(8) Toleransi Bermasyarakat.

1037 Words
"Jadi serius Mas ngenalin Kak Wafa sebagai pacar Mas sama perempuannya? Siapa tadi namanya? Rani? Kak Rani? Wah kacau banget, Mas nggak kira-kira, memang perempuannya nggak cantik sama sekali sampai Mas tolak sebegitunya banget? Sampai harus membuat Mas mempergunakan cara mendesak kaya gini? Kasian tahu Mas, Mas tega banget, perasaannya pasti kacau balau parah itu karena pemberitahuan Mas, untung nggak nangis di tempat." Dan ini adalah reaksi dan respon Daffa begitu gue sama Mas Azzam mulai menceritakan masalah perempuan yang namanya Rani tadi, walaupun reaksi gue nggak separah Daffa tapi gue awalnya juga mikirin hal yang sama dengan apa yang Daffa omongin sekarang, gue ngerasa kalau sikap Mas Azzam itu sedikit keterlaluan tapi kalau Daffa denger alasan Mas Azzam lagi, Daffa juga pasti bakalan ngerti dan paham, Mas Azzam ngelakuin semua bukan karena Mas Azzam yang mau tapi perempuannya yang susah dibilangin dengan cara halus makanya kudu pakai cara keras begitu, kudu sakit hati dulu baru bisa paham. "Ini bukan masalah cantik nggak cantiknya, kamu bisa ngomong kaya begitu karena kamu nggak ada diposisi Mas, coba bayangin kalau ada perempuan yang terus ada didekat kamu, setiap hari akan selalu muncul dan berusaha mencari segala macam cara untuk bisa mendekati kamu padahal dia udah jelas-jelas tahu kalau kamu itu nggak suka, kamu nggak nyaman tapi tetap memaksakan sikapnya karena juga cuma mementingkan perasaannya sendiri, dibilangin oakai cara halus dan diomongin baik-baik juga percuma, omongan cuma akan dianggap angin lalu, kalau kamu ada diposisi Mas yang kaya gitu, apa kamu akan tetap diam? Apa kamu masih akan berpikir kalau sikap Mas itu keterlaluan? Kamu yang bener aja?" Tanya Mas Azzam ke Daffa dengan sekali tarikan nafas, awalnya gue juga kaget melihat cara Mas Azzam memberikan penjelasan sama Daffa sekarang tapi ekspresi Daffa sekarang udah cukup mewakili ekspresi gue sendiri juga, Mas Azzam paham betul kalau gue sama Daffa beneran nggak nyangka sama sekali sekarang. "Ya Daffa mana tahu kalau perempuannya modelan begitu sekali Mas? Yang ada dalam bayangan Daffa ya itu cuma cinta sepihak jadi nggak harus keterlaluan juga tapi kalau udah begitu kelakuan perempuannya, Daffa rasa kalau Daffa ada diposisi Mas, Daffa juga nggak bakalan tahan, siapa yang bakalan tahan kalau hidup penuh dengan bayang-bayang seseorang yang nggak kita suka? Udah nggak kita suka terus sikapnya juga cenderung mengganggu? Kalau diomongin baik-baik nggak mempan, cara jitu Mas juga nggak ada masalahnya, Mas memang luar biasa, kalau Daffa yang ada diposisi Mas, mungkin yang namanya Rani itu udah nangis sesegukan sekarang." Kali ini Daffa yang lebih mendramatisir menurut gue, ya nggak sampai sebegitunya juga, kasian anak orang kalau Daffa bersikap kaya gitu, gue juga perempuan jadi jangan keterlaluan, apapun masalahnya, semua harus pakai hati dan perasaan. "Nggak perlu ngeliat dari cara kamu, Kakak yakin perempuan yang namanya Rani itu juga udah cukup terluka sekarang, kalau udah terluka, tangisan itu akan mengikuti, kamu nggak harus bersikap berlebihan kalau memang hal yang sama terjadi sama kamu, ingat Dek, kita mau suka sama siapapun, kita nggak bisa milih dan kalau kita nggak bisa milih, nggak ada yang salah dengan perasaan tersebut, yang salah adalah cara seseorang meluapkan perasaannya, istilah memperjuangkan akan membuat seseorang jadi berubah lebih semangat dan kalau udah kaya gitu, apa kamu yakin kalau seseorang akan selalu bersalah? Makanya harus lebih hati-hati dalam menanggapi perasaan seseorang." Kali ini gue yang memberikan jawaban, maksud gue adalah, membalas perasaan seseorang memang bukan kewajiban kita, kita juga berhak menentukan pilihan, cuma, menolak perasaannya bukan berarti kita harus menyakiti perasaannya, bukan berarti kita bisa bersikap sembarangan dengan orang lain, perasaannya nggak salah tapi mungkin cara seseorang memperjuangkan apa yang dia rasakan itu yang berlebihan. "Ya tapi kalau perempuannya nggak ngerti juga masa iya kita harus diam cuma karena nggak mau nyakitin perasaannya? Yakitin perasaan seseorang nggak bisa tapi nambah beban pikiran sendiri boleh? Kakak yang bener aja, cintai diri sendiri lebih dulu baru pikirin orang lain, nah itu baru bener, jangan salah-salah Kak, ya Daffa ngomong kaya gini bukan berarti Daffa membenarkan sikap bodo amatnya seseorang tapi sesekali mementingkan diri sendiri juga nggak ada salahnya, kalau bukan diri sendiri yang menjaga perasaan sendiri lebih dulu, gimana bisa kita berharap orang lain akan mencoba memahami perasaan kita? Nggak ada Kak, orang-orang nggak akan sebaik itu." Daffa keliatan nggak setuju dengan pemikiran gue tadi, gue yang mendengarkan jawaban Daffa sekarang juga nggak menyalahkan Daffa sepenuhnya karena omongan Daffa barusan terkadang juga ada benernya, kalau bukan diri sendiri yang mementingkan diri sendiri lebih dulu? Gimana kita bisa berharap sama orang lain? Orang lain juga nggak akan peduli. "Ya itukan orang lain, Kakak sekarang lagi ngingetin kamu Dek, mementingkan diri sendiri memang penting tapi perasaan orang lain juga bukan hal sepele, intinya itu kalau memang bisa diomongin secara baik-baik lebih dulu, kenapa harus pakai cara egois? Kita itu hidup dalam lingkungan bermasyarakat, nggak boleh egois dan harus punya toleransi juga, nggak bisa sesuka hati dan selalu mementingkan diri sendiri, hidup bermasyarakat itu memang harus beradaptasi juga, kalau nggak kaya gitu, orang-orang akan ngomongin kita dan mereka juga akan memberikan penilaian buruk, memangnya kamu mau dinilai buruk sama orang lain? Kamu mau?" Tanya gue lagi, hidup dalam lingkungan bermasyarakat ya memang harus ada yang namanya toleransi, nggak bisa sembarangan dan sesuka hati kaya gitu, kalau kita egois, orang lain akan memberikan penilaian buruk, tahu aja gimana nggak enaknya denger omongan orang lain yang ngatain kita apalagi kalau yang ngomongin itu tetangga kita sendiri, wah rasanya bisa bakalan lebih parah, bakalan jauh lebih nggak enak, itu yang gue pikirkan. "Kak! Kakak apa-apaan coba? Ngapain pembahasan toleransi bermasyarakat jadi Kakak bawa-bawa dalam omongan kita sekarang? Kenapa pembahasan awal yang lagi kita bicarain itu tentang cinta dan perasaan sepihak malah berujung dengan dengan omongan tetangga? Ini yang bikin pembahasannya jadi melenceng jauh itu kenapa? Bikin pusing tahu nggak, Kakak jangan aneh-aneh apalagi sampai ngomong panjang kali lebar terus menyebar luas ke segala arah begini, kita lagi ngomongin masalah hati bukan masalah ekonomi, haduh, Kakak tercemar banget pemikirannya." Wo wo, gue langsung nimpukin kepala Daffa begitu ni anak ngomong kaya barusan, sekata-kata banget ngomong otak sama pemikiran gue tercemar, sekarang gue tanya, pemikiran siapa yang tercemar? Gue apa Daffa, ngatain Kakak sendiri itu jauh lebih tercemar dan mengecewakan, otaknya udah sampai sebegitunya banget ngomongin gue, nggak ada rem sam rasa bersalahnya sama sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD