Pagi itu Sea tidak menyentuh sarapannya karena dia sudah sangat terlambat untuk pergi ke sekolah, semalam setelah menyelesaikan tugasnya gadis imut itu bukannya tidur malah lanjut nonton drakor kesukaan nya hingga larut malam alhasil pagi ini dia berangkat ke sekolah dengan terburu-buru begitu sampai disekolah pun ternyata gerbang sekolah sudah tutup seorang satpam yang berdiri didepan pagar hanya menatapnya gedek karena ini bukan kali pertama Sea datang terlambat tapi sudah untuk kesekian kalinya. Memang ya hari sial itu tidak ada di tanggalan.
" neng Sea terlambat lagi " ucap pak satpam dengan engah
" hai Pak Sapno " sapa Sea dengan senyum kikuk sembari melambaikan tangannya
" maaf pak tadi ada insiden dikit kucing tetangga sebelah rumah saya beranak jadi saya bantuin dulu " jawab Sea asal sampai buat pak Sapno jengkel setengah hati " tolong dong bukain gerbangnya ya pak " lanjut Sea dengan wajah memelas kerena melihat wajah keruh pak Sapno
" nggak bisa neng ini udah jam berapa? coba liat!!! " pak satpam yang dikenal bernama Sapno itu menunjukkan jam yang melingkar di pergelangan tangannya
" baru juga telat lima belas menit pak " jawab Sea dengan wajah cemberut
" baru? neng Sea bilang baru? bel udah bunyi dari lima belas menit yang lalu nengggg semua siswa udah pada masuk kelas atuh neng " sahut pak Sapno kesal
" ya mangkanya pak Sapno bukain gerbangnya biar saya bisa masuk " eyel Sea tersenyum imut
" nanti saya beliin pak Sapno ciloknya mbak Ratna deh ya yang porsi jumbo sekalian pancinya " bujuk Sea lagi
" nggak bisa... neng Sea nggak boleh masuk sebelum guru BP datang bapak teh nggak mau ya di marahin lagi kayak waktu itu karena nolongin neng Sea " ujar pak Sapno dengan tegas
" mampus!! kalo pak Irawan muncul bisa beneran dihukum bareng tiang bendera lagi gue!! ngeselin banget sih nih pak kumis " batin Sea menatap pak Sapno dengan jengkel
" ya ampun please pak bantuin saya sekali ini aja ya " ucap Sea dengan wajah yang hampir menangis
" nggak!!! " tegas pak Sapno
Sea menghela nafas kasar menahan kesal sedang pak Sapno juga menatap sea dengan mata mendelik tidak kehabisan akal Sea tersenyum licik lalu pergi ke gang kecil di samping gedung sekolah setelah pak Sapno pergi memanggil guru BK. Dengan sedikit kesusahan tapi Sea tidak menyerah karena jalannya yang terlalu sempit. Pagar beton sekolah menjulang tinggi tapi tetap tidak membuat Sea putus asa gadis itu mengambil tangga yang tergeletak tak jauh darinya lalu dengan menggunakan tangga kayu itu Sea berhasil memanjat pagar lalu melompat.
BUGH
" awww " pekik Sea dengan suara tertahan supaya tidak di dengar oleh guru, gadis itu sedikit mendesis merasakan perih telapak tangannya yang tadi tergesek batu
" gara-gara babang Mimin Ho ni gue jadi telat dan berakhir kayak gini " dengus Sea sembari merapikan lagi seragamnya lalu berjalan mengendap melewati ruang guru
" aduh perih banget lagi ni telapak tangan gue tapi nggak apa-apa deh yang penting gue bisa masuk tanpa harus ketemu tu guru BK killer " ujar Sea tersenyum puas melihat sekelilingnya sudah sepi karena para siswa dan siswi sudah masuk kedalam kelas masing-masing sedangkan Sea masih berkeliaran
BRAKKK!!!
Tubuh Sea menegang karena tidak sengaja menyenggol jendela ruangan kepala sekolah
" Siapa Disana???? " seru seorang guru yang baru saja hendak masuk kedalam ruangan kepala sekolah
" Mampus!!! " ucap Sea yang hampir tidak terdengar
" selamat pagi pak " sapa Sea dengan senyum yang dipaksakan karena seorang guru mendapatinya yang belum masuk kelas padahal jam pelajaran sudah dimulai.
" kamu kenapa belum masuk ke kelas, Sea? " tanya seorang guru
Belum sempat menjawab mata Sea terbelalak melihat siapa yang muncul di ujung koridor sana sungguh bukan ini ending yang Sea harapkan setelah melompat dari tembok tadi.
" itu dia neng Sea nya pak!! " tunjuk Sapno yang datang tergesa-gesa bersama seorang guru dengan tubuh gempal dan kepala plontos belum lagi kumis tebalnya yang tak kalah tebalnya dengan kumis pak Sapno
" demi Patrick yang tinggal di rumah batu kenapa pak Irawan pakek acara muncul diwaktu yang nggak pas sih " sungguh sial nasib Sea pagi ini
" tamat riwayat Lo hari ini, Sea " batin Sea yang bermonolog dengan dirinya sendiri
" Lo liatkan mukanya pak Irawan aja udah kayak mau telan Lo hidup-hidup sampe Lo nggak bisa liat babang minmin ho lagi!! "
" kamu " tunjuk pak Irawan pada Sea
" ikut keruang bapak sekarang!! " ujar pak Irawan yang tidak ingin dibantah dan dengan kaki lemas Sea pun mengikuti guru bertubuh gempal itu, Sea mendelik kesal pada pak Sapno yang tersenyum jahil padanya
" awas aja ya pak Sapno bakalan saya aduin sama mbak Ratna biar nggak dikasih cilok gratis lagi " dengus Sea yang semakin membuat lelaki paruh baya itu cekikikan.
Sea sudah tau bahwa dia akan dapat hukuman lagi dari pak Irawan seperti kemarin-kemarin tapi dia tidak menyangka bahwa hukumannya kali ini juga lebih dari itu karena pak Irawan mengirim surat panggilan untuk kedua orangtuanya. Terik matahari begitu menyengat di kulit putih Sea dengan tangan terangkat hormat gadis itu berdiri di depan tiang bendera keringatnya sedari tadi mengucur membasahi keningnya. Sea seringkali mendapat hukuman dari guru-guru karena kejahilannya dan juga beberapa kali pernah dihukum karena berkelahi dengan teman dikelas nya tapi semua itu tidak menutupi kalau Sea juga sangat di senangi oleh teman-temannya karena dia baik hati tidak sombong, apa lagi semena-memandang seseorang dari latar belakang.
Pak Sapno datang menghampiri Sea yang masih menjalani hukumannya sebenarnya kasihan tapi apa hendak dikata karena ini memang salah Sea yang sering datang terlambat.
" mau ngapain bapak kesini? mau ketawain saya ya " ucap Sea yang terlihat masih kesal namun bukannya tersinggung pak Sapno justru tersenyum
" bapak teh cuma mau kasih neng Sea minuman pasti haus kan? " sahut pak Sapno yang memang sebaik itu pada Sea
" dih sok baik bukan nya bapak senang kan liat saya di hukum " balas Sea tapi tetap mengambil botol air mineral yang dibawa pak Sapno lalu meminumnya hingga setengah.
Sebenarnya pak Sapno itu baik dan Sea juga sangat menghormatinya tapi adakalanya lelaki paruh baya itu harus bersikap tegas pada Sea yang memang jahil dan sering membuat masalah.
Amplop putih itu masih ditangan Sea sejak pulang sekolah tadi gadis itu tidak keluar dari kamarnya dia hanya duduk termenung di tepi ranjang menatap amplop itu, kemudian mata indahnya beralih ke laci nakas di sampingnya dengan perlahan dia membuka laci itu terlihat sudah banyak amplop serupa yang gadis itu simpan ternyata ini bukan kali pertama orangtuanya mendapat surat panggilan dari pihak sekolah.
Sea tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara deru mobil yang masuk kehalaman depan rumah dia tau siapa itu menghela nafas berat sambil menyiapkan hati yang Sea tau pasti akan kembali mereka patahkan, gadis itu beranjak keluar kamar menghampiri mama papanya. Alex dan Jannis memang sudah kembali dari London tapi tetap saja meskipun mereka ada tapi kehadiran mereka justru tak terlihat di mata Sea.
" ma.. pa.." panggil Sea, sang mama dan papa yang baru saja hendak masuk kamar mengurungkan niat mereka setelah mendengar suara sang putri
" aku mau ngomong sebentar boleh? " tanya Sea dengan suara sedikit gemetar
" Sea mama sama papa capek banget karena sepulang dari London belom sempat istirahat " sahut Jannis
" sebentar aja kok ma.. pa.. nggak lama " balas Sea penuh harap
" aduh kalau mau ngomongin hal yang nggak penting besok aja ya, mama beneran capek banget " ucap Jannis
" Sea kamu harus ngerti dong mama sama papa ini capek mau istirahat besok aja kita bicara " sambung Alex lalu masuk kamar diiringi oleh Jannis, begitu pintu kamar tertutup menetes pula airmata gadis itu.
" aku emang nggak penting buat kalian " batin Sea, dengan hati yang patah dan langkah gontai Sea kembali ke kamarnya di lantai dua