"Mbak Nara?" Nara memalingkan wajahnya menatap seorang pria yang memanggilnya, pria yang sepertinya ia kenal namun entah siapa.
Pria itu tersenyum manis, "lagi nunggu bus juga?"
Eh. Nara ingat siapa orang itu, orang yang menarik perhatiannya hanya melalui senyuman. Aksa. Nara menggumamkan nama itu.
"Iya, Mas Aksa juga?" tanya Nara.
Aksa mengangguk, "saya kok jarang liat ya?"
"Jarang-jarang Mas, lagi males bawa kendaraan soalnya." kata Nara sambil tersenyum ramah.
"Panggil Aksa aja gimana? Kalau pake 'mas' tuh bawaannya pengen bikinin kopi terus kaya di tempat kerja." tawar Aksa yang membuat Nara tertawa kecil.
"Oke, Aksa panggil saya Nara aja ya?"
Aksa mengangguk pelan, "senang bertemu kamu, Nara."
Tepat saat mulut Nara terbuka ingin membalas ucapan Aksa namun bus Transjakarta sudah tiba, dengan cepat Aksa menarik tangan Nara melindungi Nara dari dorongan-dorongan di belakang yang membuat Nara terkejut kaget atas perlakuannya.
"Ma–maaf." kata Aksa yang melepaskan genggaman tangannya pada Nara.
"Ngga apa-apa ko," katanya. “Terima kasih yaa,” lanjutnya.
Keadaan Transjakarta pada jam-jam sibuk sangat padat, akhirnya Nara dengan penumpang yang lain mau tidak mau berdiri. "Pegangan Nar, nanti jatuh." Nara menatap Aksa yang kini ada di depannya, wajah milik Aksa bisa ia lihat dari dekat, kumis tipis, mata bulat, hidung mancung dan senyumnya itu loh yang kalau dilihat-lihat bisa bikin diabetes.
Nara mengangkat tangannya, mencari pegangan namun pergerakan yang ia miliki sangat terbatas yang membuat Nara susah berpegang. Aksa menuntun tangan Nara untuk memegang lengannya, "Di lengan saya aja, Nar." katanya sambil tersenyum.
Awalnya biasa-biasa saja namun saat bus ini mengerem mendadak akhirnya membuat tangan Nara yang sedang berpegangan pada lengan Aksa melepas dan membuat Nara kehilangan keseimbangan namun dengan cepat Aksa menarik tubuh Nara ke dekapannya membuat Nara mau tidak mau melingkari pinggang Aksa, "begini lebih nyaman, Nar." bisik Aksa yang tidak didengar Nara. Dan Nara hanya bisa menurut tanpa protes sambil menikmati aroma tubuh Aksa.
∞
"Selamat pagi, Nara."
"Pagi, Pak Bharga." kata Nara sambil menjabat tangan Bharga dengan seuntai senyum di bibirnya. Entah lah Bharga seperti mempunyai kebiasaan menyalami seluruh staffnya setiap pagi yang mau tidak mau membuat Nara harus berbasa-basi dan memamerkan senyum palsunya.
Nara melepaskan tangannya dan membiarkan Bharga menyalami yang lainnya sementara Kila yang berada di samping Nara sedari tadi memberikan kode bertanya apakah Nara baik-baik saja. Nara menarik napas lega, kini ia harus mulai terbiasa dengan keadaan ini, dengan hadirnya Bharga sebagai atasannya. Bagaimanapun Nara tidak bisa menghindari apapun di hidupnya, Tuhan sudah menggariskan jalan hidupnya untuk bertemu kembali dengan Bharga entah untuk tujuannya apa tapi kalau untuk dipersatukan kembali rasa-rasanya Nara perlu bernegosiasi dulu dengan Tuhan.
Nara meninggalkan tempat kerjanya, ia butuh udara sejenak, butuh kopi untuk menyegarkan pikirannya saat ini. Tanpa disadari Nara, Kila mengikuti Nara yang kini sedang menunggu pintu lift terbuka.
"Gue ngga bakal ngebiarin lo minum kopi sampe selusin." kata Kila, ia paham betul kemana Nara akan melampiaskan emosinya, ia akan meminum kopi sebanyak-banyaknya tak peduli sakit lambung yang ia miliki ia akan terus minum kopi sampai sakit di hatinya hilang, sampai pahit di hidupnya pergi. Meskipun tidak ada yang bisa menjamin akan hilang begitu saja rasa sakitnya.
Nara justru melangkahkan kakinya menjauhkan dirinya dari lift dan menuju pantry. "Gue juga ngga akan ngebiarin lo merusak acara ngopi-ngopi gue." kata Nara dengan terkekeh pelan lalu mengambil gelas, ia mengambil air hangat di dispenser lalu meminumnya perlahan.
"Sialan lo Nar." kata Kila dengan wajah kesalnya namun ia tetap mengikuti pergerakan Nara, ia juga mengambil air dan meminumnya.
“Nar..” Panggil Kila.
“Iya?”
“Lo udah ngga apa-apa?”
Nara tertawa kecil, ia paham dengan ucapan yang dimaksud Kila. Kila ingin memastikan Nara baik-baik saja setelah Bharga kembali muncul di dalam hidup Nara.
“I try, Ki.”
∞
Sorenya, sepulang kerja Nara memutuskan untuk ke kedai kopi di lobby kantor tanpa sepengetahuan Kila. Mengingat jam sudah menunjukkan pukul 5 yang artinya kantor sudah bubaran jam 4 tadi dan Kila sudah ngacir ke mall untuk berburu diskon.
"Iced coffe satu ya Aksa." kata Nara pada Aksa, kini laki-laki itu menyunggingkan senyum manisnya yang membuat Nara kembali segar. Demi Tuhan tujuan Nara kesini hanya untuk ngopi tapi kalau dapet penyegaran kaya gini sih, alhamdulillah syekali. Nara jadi teringat akan kejadian di Transjakarta beberapa hari yang lalu, saat dimana dirinya dengan Aksa sangat dekat.
"Greentea ngga mau?" tanya Aksa.
Nara menggeleng, "bosen." tapi kalau sama kamu sih enggak.
Aksa kembali tersenyum sementara Nara bergegas mencari kursi, tangannya gencar ke atas ke bawah melihat newsfeed di instagramnya melihat postingan terbaru Pras beberapa jam yang lalu tidak ada yang menarik perhatiannya dari foto tersebut hanya sebuah foto bulir-bulir hujan yang ada disebuah kaca. Namun caption yang dibuat Pras mampu membuat Nara menegang.
"I always loved rain before i met you, but the tears that streamed down your face last night made me hate water altogether."
Nara kembali membaca caption Pras, apakah memang ini untuknya? Tiba-tiba rasa hangat menjalar ke hatinya. Nara bukannya tidak paham akan perhatian Pras selama ini namun rasa-rasanya lelaki itu terlalu abu-abu untuk Nara.
"Nara?" panggil seseorang yang membuyarkan lamunan Nara akan sosok Pras. Nara tersenyum menatap pria itu, pria yang memilik senyum paling manis baginya. Aksa.
"Eh kok dianterin?"
Aksa meletakkan iced coffe nya di meja Nara sambil tersenyum, "iya, kebetulan kedainya lagi tidak begitu ramai jadi bebas. Boleh saya duduk?"
Nara mempersilahkan Aksa duduk dihadapanya akhirnya Nara bisa melihat Aksa dengan jarak yang sedekat ini.
Mereka bercerita, tertawa bersama sampai-sampai Nara lupa kapan terakhir kalinya ia tertawa lepas seperti ini. Tiba-tiba senyum mengembang di sudut bibirnya, ia bersyukur karena pertemuannya dengan Aksa memberi begitu banyak hal positif.
Nara melihat jam tangan yang ia kenakan, mengingat jam sudah malam Nara memutuskan untuk pamit pada Aksa.
"Saya antar ya?" tanya Aksa yang membuat Nara heran namun diam-diam ia sangat menyenangi ajakan itu.
"Ngga usah, aku bawa kendaraan kok." kata Nara, dalam hati ia mengulang kata 'aku' yang ia ucapkan tadi seperti ada getar di hatinya, ia rindu dengan sebutan itu.
"Kali ini sampe depan pintu kok, tapi lain kali kalo diizinkan sih mau banget nganterin sampai rumah." kata Aksa dengan senyum manis dan kekehan pelan dan itu sukses membuat jantung Nara serasa lepas.