(11) Riza!

1058 Words
"Jawab Za? Kamu tahu dari mana?" Ulang Mbaknya jauh lebih mendesak, gue nggak ngomong banyak tapi Mas Azzam sendiri terlihat cukup penasaran, Mas Azzam keliatan sangat-sangat kaget sekarang memikirkan sikap dan kelakuan laki-laki yang berdiri dihadapan kita berdua, gue udah kaget masih menunggu jawaban atau penjelasannya yang akan di berikan sekarang tapi yang di tanya masih seolah diam dan nggak berkomentar apapun. "Za! Aku tanya kamu, kamu tahu kalau dia ini masih mahasiswi dari mana? Tadi kamu juga bilang kalau mereka berdua adik Kakak, kamu tahu dari mana? Riza! Jawab." Mendengarkan nama panggilan yang di sebutkan Mbaknya barusan, seketika otak gue langsung muter arah, jangan bilang kalau laki-laki yang namanya Riza sekarang beneran Riza laki-laki yang bakalan dijodohin sama gue? Makanya itu dia bisa tahu gue bukan pacarnya Mas Azzam, makanya dia bisa tahu kalau gue masih mahasiswa. "Mbak! Mbak beneran nggak papakan? Kalau beneran nggak papa, saya permisi sekarang ya? Nggak enak juga kalau ribut-ribut terlalu lama di tempat ramai kaya gini." Tanya gue langsung ngalihin pembicaraan, otak gue beneran kosong kalau ternyata ni orang beneran Riza yang mau dijodohin sama gue, udah gitu pas ditanya malah nggak ngomong apapun lagi, yang nanya itu pacarnya pula, dia bahkan punya pacar disaat dia udah tahu kalau dia mau dijodohin? Haduh, beneran nyari pekara ini, nggak bisa gue bayangin lagi bakalan kaya apa rumah tangga gue nanti. "Iya beneran nggak papa." Dan gue langsung mengangguk pelan begitu mendapatkan jawaban kaya gini, gue nggak akan nunggu lama dan memperpanjang apapun, mending langsung pergi. "Za, kamu belum jawab pertanyaan aku, kamu kenal sama dia?" Ulang Mbaknya masih mendesak laki-laki yang namanya Riza untuk menjawab pertanyaannya barusan, gue nggak akan memperpanjang apapun dan gue nggak mau denger apapun lagi juga, diamnya laki-laki yang namanya Riza tersebut malah semakin membuat gue yakin kalau dia beneran laki-laki yang bakalan di jodohin sama gue, makin yakin gue sekarang makanya ketimbang makin panjang urusannya lebih baik gue pergi sekarang, tatapan Mas Azzam juga keliatan jelas kalau dia mulai curiga, jangan sampai Mas Azzam sadar dengan pemikiran gue sekarang, gue nggak mau ada ribut-ribut disini cuma karena Mas Azzam tahu laki-laki ini Riza yang bakalan di jodohin sama gue, apalagi kita ketemu sama pacarnya juga, bisa gawat kalau Mas Azzam marah, ributnya bisa makin parah dari ini. "Dia anaknya temen Papa aku." Jawab laki-laki yang namanya Riza barusan, gue masih bisa denger sekilas sebelum gue narik lengan Mas Azzam untuk pergi, ternyata tebakan gue benerkan? Dia beneran Riza anaknya temen Ayah yang bakalan di jodohin sama gue? Apa anaknya temen Ayah ada Riza yang lain? Kayanya nggak ada, gue nggak mungkin salah orang kalau udah kaya gini ceritanya. "Mas! Kita jalan ke tempat lain aja." Ucap gue begitu menggandeng lengan Mas Azzam meninggalkan laki-laki yang namanya Riza berserta pacarnya sekalian, gue nggak mau tahu apapun lagi, udah cukup untuk hari ini gue dibikin kaget sama sakit kepala, bisa-bisanya laku-laki yang mau dijodohin sama gue itu masih punya pacar, widih, gue nggak bisa berkata-kata, gue nggak tahu harus bersikap gimana sekarang? Apa gue harus bahagia karena bisa ketemu langsung sama calon suami gue hari ini atau gue harus bersedih karena ternyata gue baru tahu kalau calon suami gue itu juga masih punya pacar? Gue harus gimana sekarang? "Fa! Kamu denger apa yang di omongin laki-laki barusan sebelum kamu narik lengan Mas kaya gini? Dia ngomong kalau dia kenal sama kamu, dia kenal karena kamu anak temen Papanya, nah tadi dia juga tahu kalau kamu bukan pacar Mas, dia tahu kalau kamu masih mahasiswi? Apa kalian berdua beneran kenal satu sama lain?" Tanya Mas Azzam ke gue yang terlihat masih cukup penasaran, Mas Azzan terlihat cukup berpikir keras juga sekarang, siapa yang nggak bakalan penasaran kalau udah sampai ke tahap kaya gini coba? Nggak cuma gue, Mas Azzam juga pasti ngerasa aneh dan curiga dari tadi cuma di tahan aja, Mas Azzam belum ngomong apapun tapi begitu Mas Azzam udah buka suara dan nanya secara terang-terangan sama gue, nah baru gue kebingungan sendiri mau ngasih jawaban apa? Gue malah kebingungan sendiri mikirnya mau gimana coba? Kalau gue jujur, Mas Azzam pasti bakalan marah dan nggak akan tinggal diam karena tahu kalau calon suami gue masih pacaran sama orang lain tapo kalau gue nggak jujur, Mas Azzam pasti bakalan tahu dengab sendirinya juga, gue nggak akan bisa bohong kalau sama Mas Azzam, itu juga pekara baru, gue harus gimana coba sekarang? Gue harus ngasih jawaban apaan? "Mas mau Wafa ngasih jawaban gimana?" Tanya gue balik secara singkat, ya mau gimana coba? Gue sendiri bingung mau ngasih jawaban gimana sama Mas Azzam sekarang, intinya kalau gue jujur nggak jujur sekalipun, Mas Azzam tetap akan marah cuma bedanya, kalau jujur Mas Azzam akan marah sama laki-laki yang namanya Riza barusan nah kalau gue bohong, Mas Azzam akan marah ke gue dan pastinya ke Riza juga, Mas Azzam akan merasa dikecewakan, Mas Azzam akan merasa kalau gue nggak menghargai kehadirannya makanya gue sampai nggak ngomong apapun begitu, Mas Azzam pasti balakan tetap marah, apa lebih baik kalau gue jujur aja sekarang? Toh jujur atau enggak, Mas Azzam tetap bakalan marah. "Gimana apanya Fa? Mas tanya kamukan sekarang jadi kamu tinggal jawab, kamu beneran kenal sama laki-laki barusan? Kalau memang kenal kenapa sikapnya malah sampai sebegitunya sama kamu? Kalau memang kamu anak temen Papanya bukannya dia harus bersikap lebih baik bukannya malah memperpanjang masalah nggak penting kaya tadi." Lanjut Mas Azzam memberikan penjelasan apa yang ada dalam pikirannya sekarang, satu lagi yang terpenting, jangab lupakan fakta yang bahwasanya Mas Azzam nggak tahu nama calon suami gue itu siapa? Nggak tahu atau mungkin nggak fokus, gue memang udah cerita ke Mas Azzam masalah perjodohan gue tapi gue belum secara jelas ngasih tahu Mas Azzam namanya siapa? Kecuali kalau Mas Azzam tahu dari Daffa atau orang lain, gue mah nggak tahu cuma yang pasti kalau tahu dari mulut gue, kayanya belum pernah. "Mas mau Wafa ngasih Mas jawaban jujur atau enggak sekarang? Itu yang mau Wafa tahu." Pertanyaan bodoh banget menurut gue, ya gimana enggak, semua orang pasti tahu maunya mendapatkan jawaban jujur, bukan jawaban asal-asalan dari orang lain, gue aja yang nggak jelas nanya kaya gitu. "Apa ada orang yang mau mendengarkan jawaban nggak jujur?" Dan gue menggeleng pelan, setelah meyakinkan hati, gue memilih untuk jujur sama Mas Azzam, gue memilih untuk bicara. "Laki-laki barusan namanya Rizakan? Dia mungkin calon suami Wafa." Jawab gue jujur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD