sembab sampai saat ini. "Kurang tidur, marathon film gue haha." kata Nara yang berusaha menghindari tatapan Pras. Ia tahu laki-laki itu tidak akan melepaskannya sebelum ia berkata yang sebenar-benarnya. "Sejak kapan Nara suka nonton film?" tanya Pras, sebab ia tahu betul jika Nara saat ini berbohong karena terakhir kali Pras menonton film bersama Nara dan Kila, Nara malah tertidur pulas bahkan sampai filmnya selesai. Pras tahu Nara pasti menangis karena Bharga namun melihat kondisi Nara yang sekarang Pras dengan sekuat tenaga menghindari percakapan yang menjurus pada Bharga, ia takut Nara semakin sakit hati dan membuat wanita itu lebih banyak menangis. "Ya kalo filmnya Theo James gue sih ayo-ayo aja nonton sampe subuh dan ngga tidur." kata Nara yang sedang menikmati sotonya, menyantapnya dengan sangat lahap. "Udah ah, gue kesini mau makan bukan mau ditanya-tanya. Oke?" lanjutnya dengan senyuman. “Oke, baik.” Pras membalasnya lalu mengangguk sebelum akhirnya mereka berdua terlalu sibuk menghabiskan soto yang ada di hadapan masing-masing. ∞ Nara memastikan bahwa barang-barang yang dibawanya sudah lengkap, setelah memastikan semua listriknya sudah dimatikan Nara keluar dari kosnya dengan terburu-buru mengingat jam yang menunjukkan pukul enam pagi. Sebelum ia memasukan kopernya Nara mendengar klakson yang berasal dari mobil sedan hitam yang sudah berada di depan pagar kosnya. "Nar, gerak cepat woi." Pras menongolkan wajahnya di balik kaca mobil, Nara tersenyum ia tak menyangka jika Bu Ina mengabulkan keinginannya. Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam mobil sedan tersebut. "Dasar ratu telat!" cercah Pras ketika mobil yang ditumpangi mereka sudah berjalan kembali. "Yang penting gue tetep ratu di hati lo kan, Pras?" kata Nara sedikit menggoda yang membuat Pras jadi salah tingkah. "Nar jangan ngeluarin jurus maut lo dong, kan gue jadi lemah." ucap Pras yang dihadiai gelak tawa Nara dan juga Rusman, supir kantornya. Di perjalanan yang panjang ini baik Nara maupun tak berbicara, hanya lagu-lagu yang diputar di radio yang dibiarkan menyala. “Nar...” Pras membuka obrolan, Nara yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya kini menatap Pras. “Ya?” tanyanya. “Balik dari sukabumi mau mampir ke Garut ngga? Ketemu ayah-ibu?” Nara diam, ia berpikir sejenak. Balik ke rumah di mana ada ayah ibunya? Sungguh, Nara ingin sekali dan begitu merindukan keluarganya. Tapi, Nara tidak bisa pulang dalam keadaan yang seperti ini dan membawa kabar batalnya rencana pernikahannya dengan Bharga. Nara saja masih merasakan sedih dan kecewa setiap kali memikirkannya. Nara tidak membayangkan jika ayah dan ibunya mengetahui hal tersebut. “Nar...” Pras kembali bersuara, ia memecah keheningan dan membuat Nara tersadar dari lamunannya. “E... iya, apa? Tadi gimana? Lo bilang apa?” tanya Nara kikuk. “Balik dari sini mau pulang ke Garut?” Pras bertanya ulang. Nara menggeleng, “gue belum izin cuti.” Kilahnya berbohong. “Yailah itu mah gampang, nanti gue izinin, gimana?” “Kayak ngga tahu Bu Ina aja, ntar gaji gue dipotong gimana? Ntar gue ngga bisa beli lipstik dong?” katanya dengan nada merengek. Pras tertawa, “Kan ada gue.” “Sama lo mah yang ada gue dibeliin lipstik limaribuan.” Pras tertawa kencang, sementara Nara menunjukkan ekspresi sebal. “Dah ah, gue mau tidur.” Kata Nara sambil mencari posisi yang nyaman agar ia bisa tertidur di sisa perjalanan yang masih panjang ini. Nara duduk di samping Pras, wanita itu kini sudah tertidur pulas, dengan satu tarikan Pras membawa Nara ke dekapannya. Lalu Pras mengeluarkan ponselnya, menekan tombol kamera dan mengambil wefie bersama Nara yang ada di dekapannya karena jika tidak dalam posisi tidur pastilah wanita itu sudah marah-marah ke Pras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD