(9) Tanya Hati.

1107 Words
"Kalian mau kemana lagi? Masih ada yang mau di beli atau enggak sebelum pulang?" Tanya Mas Azzam ke gue sama Daffa, gue melirik Daffa sekilas yang sekarang memang masih melihat list catatan belanjaan yang di buatnya dari semalam, sambilan nungguin Daffa mikir, ya gue sendiri juga ikutan mikir cuma bukan ikut mikirin barang belanjaan Daffa tapi gue beralih dengan mulai memikirkan barang dan keperluan gue di rumah apa masih lengkap? Kalau memang udah nggak ada atau ada yang udah mau habis bisa gue beli sekarang aja, ketimbang bolak-balik jadi kalau udah kebetulan ada disini kenapa nggak sekalian gue beli sekarang aja? Toh hemat biaya jalan, hemat waktu sama hemat tenaga juga, beli sekarang atau dalam beberapa hari kedepan harga juga nggak akan jauh beda, mungkin sama aja malah, lebih baik gue beli sekarangkan? "Kak! Mas! Da beberapa barang lagi yang belum ketemu, gimana? Mau kita cari bareng-bareng atau Kakak sama Mas Azzam nunggu disini aja, sambilan mesen makan lagi atau apa gitu? Daffa sendirian juga nggak papa, nggak banyak lagi soalnya, gimana?" Tawar Daffa yang langsung gue balas dengan gelengan, kalau memang Daffa masih ada barang yang belum ketemu yaudah Daffa bisa nyari barangnya dan gue juga mau beli keperluan gue sekarang, nggak harus nunggu dan buang-buang waktu lama, kita bertiga bisa mencar atau apa gitukan? Nyari barang dan keperluan masing-masing aja, nanti kalau udah lengkap tinggal kabarin mau ketemuan dimana? Di dekat sini atau di parkiran mobil sekalian, jadi hemat waktu sama tenaga juga, mencar aja. "Dek! Kakak juga mau beli sesuatu, kamu sama sendirian beneran nggak papakan? Terus Mas Azzam kalau mau nyari barang dulu juga nggak papa, kita semua mencar dan kalau udah selesai, kabarin aja mau ketemu dimana? Atau mau ngumpul disini lagi juga nggak papa, biar nggak ribet aja, kalau kita mencar sekarang lebih hemat waktu sama tenaga jugakan? Gimana?" Nah ini respon dari gue, ngapain juga gue sama Mas Azzam tetap duduk disini sambilan pesan makan lagi cuma untuk nungguin Daffa, ya mending mencar dan cari kesibukan masing-masing, perut gue juga udah penuh banget, perut gue nggak akan sanggup nampung makanan lain lagi kalau gue paksain makan sekarang, gue butuh jalan, biar makanannya pada turun semua, tar kalau setelah belanja gue laper lagi nah itu udah beda cerita cuma untuk sekarang memang belum, gue nggak mau makan apapun, lebih baik gue misah sekarang sama mereka berdua, lebij cepat mencar, lebih cepat juga kelarnya. "Mas nggak mau beli apapun, tujuan Mas hari ini ikut kalian ya memang mau nemenin kalian berdua aja, udah lama juga kita bertiga nggak keluar bareng, Mas udah lama nggak nemenin kalian berdua makan, jadi kalau sekarang kalian mau mencar dan beli barang masing-masing yaudah nggak papa, kalian bisa mencar sekarang, kalau udah selesai nanti saling kabari aja." Dan ini adalah respon Mas Azzam, terdengar santai tapi ya memang begini keadaannya, ketimbang saling nemenin buat nyari barang akan memakan waktu yang lebih lama, tenaga juga berkurang karena harus muter-muter kebih jauh, lebih baik kita semua misah sekarang biar makin jelas semuanya, ini yang gue rasa paling aman untuk sekarang. "Kalau memang gitu keputusannya yaudah Daffa biar jalan sendirian, Mas ketimbang bengong dan nggak tahu mau kemana, lebih baik Mas ikut memenin Kak Wafa aja, kan Kakak perempuan tuh jadi pasti lebih butuh di jagain, Daffa laki-laki jadi bisa lebih aman." Gue langsung menolak keras untuk tawaran Daffa barusan, lah ngapain Mas Azzam kudu ikut gue? Gue mau beli barang perempuan, kalau beli barang perempuan ya lebih nyaman dan leluasa kalau sendirian, nggak di temenin laki-laki, Daffa yang ikut nemenin aja gue risih nah Mas Azzam lagi, bisa kesemutan gue disana nanti, nggak berani milih apapun karena nggak enak sama Maa Azzam, Daffa yang masih SMA aja gue larang ikut nah Mas Azzam lagi yang udah jelas-jelas dewasa begini, apa-apaan coba sarannya? Memanglah, umur nggak akan bisa nipu. "Nggak! Nggak ada, Mas Azzam jangan ikut sama Wafa, Wafa mau nyari barang dan keperluan perempuan masa Mas mau ikut Wafa? Nggak ada, Wafa nggak nyaman dan Wafa yakin Mas Azzam juga nggak akan nyaman nanti, lebih baik Mas Azzam ikut Daffa, temenin Daffa, walaupun Wafa perempuan tapi Wafa bukan anak kecil lagi, kalau ada yang harus ditemenin, berdasarkan umur, ya Daffa yang butuh temen, kan masih SMA, jangan di balik." Protes gue dengan cukup jelas, nggak ada ceritanya Mas Azzam ikut gue, gue nggak mau dan gue nggak rela, lebih baik Mas Azzam ikut sama Daffa kemana-mana, paling nggak bisa bantu bawain barangnya, jangan malah ikut nemenin gue, gue bukan anak kecil lagi jaid mereka berdua nggak harus khawatir berlebihan. "Yaudah kalau gitu kalian berdua langsung jalan, Maa biar muter-muter sendirian siapa tahu juga nemu sesuatu, kalau ada apa-apa atau butuh bantuan langsung kabarin Mas, Mas nggak akan jauh-jauh, tapi ingat hati-hati, mau laki-laki atau perempuan, mau anak SMA atau mahasiswi, hati-hati itu tetap penting, apapun kabarin Mas dan ingat, jangan pecicilan, Mas nggak mau denger kalian jatuh atau nyerempet apa gitu, kebiasaan soalnya." Gue sama Daffa langsung saling tatap dengan senyum tertahan mendengarkan omongan Mas Azzam barusan, omongannya udah berasa kaya omelan Bunda yang siap gue bawa-bawa kemanapun, kata hati-hati dari Bunda udah kaya makanan wajib sehari-hari, kemanapun dan kapanpun, Bunda selalu ngingetin gue sama Daffa untuk nggak pecicilan, memang yang terkena asal didikan Ayah sama Bunda begini semua modelannya. "Siap Mas, kalau gitu Wafa jalan sekarang, nanti kabarin lagi ya?" Gue melambaikan tangan gue dan berbalik arah meninggalkan Mas Azzam sama Daffa yang sekarang juga mulai berbalik arah, gue langsung aja jalan untuk nyari keperluan gue, kalau soal barang perempuan memang paling nyaman pergi sama Bunda tapi sendirian juga nggak papa sih dari pada ditemenin Mas Azzam atau Daffa, yang ada mereka berdua bakalan banyak tanya sama banyak ngomel, gue nggak sanggup dengernya, masih gue fokus berjalan sembari memikirkan barang apa aja yang harus gue beli, gue malah nggak sengaja nubruk seseorang sampai kita berdua jatuh kaya gini, nah benerkan, baru juga di ingetin sama Mas Azzam tapi gue udah nabrak orang aja, kebiasaan memang sulit di ubah. "Aduh Mbak maaf, saya nggak sengaja, Mbak nggak papa?" Tanya gue ke Mbak-Mbak yang gue tubruk barusan, untung yang gue tubruk perempuan jadi lebih tenang, kalau laki-laki bisa lebih repot lagi nanti urusannya, ribet. "Iya nggak papa, maaf juga saya nggak hati-hati, kamu nggak papa?" Gue langsung menggeleng cepat, gue nggak papa, sakit sedikit ya wajar namanya juga jatuh. "Kamu nggak papa?" Tanya seorang laki-laki ke Mbak yang gue tubruk barusan lengkap dengan raut wajah khawatirnya, laki-laki yang gue rasa sangat tidak asing untuk gue sekarang. "Baru aja Mas bilangin hati-hati, Fa! Kamu nggak papa?" Kali ini Mas Azzam yang berlari cepat ke arah gue lengkap dengan tatapan khawatirnya juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD