"Wafa nggak papa Mas, Mas sendiri kenapa malah disini?" Tanya gue balik ke Mas Azzam, bukannya tadi kita bertiga udah misah? Mas Azzam ngikutin guekah atau gimana? Gue jadi nggak enak sendiri, udah gue yang nabrak orang malah gue yang diperhatikan secara berlebihan, itu aja udah ngebuat gue makin ngerasa nggak enak.
"Mas khawatir sama kamu, kamu beneran nggak papakan?" Tanya Mas Azzam ulang yang langsung gue angguki cepat, ya gue memang nggak papa, mungkin cuma kurang fokus aja makanya sampai nubruk orang kaya gini, harusnya gue bisa lebih hati-hati lagi, sekarang gue beneran nggak papa tapi gue malah nggak enak sama Mbak yang nggak sengaja gue singgung barusan.
"Wafa beneran nggak papa Mas lagian Wafa yang nubruk Mbaknya, Wafa yang kurang fokus makanya jadi kaya gini." Jelas gue sekali lagi, ya memang beneran karena kesalahan gue jadi kalau ada yang harus di salahkan ya jelas bukan orang lain, gue sendiri yang kurang hati-hati makanya bisa berakhir kaya gini, jadi malu sendiri, cuma ngeliat wajah khawatir Mas Azzam sekarang malah ngebuat gue jadi nggak tega, sampai sebegitunya Mas Azzam khawatir padahal gue cuma jatuh dikit doang, nggak sampai guling-guling di lantai juga jadi Mas Azzam harus bisa lebih bersabar, jangan panik.
"Mbak beneran nggak papakan? Sekali lagi saya minta maaf, saya nggak sengaja." Ulang gue sekali lagi, Mbaknya mengangguk mengiakan sembari mengucapkan kata nggak papa tapi tatapan laki-laki yang nolongin Mbaknya barusan udah natap gue tajam banget, ni orang kenapa? Mau ngajak ribut gue karena gue nggak sengaja nubruk Mbak ini? Mau marah sama gue? Kan udah gue bilang nggak sengaja dan gue udah minta maaf, Masnya mau apalagi sekarang? Beneran mau ngajak gue ribut?
"Lain kali kalau jalan itu pake mata jangan pakai mata kaki, kalau pacar saya kenapa-napa, memangnya kamu mau tanggungjawab? Kalau kamu yang kenapa-napa mah saya nggak peduli tapi nggak dengan pacar saya, minta maaf doang memang gampang tapi kaki pacar saya kalau luka, kalau lecet, kamu mau tanggungjawab?" Tiba-tiba aja Masnya ngegas sampai kaya gini, lah kenapa jadi dia yang lebih lesal, luka? Lecet? Halo Mas, Mbaknya cuma jatuh doang nggak sampai harus bereaksi berlebihan kaya gitu juga, sayang pacar sih sayang pacar tapi ingat Mas, pacar juga belum tentu jadi istri jadi nggak usah berlebihan sampai jaya gitu, mau muntah gue liatnya, kalau pacarnya kenapa-napa memangnya gue mau tanggung jawab? Lah memangnya kalau jatuh kaya barusan, gue harus bertanggungjawab dengan cara apa? Gue bantu berdirikan udah tadi? Apa harus gue bawa ke rumah sakit dulu untui cek apa kondisi pacarnya Mas ini baik-baik aja? Heran gue, sampai sebegitunya banget.
"Maaf ya Mas, saya minta maaf karena sadar saya salah, saya nggak sengaja dan saya udah tanya kok apa Mbaknya baik-baik aja? Mbaknya bilang oke tapi kenapa malah Mas yang berlebihan kaya gini? Sekarang saya tanya sama Mas, memangnya pacar Mas luka? Ada yang lecet? Enggakkan? Kalau permintaan maaf saya masih kurang, jadi Mas mau saya bertanggung jawab dengan cara gimana lagi? Saya harus bersikap gimana lagi sekarang ya supaya Mas bisa jauh lebih tenang?" Sayang pacar tapi nggak sampai sebegitunya juga, bikin orang mikir kalau gue itu nggak punya perasaan banget, gue udah minta maaf jadi apalagi yang mau diperpanjang? Nggak ada kayanya, Masnya aja yang kaya kurang kerjaan sendiri, paniknya berlebihan, lebih dari pada Mas Azzam barusan.
"Makanya lain kali jalan pakai mata, jangan asal nubruk orang, nggak tahu cara jalan atau gimana? Bu_"
"Maaf Mas! Saya rasa Mas sudah sangat keterlaluan, pacar Mas barusan bilang nggak papakan? Terus masalahnya apalagi sama Mas sekarang? Mas mau kita bawa pacar Mas ke rumah sakit untuk periksa sekalian? Boleh Mas, saya setuju, kalau memang kami harus ganti rugi juga nggak papa kalau memang itu yang Mas mau cuma Mas harus tahu satu hal, tolong yang sopan, sama seperti pacar Mas yang sangat berharga sekarang, dia juga sangat berharga untuk saya, jangan kasar." Potong Mas Azzam cepat untuk ucapan Masnya barusan, tatapan Mas-Mas yang sekarang berdebat sama gue juga semakin menjadi, Masnya keliatan kesal tapi nggak tahu harus ngasih jawaban apalagi setelah Mas Azzam ngomong kaya gitu, apa memang masalahnya harus sampai sebesar ini? Gue cuma nggak sengaja nubruk orang pas jalan, cuma jatuh doang dan selebihnya nggak papa lagi jadi yang harus dibikin ribet sama panjang sekarang itu apa sebenernya? Apa? Heran gue.
"Kalau Adik anda bisa berjalan dengan lebih hati-hati saya rasa semuanya nggak akan sampai seperti ini, kalau anda bisa menjaga Adik anda dengan jauh lebih baik? Pacar saya nggak akan jatuh dilantai seperti tadi, apa ada yang salah dengan ucapan saya barusan?" Sambung Masnya makin nggak karuan, gue yang denger malah jauh lebih nggak karuan lagi, omongannya barusan itu beneran bikin telinga gue makin panas tahu nggak, nggak ada aturan sama perasaannya sama sekali, sembarangan ngomong kaya orang nggak punya otak kaya gitu, minta gue timpukin kepalanya tahu nggak?
"Adik? Kapan saya bicara kalau perempuan yang berdiri disamping saya sekarang itu adik saya? Mas terlalu menganggap mudah, saya cuma meminta Mas bersikap lebih sopan, apa sesulit itu bersikap sopan dengan perempuan lain? Bukan cuma pacar anda yang berharga tapi dia juga berharga untuk orang lain, jangan menjadi laki-laki pengecut cuma karena bersikap kasar dengan perempuan lain hanya karena dia tidak berharga untuk anda." Mas Azzam terlihat semakin kesal sekarang, ya sama, gue juga kesal banget ngeliat mukanya ni orang sekarang, kelakuannya beneran bikin orang naik darah tahu nggak, nggak ada sopan-sopannya jadi orang, nggak ada sama sekali, cuma karena pacarnya jatuh, perempuan lain harus menerima sikap sembarangannya kaya gitu, cinta bikin orang nggak waras kayanya.
"Mulut anda jangan sembarangan, kalau bukan adik, apa perempuan yang masih mahasiswi kaya gini adalah pacar anda? Apa mahasiswi bisa memacari lelaki dewasa seperti anda? Anda terlalu banyak berharap." Wah, gue udah nggak bisa sabar ngadepin yang modelan beginian? Kenapa jadi bawa-bawa mahasiswa dengan orang dewasa? Ni orang juga tahu dari mana kalau gue itu masih mahasiswi? Tebakannya suka bener dari tadi perasaan, kacau ni orang, nggak cuma mulutnya yang nggak suka kira-kira tapi tebakannya juga iya ternyata.
"Za! Kamu tahu dari mana kalau dia masih mahasiswi?" Tanya Mbak-mbaknya yang keliatan cukup kaget juga mendengarkan ucapan pacarnya barusan, kalau orang lain aja bisa sadar nah gue apalagi? Gue jauh lebih kaget.