Triqi menendang kerikil di sekitar halaman sekolahnya dengan lesu. Pikirannya melayang ke arah lain, tentang ayahnya, tentang semua hal. Anak itu harus kembali memakai hoodie karena perlahan kulitnya responsif lagi terhadap sinar matahari semenjak pertengkarannya bersama Valan yang berujung dengan mengurung dirinya Valan di kamarnya sendiri. Triqi bahkan mulai menjauhi teman-teman sekolahnya lagi. Dia tidak ingin mereka tahu bahwa Triqi berbeda. Triqi tidak ingin disebut monster lagi oleh temannya sendiri. Kembali tentang Tritan, tampaknya anak itu telah membulatkan tekadnya. Kakinya dibawa berlari sejauh mungkin saat dari jauh dia sudah bisa merasakan bahwa bawahan milik papanya sudah datang untuk menjemputnya. Dia tahu baik mama atau papanya, mereka tidak akan mengijinkan ide yang dia

