Ke-sembilan

1311 Words
"Kamu masih suka ke sini?" Nara terpengarah ketika mendengar suara yang sangat ia kenali itu, siapa lagi kalau bukan Bharga. Bharga mengambil posisi duduk di depan Nara melakukan kebiasaannya yang tidak pernah meminta izin terlebih dahulu. "Kafe ini tempat umum kan?" kata Nara sambil mengatur emosinya yang sudah meluap-luap ingin meminta Bharga segera pergi dari hadapannya. "Tentu, tapi yang bisa mengakses lantai tiga kafe ini cuma kita. Kamu dan saya." Nara tertegun mendengarkan penjelasan Bharga yang seperti menyentilnya. Sejujurnya Narapun tidak tahu sebab apa yang membawanya kesini, ke tempat dahulu dimana ia dan Bharga sering menghabiskan waktu bersama. Tapi jika alasan Nara kesini adalah ia ingin mengenang apa-apa yang terjadi sebelum akhirnya ia meninggalkan itu semua, wajar bukan? Nara mengambil tasnya, kakinya bergerak melangkah namun lagi-lagi berhasil di cegah oleh genggaman Bharga. "Nar sudah cukup kamu menghindar dari saya. 3 bulan kamu tutup semua akses saya untuk menemui kamu. Kamu bahkan tidak pernah memberi saya untuk menjelaskan apa-apa yang terjadi. Saya mohon Nar, kali ini saja." Nara kembali duduk dan membenarkan semua ucapan Bharga. Nara tahu ia sudah terlalu egois selama 3 bulan ini sehingga ia melupakan Bharga. Nara tidak pernah tahu perasaan Bharga setelah itu apa, apakah ia juga sama sakitnya seperti Nara? Di hari ini, di waktu ini juga Nara memberi waktu pada Bharga untuk mengutarakan semua hal yang sudah dipendam Bharga selama tiga bulan belakangan ini dan entah hasilnya apa nanti, apakah Nara semakin membenci Bharga atau justru keadaan berubah. "Saya menyesal Nar. Seperti yang kamu tahu tujuan saya menemuinya hari itu untuk apa, tapi rasanya berita bahagia yang saya bawa tidak bisa diterimanya. Dan begitu saja." jelas Bharga. Tangannya menggenggam tangan Nara. "Saya mencintai kamu Nar. Demi Tuhan sayapun tahu kamu masih cinta saya. We can start all over, start a new, i love you." menit-menit berlalu Bharga masih menunggu respon Nara. Penyesalan menyesakkan dadanya, Bharga berharap ia bisa mengulang agar kejadian itu tidak pernah ada namun ia tahu tidak ada pengulangan sekarang dan waktu bukanlah mesin yang bisa diputar sesuka hati, apalagi berhenti. Ia hanya bisa berharap jika Nara memberinya kesempatan untuk melanjutkan apa-apa yang sudah dirancang olehnya dan Nara. "Saya tidak bisa. Apa yang kamu lakukan sangat menyakiti saya, saya tidak akan memberikan kesempatan pada orang yang telah menyakiti saya!" ucap Nara dengan penuh penekanan, ia masih berusaha kuat agar air matanya tidak terjatuh di depan pria ini. "Saya menyesal." desis Bharga yang terdengar sangat lemah, akhirnya air mata yang ia tahan harus jatuh. Nara tidak bisa melihat Bharga seperti ini, melihat pria yang dulu di cintai teramat sangat kini terlihat menyedihkan. "Saya menyesal." "Tiga kali Bharga! Cukup!" "Saya menyesal." ulang Bharga yang membuat Nara geram. "Apa mau kamu?" Bharga berhenti sejenak, ia mendekatkan dirinya pada Nara. Bharga tahu wanita itu sangat membencinya dan jujur iapun menyesal dan merasa bodoh dengan apa yang sudah ia lakukan. "Kamu sangat membenci saya, Nar?" Nara diam, ia tidak tahu apa yang di rasakannya untuk Bharga. Ia mencintainya namun ia juga membencinya. Nara mengangguk pelan sambil terus air matanya mengaliri pipi mulusnya. "Baiklah, jika bersama saya bukan keinginan kamu. Saya paham. Saya hanya ingin meminta maafmu, jika memang kita harus berakhir biarlah berakhir dengan tenang. Biar kamu tidak terbayang-bayang, biar kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang." Bharga menarik tangan Nara, membawa Nara ke dalam pelukan. Nara yang sudah tidak berdayapun mengikuti kemauan Bharga toh iapun rindu dengan pelukan Bharga. "Saya sudah memaafkan kamu sebelum kamu memintanya, Bharga.” Kata Nara. “Terima kasih.” "Leave," desis Nara yang melemah, ia pun tidak tahu bagaimana kata-kata itu keluar dari mulutnya. Tapi baginya mungkin kepergiaan Bharga bisa membuatnya kembali melanjutkan hidupnya dengan tenang. "Syukurlah, saya lega mendengarnya. Seminggu lagi Bu Ina kembali jadi tugas sayapun sudah berakhir. Maaf Nar, saya belum bisa mewujudkan keinginanmu untuk pergi tapi seminggu lagi saya jamin akan menjadi pertemuan kita yang terakhir, dan kamu tidak akan menemui saya selamanya." ucap Bharga sambil mengusap punggung Nara. Nara berdiam diri, kata 'selamanya' masih memenuhi otaknya ia berpikir keras untuk menerjemahkan maksud Bharga namun buntu entahlah Nara tidak perduli itu sekarang ia hanya ingin menikmati dekapan Bharga dengan di temani angin malam yang menusuk-nusuk kulitnya.  ∞ "Assalamualaikum, Bu." "Waalaikum salam. Nara apa kabar?" "Alhamdulillah Bu, Nara sehat. Ibu sama Bapak gimana di Garut?" "Sama nak, kami baik-baik saja. Usaha Bapak kamu makin maju nak, kalau Bapak kamu udah sukses kamu kan ngga usah kerja jauh-jauh. Ibu kangen." "Ibu jangan gitu, nanti kalau Nara masih diketekin sama Ibu Bapak kapan Nara mandirinya Bu? "Oh iya Bu. Maafin Nara Bu, Nara udah malu-maluin Ibu Bapak dan keluarga Nara." "Maksud kamu apa Nar? Kamu kebanggaan kami kok." "Nara gagal nikah sama Bharga Bu. Nara pasti ngecewain Ibu sama Bapak. Maafin Nara yang ngga pernah mau cerita ini ke Ibu, Nara belum siap Bu, Nara belum bisa terima semua ini, semua yang dilakukan Bharga saat persiapan pernikahan kami hampir 50%." "Ibu dan Bapak tahu nak, sejak beberapa bulan yang lalu kamu selalu menghindari pembahasan tentang pernikahan itu. Dengerin Ibu nak, kamu tidak perlu meminta maaf pada kami. Kami justru berterimakasih sama Allah udah jawab semua doa kita, ternyata Bharga memang bukan jodoh kamu. Kamu ngga perlu khawatir gimana perasaan kami nak, yang terpenting adalah perasaan kamu, kamu yang mengalami ini, kamu yang paling merasakan sakit diantara kita semua." "Nara ngga tahu Bu rasanya apa atau bahkan Nara udah ngga punya rasa ya Bu?" "Istigfar kamu Nar, Ibu paham kamu kecewa, kamipun samanya tapi Nar ikhlaskan apa-apa yang memang sudah harusnya kamu ikhlaskan, maafkan diri kamu, Bharga dan masa lalu kamu, doakan agar menjadi baik nantinya." "Bu....." "Cepat pulang nak, kami masih jadi tempat pulang ternyaman untuk kamu kan? Jangan alihkan sakitmu pada apapun terlebih lagi pada seseorang nak." "Bu terima kasih ya, Insha Allah akhir bulan nanti Nara pulang ke Garut ya. Ibu doain Nara disini biar kerjaannya lancar, sehat, rezeki yang Nara peroleh berkah dan bermanfaat." "Pasti nak, Ibu selalu doakan apa-apa yang menjadi kebahagiaan kamu." "Nara tutup ya Bu, assalamualaikum." "Jaga kesehatan ya, waalaikum salam." Nara menutup teleponnya lalu meletakannya asal di tempat tidur, sengaja ia mengambil bantal untuk menutupi wajahnya yang kini sedang menangis terisak-isak rasanya berat sekali menceritakan peristiwa itu terlebih pada orangtua yang selalu kita jaga perasaannya dan dengan kurang ajar Nara telah menyakiti itu. Namun ada yang ganjil ketika Ibunya Nara berkata 'Jangan alihkan sakitmu pada apapun terlebih lagi pada seseorang nak.' tiba-tiba saja bayangan sosok Pras menghampiri pikiran Nara. Narapun tidak paham mengapa begitu namun yang ia tahu selama 3 bulan ini Pras tak henti-hentinya memberi perhatian, waktu serta perasaan untuk dibagi dengan Nara dan Nara menerimanya dengan tangan terbuka, tapi apa itu salah sedangkan Praspun tak menuntut apapun pada Nara kecuali untuk kebahagiaan Nara? Nara jadi teringat akan postingan-postingan Pras di i********: yang menjurus kepadanya. Ah, Nara tidak paham dan tidak ingin menebak apapun yang memang belum ia ketahui kebenarannya. Dddrrttt ddrtt Nara mengambil ponselnya saat ada panggilan disana. Pras memanggil..... Nara menarik napas panjangnya menstabilkan emosinya sebelum ia mengangkat telepon Pras. "Ada apa, Pras?" entahlah bahkan sebelum Pras berbicarapun Nara sudah mengeluarkan pertanyaan macam itu, bukan apa-apa Nara sangat ganjil ketika Pras menghubunginya malam-malam begini. Ada rasa khawatir yang menyelinap disana dan tertutup dengan rasa gengsi. "Lo yang kenapa? Suara lo ngga kaya biasanya, nangis?" "Abis telfonan ama Ibu, kangennya kebangetan banget sampe terisak-isak gue. Lo kenapa?" kata Nara yang berusaha untuk seperti biasa-biasa aja. "Ngga apa-apa Nar, lagi iseng-iseng aja mau ngabisin pulsa." "Iseng-iseng mah jangan ke gue, ke polisi noh sekalian biar ditangkep." kata Nara yang sedikit jengkel dengan sikap Pras. "Nanti lo kangen gimana?" "Prasssssss... geli.." "Ampun, ampun. Yaudah gue tutup ya Nar. Tidurnya jangan malem-malem nanti diculik kalong wewe." Belum sempat Nara menjawab Pras sudah menutup telepon membuat Nara sedikit menyunggingkan senyumnya. Nara bangun dari tidurnya, mengambil mukena beserta al-qur'an. Nara butuh ketenangan jiwa yang tidak akan ia dapatkan dimana-mana, dengan sujud Allah akan menjamin itu semua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD