Ke-enam

1451 Words
Ternyata perjalanan Jakarta-Sukabumi cukup melelahkan, setelah sampai alih-alih Nara menemukan kasur untuk melanjutkan tidurnya ia malah langsung melaksanakan tugas yang diperintahkan Bu Ina dengan Pras yang saat ini sedang menekuni berkas-berkas di hadapannya. Sesekali Nara membantu Pras untuk mengecek dokumen lainnya. “Pras..” Nara memanggil Pras, membuat pria itu langsung menatapnya dan bertanya mengapa. “Gue laper.” Lanjut Nara sambil memajukan bibirnya ke depan serta tangannya yang memegang perutnya yang keroncongan itu, dan mengelus-elusnya. “Yee emang lu pikir gue ngga laper apa.” Kata Pras yang kembali melanjutkan pekerjaannya. “Ih. Dasar laki-laki ngga peka.” Keluh Nara yang membuat Pras tertawa. “Pantes masih jomblo sampe sekarang.” Lanjutnya. “Iya-iya, gue ke kantin ya, mau nitip apa?” “Apa aja yang ada.” “Oke, tunggu ya.” Kata Pras yang sudah berjalan meninggalkan Nara sendiri. Sejam sudah sejak Pras pamit ke kantin namun laki-laki itu tak kunjung balik lagi. Untungnya Nara sudah bernapas lega karena pekerjaannya hari ini sudah dirasa cukup dan selesai, untuk mengisi waktu luang ia pun membuka ponselnya lalu membuka aplikasi instagramnya dan tiba-tiba ada kehangatan yang menjalar di hatinya saat melihat postingan Pras beberapa jam yang lalu. Prasmhswr : Di dalam perjalanan, untuk pertama kalinya Tom and Jerry ini akur. Terima kasih sudah bersedia menjadi teman ghibah dan julid. Happy 27, Pras! Katanya dengan senyum di bibirnya. Nara tersenyum, di sana terlihat fotonya yang sedang tertidur pulas di dekapan Pras dan Nara sangat yakin jika foto itu diambil di dalam mobil tadi. Tapi, tunggu. Bahkan Nara belum mengucapkan selamat ulang tahun pada Pras, Nara tidak lupa ia sangat ingat betul kapan ulang tahun Pras namun entahlah hari ini banyak sekali yang menguras pikirannya sehingga tanpa sadar Nara melewatkan ulang tahun Pras. Nara menghampiri Pras yang kini sedang duduk di kantin kantor seorang diri dengan segelas kopi hitam. Nara mengambil posisi di samping Pras, tangannya melingkari lengan Pras. "Happy 27, Pras!" kata Nara dengan senyum mengembang di bibirnya. Pras menoleh, mata sepatnya langsung berbinar kala melihat senyum Nara, ia tahu wanita itu tidak akan lupa dengan ulang tahunnya dan pasti akan mengucapkannya. Pras mengusap rambut Nara dengan tangan yang lain, ia mencium puncak kepala Nara lembut serta ucapan terima kasih membisiki telinga Nara. Nara tidak bisa menolak ketika ada getaran di dadanya, Nara pun tidak paham dengan apa yang ia rasakan namun yang ia tahu ini teramat tenang, damai bahkan Nara sampai menutup matanya untuk merasakan kehangatan yang diberi Pras. "Cuma mau ngingetin, dibalik ucapan selamat ulang tahun ada traktiran yang ditunggu-tunggu," kata Nara yang membuat Pras menyudahi kecupannya, ia menatap Nara, wanita ini memang selalu membuatnya gemas. Pras menarik hidung mancung Nara, "Gemes gue anjirrrr." Nara memegang hidungnya yang memerah, "Gue ngga nyiapin kado, kayaknya kehadiran gue juga udah bikin lo jungkir balik." Pras tertawa, tentu ia tidak butuh kado kalau kehadiran Nara saja sudah membuatnya senang apalagi kalau hati Nara mau menampung Pras di dalamnya. Tapi, rasanya keinganan itu harus ia kubur dulu mengingat Nara masih punya kekhawatiran dengan masa lalunya dengan Bharga yang membuat Nara hancur, sangat hancur malah. Dan, Pras sangat paham akan hal itu. ∞ Hari ini tepat hari ketiga Nara berada di Sukabumi, sebenarnya bisa saja ia pulang ke Jakarta namun daripada pulang ke Jakarta untuk bekerja mending Nara di Sukabumi untuk berlibur meskipun dengan Pras, Nara rasa itu tidak terlalu buruk. "Kita mau kemana?" tanya Nara pada Pras yang kini sedang fokus menyetir. "Rusman lo naro mana? Nanti kalo kita nyasar gimana?" lanjut Nara sementara Pras tidak sama sekali mengindahkannya. Nara memukul lengan Pras, membuat lelaki itu menoleh ke arahnya. "Nar, dua hari gue di Sukabumi masa iya gue ngga tahu jalan disini. Udah lo diem aja, duduk yang rapi. Oke?" Nara diam, begitu juga dengan Pras. Nara memalingkan wajahnya menatap ke luar melalui kaca mobil, dilihatnya pemandangan bukit-bukit yang indah sampai akhirnya jalan yang dilalui tidak semulus tadi, jalanan menanjak dan bebatu masih dicoba lawan oleh Pras dengan susah payah. Sampai akhirnya laki-laki itu menepikan mobilnya di area kosong. "Karena jalanan ngga memungkinkan untuk diterusin pakai mobil, kita jalan kaki yah?" kata Pras sambil mematikan mobilnya. Dengan refleks Nara pun mengikuti Pras yang sudah terlebih dahulu keluar dari mobil, sejujurnya bibir Nara sudah menggebu sekali untuk mengomeli Pras tapi lagi-lagi semuanya seakan hilang, mengambang di antara pikiran dan hati saat tangan Pras menggenggam tangannya lembut. Selama kurang lebih satu jam perjalanan menanjak dibebatuan Nara seperti trekking tanpa persiapan membuat otot-otot kakinya melemas, kaku dan sakit terlebih saat matahari sore menyorotnya dengan sombong membuat peluh lelahnya menetes. "Pras! Gu–" kata Nara dengan suara meninggi, ia lelah. Mungkin ini saat yang tepat untuknya mengeluh ketika dirasa kakinya sudah meminta-minta untuk dibebaskan—istirahat. Namun ucapannya berhenti seketika ketika mata bulatnya menatap ke depan. Tuhan dengan sombongnya memperlihatkan hasil ciptanya yang membuat Nara berdecak kagum. Sungguh, dengan segala keindahan yang ada Nara tidak pantas mengeluh atas perjalanan yang ditempuhnya. "Puncak Darma, Nar." kata Pras yang menguatkan genggaman tangannya pada Nara. Kini, mereka memutuskan untuk duduk direrumputan menunggu sunset tiba, sambil menghirup udara segar yang tidak akan mereka temukan di Jakarta. Desau angin menyapanya dengan hangat, mata Nara tak henti-hentinya berpencar untuk melihat pemandangan sekitar. Pras merebahkan kakinya, tangannya berpijak pada tanah untuk menahan badannya, pandangannya lurus melihat teluk pantai ciletuh dan bukit-bukit serta bebatuan yang mengelilinginya. “Nar..” “Ya?” “Apa yang akan lo cari ketika umur lo 27 tahun?” Nara menarik lututnya, "Pasangan? Ohh tidak, tidak. Takdir gue untuk dicari bukan mencari. U-um gue rasa gue bukan orang yang pandai berandai-andai. Let it flow. Kalau lo apa?" Nara berbalik bertanya. "Entah, rasanya pekerjaan gue udah layak bikin gue ongkang-ongkang kaki tapi hati gue selalu ngga puas, dia selalu mencari celah untuk gue terus mencari tapi gue ngga tahu itu apa." "Pasangan? Apa lagi emang yang lo butuhin kalau bukan itu?" Nara memalingkan wajahnya menatap Pras. "Doain ya, gue lagi berusaha mendapatkan hati cewek," kata Pras yang juga menatap Nara, ada rasa sesak yang dirasakan ketika Pras mengatakan itu. Cemburu? Tapi untuk apa Nara cemburu dengan Pras? Cinta? Ah, tampaknya Nara butuh piknik. Perbincangan itu berhenti ketika mata mereka masing-masing menatap senja yang berwarna merah muda. Nara melingkarkan tangannya pada lengan Pras, meski jengkel dengan setiap kelakuannya tapi Nara selalu meminta lebih. "Gue ketemu dia lagi, Pras." kata Nara yang menekankan kata dia. Gue tahu, gue tahu, Nar. Desis Pras yang tidak Nara dengar. Pras paham sekali kata “dia” yang diucapkan Nara tertuju pada Bharga, ia yakin hal itu. "Tiga bulan gue menghindarinya, gue tinggalkan satu-satu yang berhubungan dengan dia. Bahkan, si pengecut ini mematikan semua keinginan hati untuk meminta si prianya kembali. Tapi, dia dengan hitungan menit bahkan detik mampu menghancurkan itu semua. Nara menarik napasnya, "Naif, gue akui gue mau kembali sama dia, Pras, gue kalah dengan dia tapi pengkhianatan itu menjalar keseluruh tubuh gue, menghancurkan keinginan gue untuk kembali. Gue benci Pras, gue benci sama berengsek yang sampe sekarang kehadirannya masih gue tunggu, gue benci keadaan ini. So, what do i do?" Nara memejamkan matanya sementara Pras terus menatap wanita itu, ia pun benci dengan keadaan ini, keadaan dimana Nara terus merasa sakit sementara ia bersusah payah mengumpulkan serpihan hati Nara untuk membuat wanita itu kembali utuh lagi, tapi memangnya siapa dia? Siapa seorang Prasraya Maheswara untuk Nara Rasendyra? “Ngga ada, ngga ada yang perlu lo lakuin sekarang, Nar.” Kata Pras yang mendapat tatapan bingung dari Nara. “Maksudnya?” “Bagaimanapun, semua yang sudah terjadi ngga akan bisa lo hindari ataupun hilang begitu saja, Nar. Akan ada saat dimana lo akan kembali teringat dengan kenangan itu, sedih dan kecewa lagi tapi akan ada saat juga dimana saat lo mengingar kenangan itu, lo akan merasa biasa aja.” Kata Pras. “time can heal most anything lah kalau kata Taylor Swift mah.” Lanjutnya lagi. “Dia jahat banget, Pras.” Ucap Nara dengan suara paraunya, Pras tahu jika saat ini Nara menahan tangisnya sebab suranya bagi Pras saat ini terdengar begitu menyakitkan juga. “Iyaa.. gue tahu, Nar.” “Dia ngga punya hati...” kata Nara lagi. “Iyaa.. apalagi? Keluarin aja semuanya Nar. Lo mau teriak, silakan. Lo mau nangis sekencang-kencangnya, silakan.” “Pras...” Nara menatap Pras, tatapan mereka bertemu lalu air mata Nara terjun bebas begitu saja, ia menangis. Di kepalanya kembali penuh dengan ingatan tentang Bharga, dan bagaimana laki-laki itu membuat hatinya luka. Pras yang melihat itu langsung menarik Nara ke dalam pelukannya dan berusaha menenangkan Nara, Pras mencium puncak kepala Nara lembut, saat ini ia memang tak bisa menjanjikan apapun untuk wanita itu sekarang, dan ia tak bisa menawarkan apapun untuk Nara tapi yakinilah bahwa Pras bukan seseorang yang pandai berkhianat seperti mantannya dahulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD