Hari ini Nara sudah kembali berkutat dengan rutinitasnya seperti biasa, yaitu bekerja. Matanya langsung mengarah pada meja kerjanya yang saat ini sudah ditumpuki berbagai macam kertas, tapi, ada yang luput dari pandangan Nara pagi ini, yaitu kehadiran Pras. “Apa Pras belum kembali dari tugas auditnya?” Tanya Nara dalam hati. “Tapi bukankah harusnya Pras sudah balik ke Jakarta?” Nara terus bertanya-tanya dalam hatinya. Setelah tiba di meja kerjanya, Nara menatap jam weker yang berada di hadapannya. Pukul sudah menunjukkan jam sembilan pagi, kantornya sudah ramai tapi Nara belum juga melihat Pras. Tangan Nara mencari ponsel di tasnya, lalu mencari kontak Pras dan mencoba menghubunginya tapi, Nara berpikir sejenak. Haruskah ia lakukan itu? Ah, perasaan macam apa ini hingga membuat Nara se

