“Papah Kusumo…” Membuka pintu utama, Ahra dikejutkan dengan kehadiran ayah mertua. Apa hal dia datang? “Gak sopan! Orang bertamu kok sambutannya tampang suram!” Ahra mengerjap, lalu tersadar dengan siapa dia berhadapan kini. Segera Ahra mempersilakan Papah Kusumo masuk ke dalam rumahnya, menyuguhkan secangir teh hangat setelah sebelumnya mempersilakan beliau duduk di sofa. “Saya datang langsung dari Jepang.” Meskipun Ahra tidak bertanya, tapi dia merasa perlu mengatakannya, “jauh-jauh ke sini cuma buat ketemu istri simpanannya anak saya.” Itu bukan sesuatu yang baik Ahra dengar, bukan juga yang Ahra inginkan. Tapi kalimat itu begitu sesuai dengan ekspektasi Ahra beberapa detik yang lalu, bahwa mungkin dia akan mendapatkan yang jauh lebih kejam dari yang barusan. “Papah--” “Saya gak

