Liburan telah habis, kini Nara kembali ke rutinitasnya seperti sedia kala, yaitu bekerja. Sekarang Nara sudah tiba di meja kerjanya dengan secangkir teh hangat yang ada di gelas bergambar planet-planet miliknya. Tangannya gencar bergerak-gerak di ponselnya melihat newsfeed di instagramnya. Sampai akhirnya pandangannya beralih ketika melihat seseorang memasuki ruangan Kepala Divisi Keuangan, ke ruangan Bu Ina. Tiba-tiba hatinya menjerit-jerit sekelebat pertanyaan muncul di kepalanya. Orang itu melihat ke arahnya, menampilkan senyum yang dahulu dipuja puja Nara.
"Nar, disenyumin Pak Bharga sampe jadi freeze gini?" seseorang di sampingnya menyenggol lengan Nara, membuat wanita itu terkejut dan meninggalkan semua prasangkanya.
"Dia ngapain? Uu-um maksud gue dia itu siapa, Din?"
Dinna tersenyum, "Pengganti Bu Ina yang lagi pelatihan. Seger banget ya? Gue sih rela dateng pagi-pagi ngebersihin ruangannya juga ngga apa-apa." katanya dengan antusias namun tidak dengan Nara.
"Ohh." ucap Nara lirih sambil mencari kesibukkan dengan pekerjaannya.
"Gue kira dia tipe laki-laki sejuta wanita tapi kayaknya ngga berlaku sama lo. Dia bukan tipe lo ya Nar?" Dinna bertanya dengan wajah lugunya, Nara hanya tersenyum. Ia akui memang Bharga tipe laki-laki idaman sejuta wanita dari fisiknya tapi tidak dengan sikap dan kelakuannya.
"Nih!"
Nara melihat kotak makan warna biru itu yang ada di hadapannya, suara yang sudah dikenal Narapun kini terduduk di meja sebelah Nara, meja Kila.
"Roti bakar cokelat keju. Gue bikinnya sampe telat kerja awas aja kalau ngga dimakan, gue hempaskan lo ke mars." kata Kila dengan penuh ancaman yang membuat Nara tersenyum getir, biasanya ia akan membalas guyonan Kila tapi untuk saat ini.... entah, Nara masih terkejut dengan orang uang baru saja ia lihat.
"Dia disini, Ki?"
Akhirnya tebakan yang se daritadi ada di benak Kilapun menemukan kebenarannya jika Nara sudah mengetahui tentang Bharga yang kini menjabat sebagai Kepala Divisi Keuangan yang otomatis menjadi atasan Nara, sungguh Kila kirapun ini tidak semudah itu karena hadirnya Bharga akan banyak membuka luka di hati Nara lagi.
"Ya, gue ngga tahu kenapa takdir kayaknya jahat banget sama lo Nar," kata Kila dengan nada lirihnya.
"Ngga apa-apa, gue ngga apa-apa. Ki." ucap Nara yang kembali bergelut dengan pekerjaannya sengaja ia memasang earphone lalu menyalakan musik EDM sebagai pengalihan dari pikirannya.
∞
Jam menunjukkan pukul 3 sore ketika Nara baru saja menyelesaikan laporannya, matanya sepat sekali Nara butuh sesuatu yang segar. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kedai kopi yang ada di lobby kantornya.
"Greentea frappucinno satu," ucap Nara pada barista kedai itu.
"Atas nama siapa, mbak?" pria yang ber-nametag Aksa itu menyunggingkan senyumnya.
"N-A-R-A." Nara mengeja namanya sebelum bibir mungilnya itu lalu tersenyum pada Aksa.
Dilihatnya sekeliling kedai kopi ini yang tampak lebih ramai bahkan tak ada satupun bangku yang tersisa sehingga membuat Nara menunggu pesanannya sambil berdiri dan menyibukkan dirinya dengan ponsel.
"Mbak Nara!" panggil Aksa, barista kedai kopi itu dengan lantang membuat fokus Nara menjadi ke suaranya dilihatnya pria itu kini tersenyum, niat mau nyombong atau gimana sih itu senyum kenapa manis banget. Kata Nara dalam hatinya, kakinya sudah melangkah menghampiri meja Aksa, mengambil pesanannya dan membayarnya.
"Makasih ya, Mas Aksa." kata Nara sambil tersenyum dan membuat Aksa kembali tersenyum lagi, oke Nara memutuskan jika Aksa satu-satunya pria yang menarik perhatiannya lewat senyum manisnya.
Nara membalikkan badannya namun tidak sengaja kepalanya menabrak d**a bidang seorang pria, Nara menengadah nelihat orang itu dalam hati ia berjanji akan memarahi orang itu yang telah membuat Greentea Frappucinno miliknya tumpah. Namun tubuhnya seakan kaku saat mengetahui jika pria yang menabraknya adalah pria yang amat sangat dihindarinya. Akhirnya Nara memutuskan untuk pergi namun baru selangkah kakinya beranjak tangannya akan dicekal oleh pria itu.
"Saya mohon Nar jangan menghindar dari saya," bisik pria itu yang begitu terdengar jelas di telinga Nara, dan suara berat itu seperti menujamkan jarum di hati Nara, nyeri sekali rasanya.
"Lepas, saya mau memesan minuman saya kembali." kata Nara yang berusaha melepaskan genggaman tangan Bharga.
"Tidak, sampai kamu berjanji untuk tidak menghidari saya."
"Saya ngga bisa dan kamu ngga bisa memaksa saya."
"Saya cinta sama kamu, saya yakin kamu paham betul akan itu. Jangan jauhi saya Nar. Let me try to fix you, please."
Berengsek! Nara benci sekali dengan pria itu, benci!
"I don't think you can." kata Nara dengan penuh penekanan yang membuat genggaman di tangannya melemah. Kini, Bharga membiarkan Nara berlalu sementara dirinya masih mematung di sana pikirannya terbang-terbang satu hal yang ia tahu, ia telah menyakiti hati wanita itu dengan brutal.
∞
Pras menghentikan permainan caturnya bersama Pak Mahmud ketika melihat mobil sedan milik Nara terparkir di halaman kosan.
"Ngapain?" tanya Nara bernada ketus saat Pras menghampirinya. Meski Nara tampak baik-baik saja namun Pras tahu jika hati dan perasaan Nara tidak begitu.
"Nunggu lo, kemana aja? Ponsel lo ketinggalan di meja kerja lho." kata Pras, refleks Nara langsung mengecek ke tasnya seingat dia ponselnya sudah ia masukan tapi ternyata salah, benda itu tidak ada di tasnya.
Niat awal Pras ke kosan Nara memang hanya untuk mengembalikan ponsel milik Nara tapi tidak lagi saat Pras mengetahui jika Nara bertemu lagi dengan Bharga yang sekarang menjadi atasan Nara. Entahlah Pras hanya ingin memastikan jika Nara baik-baik saja.
Nara mengambil ponselnya dari tangan Pras, "makasih." katanya.
"Ikut gue yuk," ajak Pras yang kini memegang kedua bahu Nara dan membawa wanita itu menuju mobil Honda City miliknya sementara Nara hanya mengikuti seakan-akan Pras adalah tuannya.
Di dalam mobil tidak ada percakapan apapun selain suara radio yang dinyalakan. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak Pras namun semuanya kembali ia urungkan ketika melihat Nara, melihat wajah Nara tidak ada serinya, tidak ada binarnya Nara tampak seperti seseorang yang sangat menyedihkan dan itu sangat menyakitkan bagi Pras.
"Nar, lo darimana? Pulang selarut ini?" tanya Pras dengan hati-hati karena takut pertanyaan yang ia lontarkan membuar Nara tak nyaman.
"Ngopi."
Syukurlah Nar, gue ngga mau lo kenapa-kenapa.
"Di club." lanjut Nara tanpa babibu lagi yang membuat Pras tercengang kaget. Ia mengumpat dalam hati, Pras sangat kecewa kepada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol Nara, menjaganya seperti pesan Ibu Bapak Nara. Karena bagi mereka Pras adalah teman Nara yang paling baik, paling mengenal Nara meski hanya dari kuliah sampai sekarang tapi orangtua Nara sangat amat percaya dengan Pras untuk itu mereka menghubungi Pras secara diam-diam 3 bulan yang lalu tepat saat kejadian pahit itu menimpa Nara, meski Nara tidak bercerita dan Pras pun sama namun Pras sangat meyakini jika firasat orangtua memang selalu benar.
"Nar, apa lo ngga mau mengakhiri ini semua?" kata Pras yang menatap Nara. Nara berbalik menatap Pras, mata binarnya kini terlihat nanar meminta penjelasan pada Pras.
"Nar, si pengecut ngga akan selamanya pengecutkan?"
"Gue cuma butuh ruang, butuh tempat supaya gue bisa berdamai sama diri gue, memaafkan diri gue sekaligus masa lalu gue. Udah itu aja kok, Pras." Nara tersenyum getir. Bayang-bayang Bharga semakin jelas diingatannya, semuanya begitu nyata termasuk pengkhianatan itu.
"Sampe kapan Nar? 3 bulan kurang cukup? Kalau enggak sekarang, kapan Nar? Lo ngga bisa nyakitin diri lo terus-terusan. Gue sayang sama lo Nar, Kila juga apalagi orangtua lo. Kesedihan lo bagaikan pukulan mati buat kita semua." kata Pras yang menghentikan laju mobilnya tepat di depan kosan Nara, tangan Pras kini menggenggam tangan Nara menguatkan wanita itu.
"I will, Pras. Thanks." kata Nara sambil membuka pintu mobil Pras lalu berjalan menuju kosannya namun sebelum itu dia menghapus air yang jatuh di matanya.