Sea sudah siap dengan seragam sekolahnya menghela nafas lelah dia mengambil amplop putih yang semalam tidak jadi dia berikan ke orangtuanya lalu beranjak keluar dari kamar menghampiri mereka yang sudah pasti lebih dulu duduk di ruang makan. Sea kembali menyiapkan mentalnya untuk berhadapan dengan kedua orangtuanya dengan jantung sedikit berdebar gadis itu duduk di kursi samping mama
" ma.. pa.." sapa Sea tapi keduanya malah sibuk dengan iPad masing-masing tanpa menyadari Sea yang sudah duduk diantara mereka
" sepertinya Minggu ini mama harus berangkat ke Jerman karena cabang perusahaan kita disana lagi ada masalah, Papa tidak keberatan kan kalau berangkat ke Lombok sendirian menghadiri acara pembukaan Resort? " tak disangka justru kalimat itu yang keluar dari mulut sang mama
" tidak apa-apa, yang penting semua bisa di handle dengan baik " jawab Alex yang masih menatap iPad nya
" maa paa aku bicara sebentar boleh? " ucap Sea dengan jantung bergemuruh tak berirama
" kamu mau ngomong apa sih buruan mama harus cepat ke kantor karena ada meeting penting, Sea " sahut Jannis juga masih sibuk membalas email dari sekertarisnya
" mama sama papa hari ini bisa ke sekolah aku nggak? " tanya Sea dengan hati-hati
" kenapa? " bukannya menjawab Alex justru balik bertanya
Sea meletakkan amplop putih kehadapan Alex dan Jannis, keduanya saling lempar pandang tapi tidak satupun dari mereka yang mau membuka amplop itu untuk membaca isinya.
" mama sudah memberikan sumbangan untuk pembangunan gedung sekolah kamu apa ini- "
" bukan maa.... ini bukan surat untuk meminta sumbangan " jawab Sea dengan cepat
" lalu? "
" ini surat panggilan dari pihak sekolah " jawab Sea dengan kepala tertunduk
" kamu buat masalah? " cecar Alex tanpa bisa menjawab Sea hanya bisa mengangguk
" astaga Seaaaa kamu bisa nggak sih sekali aja nggak buat masalah!! mama sama papa ini sibuk nggak ada waktu buat ngurusin masalah kamu di sekolah " bentak Alex
" apa lagi yang kau perbuat, hah!! nggak ada habisnya kamu buat masalah " kali ini Jannis yang membentak Sea
" kemarin aku datang terlambat lagi ke sekolah ma " jawab Sea tanpa berani menatap wajah sang mama
" Seaaaa kamu harus tau bagi mama dan papa time is money!! seharusnya kamu juga bisa mengatur waktu kamu sendiri tanpa harus merepotkan orang lain dan merugikan orang lain " ucap Jannis pedas
" kamu tau dengan mama datang ke sekolah kamu hari ini itu sama saja sudah membuang waktu mama dengan percuma karena tidak semua harus tentang kamu!! kamu harus bisa mengurus diri kamu sendiri, Sea. Paham kamu!! " lanjut Jannis dengan suara keras
Sea tidak berani mengeluarkan suara gadis itu hanya bisa menunduk dengan kedua tangan saling bertautan menahan agar airmata nya tidak menetes, dia tidak ingin dianggap lemah.
" maaf kalau aku udah ngerepotin mama sama papa " ucap Sea dengan suara pelan
" Tidak semua hal selesai dengan kata maaf, Sea " sahut Alex
" iya aku tau, karena ketidak pedulian mama sama papa lah yang buat aku kayak gini " batin Sea
" mama saja yang datang ke sekolah Sea bertemu dengan gurunya papa pusing!! punya anak satu tapi selalu buat masalah dan buat malu " ujar Alex nyelekit lalu meninggalkan anak dan istrinya tanpa menghabiskan sarapannya
Jannis menghela nafas kasar sebenarnya dia juga malas untuk datang ke sekolah Sea karena pagi ini dia ada meeting penting dengan rekan bisnisnya.
Tapi mau tidak mau Jannis tetap datang ke sekolah Sea untuk menyelesaikan masalah anaknya itu dia tidak mau membuang-buang waktu karena dia juga ada urusan penting.
Dengan langkah kaki cepat Jannis berjalan menyusuri koridor ke ruangan guru diiringi oleh Sea di belakangnya sepanjang jalan wanita empat puluh tahun itu terus mengomeli Sea sedangkan yang bersangkutan hanya diam tidak berkutik.
" selamat pagi ibu Jannis " Irawan menyambut kedatangan Jannis dengan sopan karena orang tua Sea itu merupakan salah satu donatur disekolah ini, Jannis langsung duduk setelah Irawan mempersilahkan dia duduk begitu pun dengan Sea.
" terima kasih karena sudah datang memenuhi panggilan dari kami " ujar Irawan dan di tanggapi dengan sinis oleh nyonya Alexander itu
" langsung saja pada intinya pak Irawan karena saya tidak banyak waktu " sahut Jannis yang tidak ingin ber basa-basi
" maaf, saya ingin membicarakan soal Sea yang sering datang terlambat ke sekolah memang Sea adalah siswa berprestasi disekolah ini tapi peraturan tetaplah peraturan yang harus di ikuti oleh Sea, belum lagi beberapa hari lalu Sea bertengkar dengan teman sekelasnya itu juga bukan untuk yang pertama kalinya, kami sudah beberapa kali mengirim surat untuk anda apa Sea tidak memberi tahu anda? " Irawan melirik Sea yang masih tertunduk di samping mamanya
Jannis mendelik kearah Sea dia tau anaknya itu memang selalu berusaha untuk bicara padanya maupun dengan sang suami tapi dia tidak menyangka kalau masalah ini yang ingin Sea bicarakan padanya, karena Jannis memang tidak punya waktu untuk bicara dengan Sea. Ralat bukan tidak punya waktu tapi memang tidak pernah meluangkan waktu untuk anaknya.
" akibat dari pertengkaran itu teman Sea harus dirawat di rumah sakit karena luka di bagian kepalanya dan pihak keluarga meminta kami untuk menghukum Sea seberat-beratnya "
" maaf ibu Jannis, kami tau anda juga merupakan salah satu donatur di sekolah ini tapi kami dari pihak sekolah juga harus bertindak tegas dan adil kepada semua siswa yang melanggar aturan karena kami tidak mau dengan adanya masalah seperti ini bisa menjadi contoh yang tidak baik untuk siswa yang lainnya di kemudian hari " Irawan hanya tidak ingin dianggap tidak adil oleh para siswanya.
" saya mengerti maksud anda dan saya pastikan bahwa Sea tidak akan melakukan kesalahan lagi disekolah ini " sahut Jannis
" maaf, karena saya hanya melakukan tugas saya sebagai seorang guru "
" anda tidak perlu minta maaf, saya akan pindahkan Sea ke sekolah yang baru " ucapan Jannis seperti bom yang meledak di kepala Sea
" maa.... " seru Sea yang tidak terima atas keputusan mamanya
" diam kamu Sea!!! " bentak Jannis dengan mata yang menguar emosi
" tapi ma- "
" disini kamu adalah orang yang tidak berhak untuk bicara!! apa kamu tidak malu sudah membuat orang lain terluka? sudah bagus keluarganya tidak menuntut kamu karena tindakan kekerasan!!! bikin malu saja kamu " dengus Jannis dengan geram
Tanpa mengeluarkan satu kata lagi Jannis langsung beranjak keluar meninggalkan ruangan itu dan bergegas pergi dia juga harus cepat tiba di kantor, Jannis melangkah dengan cepat meninggalkan Sea yang masih berusaha mengejarnya dia tidak ingin mendengar alasan apapun dari Sea karena baginya itu tidaklah penting hari ini anak nakalnya itu sudah berhasil membuatnya malu.
Sea menatap nanar mobil sang mama yang sudah keluar dari gerbang sekolah, dia tau sudah melakukan kesalahan melukai orang lain tapi itu tidak di sengaja. Sea memang bertengkar dengan salah satu teman sekelasnya tapi karena dia membela siswa yang dibully dia hanya tidak terima melihat siswa yang tidak mampu di perlakukan tidak baik dan dianggap sampah oleh mereka yang merasa anak orang kaya.